Ignatius Sunito USAI PD 2006,MENCARI LAGI INSPIRASI BARU Selasa, 27 Juni 2006 pukul 15:32:47 WIB
 | Hampir tiga minggu pertandingan sepakbola PD 2006 berlangsung sejak tanggal 9 Juni lalu, bukan saja di Jerman sebagai pusat “gempa” tetapi tidak saja getaran dan gelombangnya, bahkan guncangannya terus menerus terasa ke seluruh pelosok dunia. Terutama Indonesia, meski harapan tim nasional PSSI menuju ke sana makin jauh, angan-angan, toh tak ada salahnya menjadikan PD sebagai sumber inspirasi.
Semua tercermin dalam pemberitaan media massa, yang taruhan untuk media cetak, pasti media di Indonesia akan menang dibandingkan dengan pemberitaan media-media di luar negeri. Sayang, FIFA tidak mengadakan lomba penulisan terbaik PD 2006. Media cetak kita mengalami euforia sejak abad Reformasi 1998, tak ada halangan untuk menambah jumlah halaman berapa pun. Deregulasi SIUPP di zaman pasca Orba dengan akibat rontoknya fungsi Departemen Penerangan, menjadikan media cetak leluasa memberi tempat untuk pemberitaan PD 2006.
Media yang mempunyai SDM tangguh di bidang olahraga, plus mencari nara sumber yang pas sebagai komentator, merupakan gedoran untuk memainkan medianya. Pilih saja gaya Tango, Samba, Total Football, Catenacio, dst yang semuanya padu dalam permainan cantik untuk memuaskan pembaca. Tak heran dari seorang pastor, kyai, pendeta, filosof, sosiolog, psikolog, budayawan, dramawan, rektor, dosen, selebrities, pejabat eksekutif, judikatif, legislatif, mendadak fasih bicara sepakbola. Dan pasti mereka dari kalangan olahraga sendiri, termasuk komentator- komentator amatiran.
Tak heran ada humor yang beredar, bahwa FIFA sudah mengeluarkan hasil survey terakhir tentang keistimewaan ciri-ciri fisik etnis tertentu. Semua untuk mendukung persepakbolaan. Kalau dari Afrika, adalah mempunyai tungkai-tungkai yang kokoh. Amerika Latin adalah kelenturan urat tubuh, Eropa volume otak, Amerika kekuatan otot kaki. Sementara Indonesia adalah, urat dan tulang rahang yang lentur. Alias sangat bagus untuk komentator.
Pendek kata, dari ajang sepakbola menurut ukuran Indonesia bisa dikomentari dari sudut mana pun, tergantung latar belakang para komentator. Semuanya memuji seolah-olah sepakbola ini adalah satu-satunya sarana untuk sebuah sifat dan tingkah laku yang terpuji. Melebihi Pancasila atau doktrin apa pun, dan cermin jika Indonesia ingin maju. Contoh seorang sosiolog akan berkata, bahwa sepakbola adalah salah satu sarana untuk menjalankan transformasi sosial dalam kehidupan berbangsa. Terutama Indonesia untuk mengejar ketinggalan dan keterbelakangan.
Nah, ini langsung berhubungan dengan dunia nyata kita. Lha, iya sekarang ini ketika terjadi prahara dunia pendidikan nasional, dengan adanya ujian nasional (Unas) SMU 2006. Banyak pelajar yang pandai dan potensial (termasuk peserta Olimpiade Fisika, Alex Arida, dari Salatiga, Jateng) tidak lulus. Prahara antara partisipan, dari murid/orangtua, guru, Depdiknas, DPR, dan wakil presiden. Penyelesaiannya tak kunjung datang. Antara kejar paket C dan ujian ulangan, seperti menghitung bunyi tokek.
Lengkap sudah segala derita bangsa ini, yang sudah terlanda bencana alam dengan segala bentuk, dari gelombang tsunami, gempa, tanah longsor, gunung berapi, banjir bandang, lumpur panas. Belum masalah politik, sosial, hukum, ekonomi, agama. Khusus untuk bantuan korban-korban bencana alam, kabarnya Departemen Sosial RI sudah nyaris bangkrut, karena dana bantuan sosialnya sudah habis.
Di tengah bencana ini, sepakbola Indonesia sepertinya masih mendapat prioritas demi mengejar prestasi Asian Games 2006 di Doha, Qatar. Pelatnas tim U-23 di Belanda disediakan dana Rp 16 milyar, yang keluar dari kocek Ketua BLI, Badan Liga Nasional, Nirwan Bakri. Bandingkan, Nirwan, yang juga pemilik PT Lapindo Brantas, yang kini terlibat dan penyebab banjir lumpur panas yang menggenangi daerah Kabupaten Sidoardjo, Jatim. PT Lapindo hanya menganggarkan Rp 2 milyar saja sebagai ganti rugi, di mana limpahan lumpur panas itu menyebabkan 6000 orang mengungsi meninggalkan rumahnya. Lalu, bagaimana nasib pabrik-pabrik di daerah itu yang berhenti produksi?
Nah, di tengah penderitaan ini, dan di tengah-tengah pengungsian PD 2006 hadir melalui layar kaca, TV, sebagai penghibur. Momen yang bisa dipetik, misalnya pertandingan “brutal” Belanda- Portugal (4 kartu merah, 16 kartu kuning ), toh tidak membuat tawuran. Atau gol penalti Fransisco Totti, pemain Italia di menit ke 95, injury time, lawan Australia. Berakhir aman-aman saja. Jika hal itu terjadi di pertandingan LI, Liga Indonesia? Lha, tahu sendiri, lah!
Memang pantaslah, mencari inspirasi di Piala Dunia 2006.
Dengan banyaknya bencana yang menimpa Indonesia, sepertinya guyon dari pengungsian bisa kita jadikan renungan. Katanya, Presiden SBY itu, Sering Bencana, Ya? Dan wapresnya, Kalla, itu berasal dari Betoro Kollo, dewa bencana di khasanah pewayangan.
Aih, ada-ada saja! Ignatius Sunito |