Ignatius Sunito BULUTANGKIS, BELUM TUTUP BUKU? Selasa, 26 September 2006 pukul 13:48:41 WIB
 | Indonesia tak kebagian satu nomor pun untuk gelar juara, di Kejuaraan Dunia Bulutangkis XV yang berakhir di Madrid Spanyol (24/9/06). Dari target mempertahankan gelar juara tunggal, Taufik Hidayat, dan ganda campuran, Nova Widianto/Lilyana Natsir. Di mana gelar Taufik itu lari kembali ke Cina, Lin Dan, serta munculnya juara dunia baru dari Inggeris, menggantikan ganda campuran Indonesia itu.
Dari 11 pemain Indonesia, semuanya rontok di babak-babak awal dan paling bagus masuk perempat final saja, semuanya ganda putra, Alvin Yulianto/Luluk Hadiyanto dan Markis Kido/Hendra Setiawan. Dari lima gelar juara dunia, empat disabet atlet-atlet Cina. Sementara Inggeris muncul untuk pertama kalinya sebagai juara dunia, pasangan campuran Nathan Robertson/Gail Emms menanti 23 tahun sejarah partisipasi Inggeris di kejuaraan dunia. Mereka menciptakan All England Final melawan rekannya sendiri, Anthony Clark/Donna Kellog.
Di gedung Palacio de Deportes, tempat pertandingan dilangsungkan, Cina mempertunjukkan keperkasaannya melalui Lin Dan serta Xin Xingfang (tunggal putra-putri), Cai Yun/ Fu Haifeng (ganda putra), Gao Ling/Huang Sui (ganda putri). Prestasi Cina ini memang ancaman besar bagi bulutangkis Indonesia dalam waktu dekat ini. Asian Games 2006 di Doha, Qatar, bulan Desember 2006 ini.
Paling tidak ada pertanyaan, sudah waktu kah Taufik Hidayat dkk akan tutup buku? Sementara peristiwa-peristiwa penting sudah menghadang, selain Asian Games, maka Piala Sudirman 2007 yang menjadi arena paling gengsi dunia bulutangkis internasional. BOLA yang setia mengikuti perjalanan bulutangkis Indonesia mencatat, sepanjang tahun 2006 ada 16 turnamen internasional dengan 80 gelar tersedia. Indonesia hanya berhasil menyabet 8 gelar saja.
Kekalahan dan kemenangan dalam olahraga adalah soal biasa. Namun jika kekalahan itu dihubung-hubungkan dengan faktor non teknis, bisa menjadi menarik atau bisa-bisa malah menyebalkan. Agaknya iklim kurang kondusif di luar terutama cermin penyakit yang kini tengah kita derita, tipisnya rasa persatuan dan kesatuan tanpa ampun juga melanda bulutangkis, khususnya suasana Pelatnas Cipayung. Sudah retak dari dalam, kata wartawan BOLA, Broto Happy.
Paling menyebalkan, adalah kasus yang dulu pernah saya ingatkan, yaitu soal pembagian kontrak kolektif “abadi” Yonex yang sudah muncul berapa puluh tahun lalu. Besar pembagiannya selalu menjadi pertanyaan setiap pemain yang merasa mendapat bagian. Tak pernah beres? Siapa pun yang duduk dalam kepengurusan PBSI. Jika ada kekalahan PBSI, kasus ini terus mencuat. Atau malahan dijadikan justifikasi pemain jika menderita kekalahan.
Siapa saja yang diserahi mengurus kontrak “abadi” ini selalu menjadi sasaran tembak, sehingga memakan tokoh-tokoh PBSI, meski yang bersangkutan sebelumnya mempunyai reputasi baik. Begitu juga dengan para ketua umumnya juga ikut tergelincir, sampai periode Chairul Tanjung sampai kini Sutiyoso. Saya ingat ketika kepengurusan Soebagyo HS (jenderal dan sekaligus KSAD) menjelang akhir kepengurusannya juga digoncang masalah itu. Sampai dengan BOLA ikut memfasilitasi hal tersebut, dengan mempertemukan antara atlet dan pengurus.
Saya ingat, Pak Bagyo mengatakan kepada saya di depan pelatih senior, Christian Hadinata. Bahwa ia mencoba meneruskan policy pendahulunya, Jenderal Try Sutrisno yang ketika itu menjabat sebagai ketua umum PBSI, yang memulai kontrak Yonex tersebut. Pada dasarnya, pemegang kontrak adalah PBSI yang besarnya selalu naik turun, sesuai dengan prestasi pemain-pemainnya. Kontrak itu dijadikan dana abadi PBSI, yang selain dibagi kepada pemain juga untuk dana pembinaan.
Dengan demikian, kata Pak Bagyo, uang itu secara transparan bisa dilihat perimbangannya. PBSI tidak menganut profesional murni, artinya kebutuhan pemain masih disubsidi PBSI. Dari fasilitas latihan (bayar gedung, listrik,air) mencarikan pelatih dan membayarinya. Belum kalau ikut turnamen, PBSI mengurus dan membayari tiket. Akomodasi atlet maupun pelatih. Sementara pemain-pemain pro terutama dari Eropa, semua mengurus sendiri. Induk organisasinya hanya mengurus pendaftaran saja.
Sewaktu pertemuan yang difasilitasi BOLA itu terungkap. Sebenarnya hanya penyelesaian administrasi disamping faktor komunikasi saja. Dan setelah itu entah apalagi yang dikeluhkan pemain? Namun kasus itu, kok, selalu muncul lagi, dan kini usai kejuaraan dunia 2006 lalu yang baru saja berakhir di Madrid.
Memang, kalau dilihat keuangan PBSI semakin lama semakin menipis dan defisit. Apalagi Sutiyoso yang menjadi gubernur DKI akan segera usai masa jabatannya tahun 2007. Sutiyoso masuk menggantikan Chaerul Tanjung, dengan sponsor utama, Icuk Sugiarto (kini staf khusus Menpora, Adyaksa Dault). Prestasi PBSI yang terus merosot, pasti menyebabkan Sutiyoso juga kesulitan untuk mencari dana segar. Ditambah ia terus “dikerjai” oleh Persija yang gagal menjadi juara sepakbola dua tahun terakhir ini. Padahal Persija sudah memakan APBD DKI yang jumlahnya cukup besar. Putaran 2005 ini menghabiskan sekitar Rp 26 milyar.
Sutiyoso masih akan menjabat ketua umum PBSI sampai dengan 2008. Lalu, apa yang terjadi sebelumnya di PBSI? Kita berharap PBSI jangan tutup buku dahulu. Mari kita bantu, bukankah bulutangkis itu olahraga kebanggaan kita.
Ya, paling tidak menpora jangan berpangku tangan saja? Ignatius Sunito |