|
|
 |
Home
>
SUNITO
Ignatius Sunito SCHUMACHER DIANTARA PENEGAK ATURAN Selasa, 30 Mei 2006 pukul 13:55:43 WIB
 | Siapa tidak kenal Michael Schumacher? Pembalap Jerman tujuh kali juara dunia F1 dan mencatat pembalap Jerman paling sukses dibidangnya. Namun di Grand Prix Monaco 2006 pekan lalu (27/5) mencatat reputasi yang kurang mengenakkan akibat ulahnya sendiri. Dan sekaligus menambah data rekor kurang terpuji yang sudah tersusun rapi dalam sejarah F1, sejak Schummy masuk dalam jajaran balap mobil paling elit di dunia tahun 1991.
Kasus di GP Monaco pada sesi kualifikasi penentu pole position dan ia sudah membuatnya, kemudian membuat trick seolah-olah mobilnya mogok dengan alasan “rodanya terkunci”. Dan menempatkan Ferrarinya begitu rupa di tikungan Rascasse, sehingga menghalangi jalan terutama pesaing utamanya, Fernando Alonso, dalam usahanya untuk membuat waktu terbaik. Kontan saja pembalap asal Spanyol itu marah besar. “ Waktu saya telah dirampok Schumy,” kata andalan Tim Renault itu.
Meski Schumy membantah habis, namun para penegak aturan, steward tetap mendengar laporan kejadian tersebut. Bahkan melihat rekaman semua aktivitas Schummy dan membuat pertemuan sampai delapan jam. Akhirnya membuat suatu keputusan, menjatuhkan hukuman kepada sang jagoan F1, mencabut hasil pole possition nya, tetap boleh mengikuti balap tetapi dari urutan terakhir.
Hasilnya bisa kita lihat pada lomba hari Minggu (28/5) bahwa Schumy membuat start dari pit dengan mengendarai Ferrarinya yang lain. Keputusan hukuman itu sama sekali tak diprotes oleh yang bersangkutan sendiri, maupun oleh timnya. Padahal yang namanya Jean Todt, sang manajer maupun Ross Brawn, sang direktur teknik, terkenal jagonya menjalankan taktik. Tentu taktik yang cerdas? Buktinya, segera menggantikan dengan mobil yang lain.
Presiden FIA, Federasi Automotif Internasional, Max Mosley, menyatakan, para petugas, steward telah banyak makan asam garam F1. Semua tahu “isi perut “ semua pembalap F1 dengan segala karakternya. Terlebih-lebih dalam cara mengendalikan mobil di sirkuit. Apalagi semua aktivitas itu terekam secara baik dan urut. Pendapat itu didukung oleh semua pakar F1, yang ujungnya berpendapat sama. Schummy memang melakukan trick secara sengaja. Demikian antara lain, pembalap legendaris F1, Sir Jacky Stewart, maupun rekan Schummy sendiri, Flavio Briatore, kini manajer Renault. Briatore, dulu manajer manajer Tim Benetton 1994 dan 1995, di mana Schummy menjadi pembalap andalan.
Masyarakat penggemar balap mobil F1 segera maklum, jika membuka data rekor Schummy sebelumnya. Masih ingat GP Australia 1994, Benetton Fordnya melintir, tetapi malah ditubrukkan ke arah mobil Williamsnya Damon Hill. Diulang kembali di sirkuit Jerrez, Spanyol 1997, dengan menubrukkan mobilnya ke arah mobil Williams Renaultnya Villeneuve. Dan di GP Austria 2000 ketika ia mematikan mobilnya dijalur lintasan, sehingga mengakibatkan tubrukan beruntun. Maksudnya, panitia akan mengulang lomba, kenyataannya lomba tetap berlangsung. Sebuah cerita panjang, kalau ditulis kembali detailnya. Namun bagi para maniak F1 pasti masih ingat.
Di GP Monaco 2006 timbul pertanyaan di benak kita kepada Schumy? Apakah ia akan mendobrak rekor almarhum pembalap Brasil, Ayrton Senna, yang memegang juara enam kali GP Monaco? Memang, GP Monaco ini sebagai GP paling prestisius di lingkungan F1. Semua pembalap menginginkan bukan saja naik podium, tetapi juga menjuarainya. Lalu, apakah segala gelar yang dipegang oleh Schumy dalam usia 37 tahun ini belum memuaskan dirinya? Sehingga ia melakukan kelakuan yang kurang terpuji itu, meski ia tetap tidak mengaku bersalah?
Namun apa pelajaran yang harus kita cari? Pasti penegakkan hukum yang konsisten dan aparatnya yang tangguh. Dari dunia olahraga internasional kita temui buktinya. Panggung internasional lainnya dalam waktu bersamaan dengan kasus Liga Sepakbola Italia Seri A. Kini, gelar Scudetto 2005/2006 klub Juventus terancam dicabut akibat skandal pengaturan wasit pertandingan. Tunggu tanggal mainnya tanggal 29 Juni 2006 mendatang. Jika terjadi, Juventus akan tergradasi ke Seri B. Alamak, malunya ini!
Berbicara rasa malu juga tercermin dalam kasus Juventus ini. Setelah terbuka luas dan skandal ini dimuat di koran-koran Italia, semua yang bertanggungjawab langsung menyatakan mengundurkan diri. Dari presiden FIGC (PSSInya Italia) bersama wakilnya, Franco Carraro dan Innocento Mazzini, Presiden Dewan Wasit Italia, kemudian seluruh dewan direksi Juventus termasuk presidennya sendiri, Luciano Moggi. Bahkan wasit Massimo De Santis, yang semula mewakili Italia di PD 2006 Jerman, dipecat.
Pelajaran seperti ini yang patut kita tiru. Penegakkan hukum secara konsisten dengan aparat yang bersih dan tangguh, sportivitas dan budaya malu. Lho, apa hubungannya dengan dunia otomotif kita dan sepakbola kita?
Yang pasti, PSSI dipimpin oleh narapidana dan di IMI, di tubuh induk organisasi olahraga otomotif Indonesia belum lama ini terjadi protes keras dari pembalap-pembalap senior. Kasusnya adalah IMI Award 2006 yang diberikan kepada pembalap-pembalap muda seperti Ananda Mikola, Moreno dan Alexandra. Alasannya penghargaan itu kriterianya tidak jelas. Wah!
Pertanyaannya, apakah masyarakat olahraga peduli? Nggak, tuh! Wong, kita sudah terbiasa amburadul. Kapan, ya, tertibnya kita ini? Ignatius Sunito |
|
 |

|