Ignatius Sunito SEPAKBOLA PD 2006 PEMERSATU, PANCASILA? Selasa, 6 Juni 2006 pukul 16:47:55 WIB
 | Piala Dunia Sepakbola 2006 di Jerman segera dimulai (9/6/06) dengan pembukaan di Stadion Alianz, Muenchen, dan final di Berlin (10/7/06) yang berarti sebulan kita akan dimanjakan sebuah tontonan, yang namanya pertandingan sepakbola. Bukan sembarangan tontonan, tetapi atraksi suguhan permainan manusia-manusia terpilih yang mewakili bangsa dan negara di dunia ini.
Demam PD 2006 sudah dimulai setahun sebelum hari H, dan terlebih-lebih satu bulan belakangan ini. Semua media, baik cetak maupun elektronik berlomba-lomba membuat laporan menyongsong peristiwa bersejarah ini. Terutama jika mencuplik sejarah PD, bukan Perang Dunia, semua sudah tersusun secara rapi. Tidak saja dokumentasi media-media Indonesia sendiri, terlebih-lebih media asing. Sebuah fakta sejarah tanpa rekayasa, sejarah yang benar-benar valid.
Jika Anda berminat menulis tentang Brasil misalnya, sang favorit setiap kali PD atau negara-negara lain yang kini masuk dalam 32 besar dunia PD 2006. Anda akan menghadapi sejarah yang sama dan sebuah fakta yang akurat. Jika Anda keliru menulis tentang sejarah PD ini, meski hanya keliru menulis tahun sekali pun, atau sebuah nama, hampir semua orang tahu akan kekeliruan itu. Anda bisa menjadi bahan tertawaan, lebih-lebih yang menertawakan anak-anak sekolah SMP/SMU.
Sepakbola PD seperti membius setiap orang, sekali sepakbola PD, bukan sepakbola atau persepakbolaan Indonesia? Banyak pakar filsafat menuliskan jiwa dan semangat di dalam sepakbola PD ini. Terlebih-lebih jika dihubungkan dengan sistim masyarakat yang terbuka, pluralistis, demokratis, egaliter. Seperti kata Richard D. Mendell, seorang sosiolog agama, sepakbola mengutamakan merito demokrasi, dan atas pencapaian prestasi yang teruji. Ada rasa membebaskan, mengilhami, dan secara moral juga indah dan suatu permainan yang adil.
Di berbagai negara, terlebih-lebih di benua Amerika Latin, sepakbola ibarat civil religion, dan terus menjalar ke Eropa dan kini bahkan seantero dunia. Sepakbola mempunyai tata cara ritual. Olahraga paling kosmopolitan, dan ditegaskan pula oleh Mendell, bahwa prinsip masyarakat demokratis adalah adanya kesempatan berjuang semaksimal mungkin, untuk mencapai prestasi terbaik. Hal itu bisa dicapai karena masyarakat yang terbuka, artinya setiap orang mempunyai kesempatan yang sama. Terlebih-lebih kalau dikaitkan dengan kita, di Indonesia.
Coba lihat, logo PD 2006 yang sudah diluncurkan empat tahun silam, tepatnya tanggal 20 November 2002 di Stadion Gelsenkirchen, kandang klub Schalke 04 oleh President OC PD 2006, Franz Beckenbauer. Sebuah logo gambar bola tertawa, celebrating Faces of Football, dengan slogan Die Welt zu Gast bei Freunden, atau Friends Invite The World, intinya Jerman akan menyambut tamunya dengan senyum dan kehangatan.
Apakah logo itu dibuat oleh orang Jerman? Ternyata bukan, melainkan oleh White Stone, orang Inggeris, yang tentu juga bekerjasama dengan sebuah biro iklan Jerman, Abold di Muenchen. Sebuah logo yang tidak biasa, karena biasanya PD-PD dahulu mengambil maskot-maskot negara tuan rumah, apakah itu dari unsur flora maupun fauna. Sebuah logo lucu dan tidak emosional dengan pesan, semua emosi bisa diciptakan oleh sepakbola. Benar-benar ide kreatif.
PD 2006 dimulai Juni, bertepatan dengan Bulan Pancasila di Indonesia. Hari lahirnya tanggal 1 Juni dan HUT penemu sekaligus penggalinya, Bung Karno, tanggal 6 Juni. Ini sebuah fakta sejarah. Namun dalam perjalanannya, Pancasila bisa dimanipulir, dengan mengenyampingkan penemunya dahulu. Menurut sejarawan Orde Baru, almarhum Noegroho Notosusanto, katanya, penemu Pancasila adalah Muh. Yamin, bukan Soekarno.
Disusul dengan penyusunan sejarah Nasional Indonesia, revisi Orba, yang memutarbalikkan fakta.
Sejarah Nasional Indonesia versi Orba ini berlangsung 32 tahun, dan dikoreksi kembali sesudah masa Reformasi sejak 1998. Coba simak tulisan sejarawan LIPI, DR. Asvi Warman Adam, ketika mengoreksi sejarah nasional versi Noegroho yang sangat mengagung-agungkan militer di bawah Soeharto. Semua peranan bapak-bapak bangsa dikebiri dan dikecilkan. Sejarawan tulen yang semula diajak Noegroho untuk menyusun sejarah versi Orba, semua mengundurkan diri. Jadilah Noegroho menyusun timnya sendiri untuk diajak mengelabui anak bangsa (KOMPAS 28/9/04 ).
Maka, tak heran, jangankan uang, sejarah pun dimanipulasi. Terlebih-lebih sejarah Orba sendiri yang berhubungan dengan HAM. Tak tertulis, karena bukti-bukti kekejamannya pun dilenyapkan, semua memang dipersiapkan secara rapi yang nantinya bisa disangkal jika ada yang mengungkit-ungkit. Padahal menyangkal tragedi kemanusiaan, bisa membuat suatu bangsa terjerambab kepada amnesia sejarah. Menjadi bangsa yang mudah lupa ingatan ! Jujur saja kita akui, memang, sekarang ini kita menjadi bangsa yang pelupa. Sekaligus menjadi bangsa yang pemarah. Persatuan dan Kesatuan, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, emang gue pikirin!
Sekarang, kita nonton Piala Dunia dulu, yuk! Ignatius Sunito |