Ignatius Sunito MENANTI BUAH PSSI Jumat, 1 September 2006 pukul 23:54:59 WIB
 | Awal pekan ini penghujung bulan Agustus 2006 mestinya menjadi penentuan penantian bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat olahraga, lebih khusus lagi para gibol, penggila bola. Apa itu? Menanti gelar juara sepakbola dari PSSI, yang sudah hampir dua dasa warsa, menjelang akhir abad ke-20 dan penghujung abad ke-21 sepi prestasi.
Sayang, Dewi Fortuna belum menyayangi Indonesia, khususnya PSSI. Gelar turnamen tradisional Hari Kemerdekaan Malaysia, Merdeka Games ke-38 yang sudah tinggal selangkah lagi, terjegal oleh Myanmar di final. Anak-anak PSSI asuhan pelatih Inggeris, Peter White, itu ditekuk 1-2 oleh anak-anak binaan U-San Win di Stadion Shah Alam, Selangor, Malaysia (29/8/06).
Lima belas tahun sudah masa penantian sejak PSSI terakhir kali menjadi juara di tahun 1991. Pada gelanggang yang sama, PSSI juga pernah menjadi juara tahun 1961, 1962, dan 1969. Bayangkan antara 1969 menuju 1991 atau 21 tahun menanti, setelah itu kemana PSSI? Kemudian diteruskan ketahun 2006, maka pertanyaan yang sama, apakah PSSI tidur?
Kenyataannya tidak, bukan? Kompetisi sepakbola di Tanah Air bergulir terus, terlebih-lebih dua tahun belakangan ini. Selain ada Liga Indonesia dari tahun 1994, ditambah adanya Piala Indonesia, Copa Indonesia, belum yang namanya Bang Yos Gold Cup, kompetisi divisi I sampai dengan III. Ibarat pepohonan yang selalu disiram dan tentu sangat rimbun karena daunnya banyak, tetapi tak kunjung berbuah. Persis, seperti karikatur Si Gundulnya Tabloid BOLA.
Nah, mau tahu apa rencana PSSI menghadapi Piala Asia 2007 di Jakarta. Pemain eks-Merdeka Games 2006, yang tentu dengan rombak sana-sini akan dibawa Ke Birmingham, Inggris, selama empat bulan. Lagi-lagi pelatnas jangka panjang. Agaknya perkara biaya buat PSSI seperti tidak ada masalah. Siapa menyangsikan keunggulan BLI, Badan Liga Indonesia, yang diketuai oleh Nirwan Bakri? dokunya, cing!
Tim lain yang kini juga dipersiapkan oleh PSSI adalah Tim U-23 yang dipersiapkan untuk Asian Games 2006 di Doha, Qatar. Tim itu kini sedang berlatih di SC Heerenveen, Belanda, ditangani oleh pelatih Belanda pula, Foppe De Haan. Target utamanya menjadi tim inti SEA Games 27, yang harus menjadi juara. Pasti, dong ! Pelatnas empat bulan di Belanda itu menghabiskan uang 27 miliar rupiah.
Dari pandangan itu, sebenarnya PSSI tidak main-main untuk menggapai tujuan. Dari Peter White, pelatih bekas pemain Aston Villa itu yang mempunyai reputasi membangun prestasi persepakbolaan Muangthai, didatangkan PSSI dua tahun lalu. Menangani tim nasional Indonesia, hasilnya Bung Peter dijuluki Mr.Runner-Up (Piala Tiger 2005 dan Merdeka Games 2006). Dan PSSI menjadi pecundang SEAG 2005 di Manila, dengan perunggupun sulit diraih. Kini, bagaimana di Piala Asia 2007?
Lupakan Merdeka Games 2006. Menurut Peter White, arena itu bukan untuk target mengejar juara, melainkan arena seleksi menuju Birmingham. Maka tidak menjadi juara Merdeka Games 2006 tidak perlu kecewa. (BOLA 1/9/06). Lha, bagaimana mister, lawan-lawan di turnamen itu yang kesemuanya menurunkan pemain kelas duanya saja, kita tidak bisa menang. Apalagi di percaturan papan atas Asia? Memang, bola bundar, bukan sesuatu yang eksak.
Seperti contoh, Tim Myanmar ketika di SEAG 2005 dilatih oleh Ivan Kolev, pelatih Bulgaria eks PSSI Tiger 2002. Hasilnya nol besar, namun setelah ditangani pelatih domestik sendiri, U San Win, Tim Myanmar menjadi juara Merdeka Games 2006. Orang bilang, pasti ada sesuatu yang salah? Pemain atau pelatihnya?
Kembali ke Peter White yang mempersiapkan pemain menuju Piala Asia 2007, yang katanya butuh pemain pejuang. Di konotasi pemikiran kita, kata pejuang seperti identik di setiap bulan Agustus, bulan HUT Kemerdekaan RI, bulan yang heroik untuk mengenang perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaannya. Pemain pejuang seperti apa kira-kira menurut kriteria Peter White?
Antara pejuang dan pelatnas jangka panjang. Bagaimana menilai perjuangan, kalau hanya latihan-latihan melulu tanpa pertandingan-pertandingan teratur sekelas kompetisi. Coba tengok, alasan kekalahan di Merdeka Games 2006, benang merahnya adalah waktu yang tidak cukup sehingga persiapan fisik pemain tidak maksimal. Hasilnya kedodoran dalam pertandingan 2 x 45 menit. Alasan yang sama sejak saya mengawali karir sebagai wartawan olahraga, 35 tahun yang lalu, dan selalu saya dengar setiap kali PSSI gagal.
Saya kutibkan saja pendapat Ivan Kolev (tiga tahun lalu di Kantor BOLA) ketika PSSI gagal di Piala Tiger. Menjadi pemain berpredikat nasional, masalah fisik dan taktik dasar sepakbola sebenarnya bukan persoalan lagi. Sehingga ketika berkumpul dalam tim nasional, jangan kembali lagi ke dasar-dasar itu lagi. Lho, lha, kok ini berulang kembali.
Dan lebih parah lagi, ketika membaca laporan wartawan Sindo yang baru saja mengunjungi pelatnas Tim U-23 di Belanda. Ketika wawancara dengan pelatih Foppe De Haan, mempunyai kesimpulan dan menjadi judul berita dengan kop segede gajah. “Mereka tidak tahu caranya mencetak gol!" (Sindo 2/8/06). Wah, gawat dong! Padahal mereka tunas-tunas harapan PSSI.
Maka, kita tunggu sajalah, buah prestasi PSSI. Optimis tetap ada! Ignatius Sunito |