Ignatius Sunito ANTARA PAHLAWAN DAN PECUNDANG Rabu, 12 Juli 2006 pukul 14:0:3 WIB
 | Piala Dunia sepakbola 2006 baru saja berakhir (10/706) dengan Italia keluar sebagai juara, setelah di final menundukkan Perancis lewat adu penalti 5-3 (1-1) di Berlin. Pesta olahraga selama sebulan penuh sejak 9 Juni 2006 lalu usai sudah, meski masih meninggalkan sejumlah teka-teki. Sehubungan dengan beberapa kasus yang kini masih menjadi pembicaraan ramai di seluruh dunia.
Kasus bintang Perancis yang dipuja-puja, Zidane, yang terkena kartu merah dari wasit Horacio Elizondo (Argentina) hanya dua menit menjelang pertandingan perpanjangan waktu usai. Zidane terkena provokasi berupa kata-kata Marco Materazzi. Kemudian Zidane menandukkan kepalanya ke dada Materazzi, sehingga yang bersangkutan terkapar di atas rumput. Apa kata pemain Inter Milan itu? Masih diperdebatkan sampai saat ini, karena menurut Zidane, Materazzi mengeluarkan kata-kata serius kepadanya yang pada saatnya akan ia buka.
Namun pada perkembangan terakhir, menurut ahli pembaca bibir dari Inggris, Jessica Rees yang khusus disewa oleh koran The Times, Materazzi mengatakan dalam bahasa Italia, “anak pelacur teroris”. Demikian juga dengan tindakan serupa dari Stasiun TV Brasil, Globo, dalam program Fantastico, yang kurang lebih sama. Sebuah gumam Materazzi penghinaan terhadap kakak perempuan Zidane, dan satu kali umpatan.
Menurut Materazi, ia membantah kalau menyebut ibu sebagai pelacur, karena figur ibu terlalu sakral baginya, akibat ia kehilangan ibu sejak kecil. Hanya gara-gara ia memegang kaus Zidane, dan Zidane membalasnya dengan pandangan “menghina” dari ujung kepala sampai ujung kaki Materazzi. Sambil berkata, “Kalau engkau naksir kausku, saya kasih usai pertandingan”. Wah, yang benar yang mana? Kasus ini terus dibicarakan orang di seluruh dunia.
Teka-teki kedua adalah nasib klub Juventus, AC Milan, Lazio, dan Fiorentina yang pemainnya menjadi tulang punggung Sang Juara Dunia itu. Kasus skandal pengaturan skor, Calciopoli, yang sedang menjalani peradilan di Roma, Italia. Jaksa penuntut umum, Stefano Palazzi, telah mengeluarkan tuntutan degradasi ke Seri C atau lebih rendah lagi kepada klub Juventus, yang dinilai mempunyai kesalahan paling berat. Sementara pengacara Juventus minta keringanan dengan degradasi ke Seri B, sama dengan tuntutan kepada AC Milan, Lazio, dan Fiorentina.
Squadra Gli Azzuri dari 23 pemain, 13 orang di antaranya berasal dari klub-klub bermasalah tadi. Sebut saja dari Juventus, Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, Alessandro Del Piero, Gianluca Zambrotta, dan Mauro Camoranesi. Kemudian AC Milan ada Nesta, Gattuso, Pirlo, Gilardino, dan Inzaghi. Sementara Lazio adalah Peruzi, Massimo Oddo. Sedangkan Fiorentina diwakili Luca Toni. Bayangkan, terutama Juventus yang pemainnya kelas dunia dan tulang punggung tim nasional, harus bermain di Seri C1, Liga kampungan atau tarkam, kalau ukuran Indonesia.
Turnamen sepakbola Piala Dunia, seperti sebuah perjalana siklus kehidupan, di mana para pelakunya pada suatu saat di puja-puja sebagai pahlawan, di saat lain diperlakukan sebagai pecundang. Contoh kasus Zidane yang semula dipuja bak pahlawan, oleh harian L’Equipe dikatakan sebagai contoh buruk kepada anak-anak yang mengidolakannya. Judulnya adalah “ Penyesalan Abadi”. Pemain Perancis lainnya, David Trezequet, yang gagal tendangan penaltinya dikatakan sebagai pecundang dan patut bunuh diri, kalau punya rasa malu. Padahal, Trezequet, pahlawan Perancis di final Euro 2000, dengan gol sudden deathnya melawan Italia.
Luar biasa adalah olok-olok yang ditujukan kepada Inggeris. Masih ingat, ketika tim Inggeris lolos dari lubang jarum penyisihan Euro 2002 grup 9 Zona Eropa, mengkandaskan Jerman 5-1 di Muenchen. Pelatih Sven Goran Erikson, dipuji sebagai Sven-sational, dan Michael Owen disebut lebih gila lagi, Hero-Wen, karena goal hattricknya. Kini, usai PD 2006 ketika Inggeris dipecundangi Portugal dengan kalah adu penalti di perempat final. Sven, cepat-cepat mundur sebelum dipecat disebut pers, Inggeris kini lebih aman, karena Sven-Days without Sven! Tujuh hari tanpa Sven Goran Eriksson.
Kapten Inggeris, David Beckham, diperlakukan lebih sadis lagi. Kata-katanya sebelum PD 2006, Inggeris layak jadi juara. Setelah mencoba Paraguay, Trinidad Tobago, Swedia, Ekuador, dan Portugal, dipelesetkan menjadi ternyata Inggeris layak untuk tidak menjadi juara. Bahkan Sven Goran Eriksson terkena “bogem mentah” dari pelatih diturunkan derajatnya sebagai penjual HP dari pintu ke pintu, kendaraannya pun bus umum. “Dan sekarang kalau kita membicarakan Sven, anggap saja sebuah kisah lelucon.” Demikian pers Inggeris.
Coba bandingkan dengan Italia yang kini sedang dilanda suka cita kemenangan. Penuh puja-puji kepada seluruh pemainnya bersama pelatihnya Marcello Lippi. Bintang Republik, tanda jasa tertinggi di negeri itu, segera dipasang di dada masing-masing oleh Presiden Italia sendiri, Giorgio Napolitano.
Bahkan pemain-pemain sepakbola Italia adalah simbol seks. Menurut penelitian, gairah seks wanita Italia meningkat sehabis menyaksikan pertandingan sepakbola. Bintang-bintang Italia seperti Fransisco Totti, Fabio Cannavaro, Andrea Pirlo, adalah sebuah lambang kejantanan, dengan membayangkan postur kebugaran mereka, paha, dan bentuk kaki. Dan menurut koran Il Messagero, sah-sah saja kalau para wanita membayangkan “selingkuh” dengan mereka, ketimbang harus selingkuh beneran. Waduh!
Menang itu nikmat. Kalah itu menyakitkan! Ignatius Sunito |