|
|
 |
Home
>
SUNITO
Ignatius Sunito DI LUAR GELANGGANG PD 2006 DAN BUDAYA MALU Selasa, 13 Juni 2006 pukul 14:21:5 WIB
 | Piala Dunia Sepakbola 2006 kini berlangsung riuh rendah di Jerman berkat kemajuan teknologi informasi. Tak ketinggalan suasana itu juga mengimbas di Indonesia, yang kini masih dirundung duka, terutama duka gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Selain juga ancaman gunung Merapi, Jateng, maupun luapan lumpur panas yang kini tengah menggenangi daerah Sidoardjo, Jatim.
Selama tiga hari sejak pembukaan PD 2006, para gibol, penggila bola Tanah Air juga dibuat riuh rendah dengan keluarnya seorang presenter PD di stasiun TV SCTV, yang memegang hak siar tunggal PD 2006 di Indonesia. Siapa dia? Adalah Titiek Soeharto, yang sebelumnya telah muncul bak sinterklas. Bagi-bagi uang di daerah susah, Rp 100 juta untuk pengungsi Merapi di Magelang. Kemudian Rp 1 milyar untuk korban gempa Yogyakarta di Bantul.
Para gibol yang berkumpul di sekitar pesawat TV sewaktu pembukaan PD 2006, menyongsong pertandingan pertama PD antara Jerman VS Kosta Rika, begitu kaget melihat wajah putri penguasa Orba itu. Tidak main-main menjadi presenter utama PD 2006, didampingi Dali Taher dan Danurwindo. Meski sepakbola sudah menjadi milik rakyat, dan menjadi pengetahuan umum hampir semua lapisan masyarakat. Namun menjadi presenter olahraga terutama PD butuh kriteria tertentu.
Para gibol boleh dongkol, tetapi coba simak siapa pemodal SCTV? yang kini di bawah kendali PT Surya Citra Media Terbuka. Di mana modal terbesar dimiliki oleh PT Abhimata Mediatama milik Titiek Soeharto, anak ke-4 Soeharto. Meski sebuah penampilan yang dipaksakan, tetapi unsur paksaan dibantah habis oleh Humas SCTV. Titik adalah simbol ibu-ibu yang mencintai sepakbola dan untuk menggairahkan cinta ibu-ibu kepada sepakbola, kata sang Humas. Secara harafiah bisa benar. Jangankan Titiek, bakul jamu, mbok-mbok jamu gendong yang setiap sore beredar di perumahan di mana saya tinggal, juga bola maniak. “Niku lho, mas, Totti, lhak nggih leres to namine. Wah, kulo kedanan tenan niku kalih Totti. ” Begitu ungkapan kesengsemannya sama Fransisco Totti, pemain AS Roma yang kini memperkuat Italia.
Sayangnya mbok jamu tak punya modal yang ditanam di stasiun TV. Bisa jadi presenter dia? Alasan apapun, kehadiran Titiek yang “bau sponsor” seperti tak terbantah. Sehingga suasana PD 2006 di Indonesia semakin “panas”, tak ketinggalan suara pro dan kontra, bahkan di dalam BOLA sendiri. Bagi yang pro, dengan alasan demokrasi adalah sah-sah saja. Bagi yang kontra, kok, budaya malu sepertinya sudah menjadi barang langka. Atau nggak mau rugi? Siapa yang nduiti, perlu tampil diri, bagaimana kalau tidak ada aku? Kau-kau, tak akan dapat melihat Totti di layar TV.
Coba simak lagi tutur bahasa Humas SCTV, Agung Nugraha, “Kami telah mempersiapkan kejutan dalam penyuguhan acara PD. Termasuk figur Ibu Titiek.” Yooi! memang kita benar-benar terkejut. Tidak terkejut bagi mereka yang mempunyai latar belakang komunikasi, terutama politik. Di mana fenomena-fenomena utama kalau bisa akan dijadikan “ kuda tunggangan” promosi. Tujuannya macam-macam.
Kita urut saja sejak isyu mengadili Soeharto merebak. Opini dikuasai oleh pro adili Soeharto. Cendana tidak tinggal diam antara lain bagi-bagi uang kepada orang susah. Kroni-kroninya (memang jaringannya masih kuat) melancarkan promosi Soeharto sebagai bapak pembangunan dan sekaligus pembunuh komunis di Indonesia. Kini, anti komunis lagi digerakkan kembali sebagai isyu nasional oleh kelompok tentara. Semuanya menuju satu muara “ kebangkitan kembali Cendana “
Apalagi putra-putrinya menguasai jaringan stasiun-stasiun TV. SCTV di bawah kendali Titiek, Bambang Trihatmodjo dengan RCTI, Global TV, MNC, dan Tutut di TPI. Media TV sudah membuktikan sebagai sarana informasi yang mengena dan menusuk, terlebih-lebih jika masuk di “akar rumput”, grass root yang sebagian besar memang pemirsa TV-TV kita. Tinggal bagaimana pandai-pandainya memilih acara sebagai “kuda tunggangan”.
Persaingan stasiun TV di Indonesia sudah memasuki bisnis saling beli jurus-jurus pukulan yang berdarah-darah. Saling bajak SDM, mengingat SDM TV jumlahnya masih terbatas terutama manusia kreatifnya. Dunia bajak membajak SDM juga tidak mendongkrak masing-masing stasiun TV, karena mereka masih membawa kreativitas lama ke tempat yang baru. Jadi program baru dan mengejutkan itu bentuknya seperti apa? Ya, mungkin bentuk Titik sebagai presenter OR itu. Weleh, weleh!
Dunia TV bak dunia sinetron, dunia imitatif yang dalam sekian detik bisa menyulap seseorang menjadi selebritis. Bukan dunia realitas karena dibentuk tidak sesuai gambaran yang otentik. Lha, coba pemunculan Titiek sebagai presenter olah raga, citranya ibarat ditinggikan secara paksa, akibatnya malah menyesatkan bahkan sebuah kejatuhan bagi yang bersangkutan.
Benar dan sah SCTV sebagai pemegang tunggal hak siar PD 2006, boleh melakukan apa saja. Namun pemirsa, terutama gibol, juga merasa keberatan (meski tidak ada iuran SCTV) karena acara kegemarannya “dilukai “, sehingga tayangan PD 2006 SCTV ini sebagai tayangan pembodohan.
Janganlah menganggap semua orang bodoh seperti di jaman Orba dahulu, sehingga mereka yang berkuasa bisa berlaku seenaknya. Justru kini peranan media lah yang harus membuat bangsa ini selain cerah, cerdas, berakal dan berbudi. Justru SCTV mengambil langkah mundur.
Selamat menonton lagi pertandingan sepakbola PD 2006. Ini, kan sebuah intermezzo! Ignatius Sunito |
|
 |

|