PRINT EDITION | FORUM DISKUSI | AGENDA | PHOTOFOLIO | EURO 2008
BALAP
BASKET
BULUTANGKIS
OLE! INTERNASIONAL
OLE! NASIONAL
TENIS
TINJU
CABANG LAIN
Home  >  SUNITO



Ignatius Sunito
UNITED WE PLAY, UNITED WE WIN!
Selasa, 20 Juni 2006 pukul 17:17:41 WIB
   Demikian slogan tim AS di Piala Dunia 2006. Meski dalam pertandingan AS melawan Italia harus diwarnai tiga kartu merah, dua di antaranya diterima oleh pemain AS, Mastroeni dan Eddie Pope. Kemudian wasit asal Uruguay, Jorge Larrionda, juga mengganjar dengan kartu yang sama terhadap pemain Italia, Daniele de Rossi. Partai yang menurut para pengamat, bisa mencederai keagungan sepakbola PD 2006.

Pasti pertandingan itu juga disaksikan oleh jutaan bahkan miliar pasang mata penonton di seluruh penjuru dunia, terutama di Italia dan AS sendiri. Adegan AS vs Italia sepertinya biasa-biasa saja, dengan bandingannya adalah pertandingan kompetisi LI, Liga Indonesia. Menjadi tidak biasa karena para gibol, penggila bola menganggap bahwa PD adalah arena sakral. Tontonan untuk manusia beradab, lebih-lebih jika yang nonton para gibol Indonesia.

Bayangkan, menjelang maupun tengah berlangsungnya PD sekarang ini, banyak tulisan-tulisan dari berbagai pakar adalah pujian setinggi langit kepada sepakbola. Seolah-olah permainan para dewa-dewa, tak terpikirkan bahwa dewa-dewa juga bisa bermain kasar dan keras. Para bonek Indonesia pasti pada tertawa sinis melihat aduan AS- Italia itu. “ Lha, ternyata, ya, sami mawon, sama saja dengan kita,” demikian kira-kira.

Sekedar illustrasi, bagaimana pandangan begitu sakralnya PD dibandingkan dengan persepakbolaan Indonesia, seperti yang ditulis oleh seorang pembaca SK Kompas. Sebenarnya unsur yang dibutuhkan PSSI agar ditakuti timnas negara lain sudah komplet. Ketua umumnya napi, supporternya bonek, pemainnya bisa tinju dan taekwondo. Lalu jika FIFA keberatan dengan status ketua umumnya, PSSI bisa mengerahkan ormas tertentu atau organisasi preman agar mendemo pejabat FIFA. Bahkan mengusirnya dari Jakarta dan Indonesia. Demikian kata Rizqiani dari Parung, Bogor.

Maka sepakbola juga bisa seperti demokrasi. Bisa dimainkan secara cantik atau kasar bahkan kekerasan, tergantung siapa pemainnya? Sepakbola PD, bagi yang memandang sakral, dimainkan oleh orang-orang yang terpilih. Dalam arti terpelajar, cerdas, dan bijak, maka cantiklah permainan untuk dilihat. Sayangnya, sepakbola ini milik bersama, persis seperti demokrasi. Oknum maupun ormas-ormas preman tak ada larangan main sepakbola maupun berdemokrasi.

Nah, yang terakhir ini yang bikin kacau persepakbolaan Indonesia, terutama akhir-akhir ini. Bak sejarah sepakbola Indonesia tak pernah mengalami atau mencatat kebaikan. Padahal ketika Ir. Soeratin mendirikan PSSI tahun 1930, tak terbayangkan bahwa organisasi yang mempunyai nilai-nilai luhur ini akan dipimpin oleh seorang napi. PSSI semula juga sebagai wadah perjuangan bangsa.

Masyarakat atau orang lupa, bahwa Indonesia pernah ikut serta PD tahun 1938 di Perancis, sekalipun dengan nama Dutch East Indies, Hindia Belanda. Pemain pribuminya sudah mencerminkan kebinekaan. Masih ingat, tidak? seperti Hong Jien, Moheng, Anwar Sutan, Nawir, Soedarmadji, dan Isaak Pattiwael. PD pertama dan ternyata juga terakhir?

Sepakbola multi demensi, bagaimana cara memandangnya saja? Bisa dipandang sebagai simbol kapitalisme global, yang menyerang ke seluruh penjuru dunia dengan imbas demam massal. Katakan AS sendiri, yang sejarahnya bahwa sepakbola adalah olahraga yang paling tidak disukai di negeri itu. Bahkan rakyatnya menghujat dengan gampangnya, bak seperti sekarang ini di Indonesia, bahwa yang berbau Barat itu, haram. Namun dalam perkembangan, AS malahan menjadi tuan rumah PD 2004. Berarti AS menjadi korban globalisasi.

Sementara persepsi di Indonesia, khususnya kelompok tertentu, bahwa AS itu adalah setan globalisasi. Jadi setan termakan setan. Asumsinya, globalisasi itu setan beneran. Sepakbola ternyata bagian dari globalisasi, yang merambah sampai ujung-ujung tanah, Tanah Air Indonesia. Mudah-mudahan tidak ada Peraturan Daerah, perda, yang melarang sepakbola.

Terlepas dari setan menyetan, slogan yang dipakai oleh timnas AS, United We Play, United We Win sungguh cerdas. Penduduk AS adalah campuran dari berbagai bangsa, terutama turunan para imigran, yang kemudian menyatu menjadi satu nation, Amerika Serikat. Slogan itu mencerminkan kekuatan dan simbol persatuan dan kesatuan. Bermain bersama, menang bersama.

Sungguh slogan yang indah, meski sebenarnya Bhineka Tunggal Ika lebih indah. AS bisa menciptakan slogan itu yang memang cerminan sebuah nation dengan segala implementasinya. Jujur saja, setiap warga negara AS merasa terlindungi oleh negara dan bangsanya yang tercermin dalam pemerintahannya, siapa saja yang lagi berkuasa.

Sementara kita, bapak-bapak bangsa memelopori agar Indonesia nanti menjadi rumah yang aman untuk dihuni oleh semua warga negara. Tanpa kecuali etnis, agama dan kepercayaan, golongan apa pun juga kelak. Tercermin dengan adanya Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI. Meski sudah berjalan hampir 61 tahun, belum tercapai.

Justru kita sekarang, Devided We Play, Devided We Win! Dan suburlah ormas-ormas preman di mana-mana. Sampai PSSI pun punya ketua umum napi.

Jangan sampai, RI mempunyai presiden preman? (ketok bumi Indonesia dengan pukulan tangan tiga kali)

Ignatius Sunito
SPORTS NEWS

Tour de France
REBUT ETAPE 19, SASTRE MENATAP JUARA

Bursa Transfer
HSV PERTAHANKAN VAN DER VAART

Transfer Pemain
MUNTARI GANTIKAN LAMPARD

Bursa Transfer
CALDERON SAMPINGKAN ETO'O

Masa Depan Lampard
DUKUNGAN DARI CAPELLO

Transfer Pemain
FIORENTINA IKUT KEJAR ARSHAVIN

Tour de France
BURGHARDT GEMILANG, SASTRE MASIH DIPUNCAK

Persires
BERENCANA BANGUN STADION

Divisi Satu
PERSIRES BUKA PELUANG KE DIVISI UTAMA

Transfer Pemain Sunderland
GAET TAINIO, CHIMBONDA MENYUSUL

ARSIP

Ignatius Sunito
UNITED WE PLAY, UNITED WE WIN!

Ignatius Sunito
DI LUAR GELANGGANG PD 2006
DAN BUDAYA MALU

Ignatius Sunito
SEPAKBOLA PD 2006 PEMERSATU, PANCASILA?

Ignatius Sunito
SCHUMACHER DIANTARA PENEGAK ATURAN

Ignatius Sunito
SEANDAINYA ADA 10 AA GYM

Berita Lainnya ...

 

© BolaNews.com - Logo and web content are trademarks of PT.Tunas Bola. All rights reserved.
Developed by WEBPACIFIC