Ignatius Sunito SEANDAINYA ADA 10 AA GYM Rabu, 24 Mei 2006 pukul 8:54:57 WIB
 | Lomba lari Gema Nusa 10 K baru saja diadakan di kota Bandung yang diikuti oleh 50.301 peserta, bersamaan dengan Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei 2006. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri yang mengibarkan bendera start didampingi K.H Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym,penggagas lomba tersebut, pengasuh Manajemen Qoulbu dari Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Bandung.
Lomba ini sekaligus meraih penghargaan MURI, Museum Rekor Indonesia, sebagai lomba 10 K yang paling banyak pesertanya. Piagam penghargaan itu diserahkan sendiri oleh pendiri MURI, Jaya Suprana. Kepopuleran Aa Gym sebagai pendakwah yang sejuk dan pengayom menjadi daya tarik dari lomba lari ini. Tentu, juga hadiah dari sponsor bagi para pemenang yang total berjumlah hampir Rp 300 juta.
Apa hubungannya antara olahraga dengan Hari Kebangkitan Nasional? Memang, akhir-akhir ini hari-hari penting yang bersifat nasional semakin lama semakin dilupakan orang. Nasionalisme sudah tererosi, kata mereka yang masih ingat bahwa Indonesia ini merdeka melalui berbagai tahapan. Lupa apa itu tanggal 20 Mei 1908? Terlebih-lebih lagi siapa itu, Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Dr. Suwardi Suryaningrat, Ki Hajar Dewantara, Dr. Soetomo, Douwes Dekker, dll?
Erosi juga persatuan dan kesatuan, malahan sudah mengarah ke disintegrasi bangsa. Lupa pula bahwa Indonesia ini negara plural, begitu juga dengan semangat bapak-bapak bangsa pendiri yang namanya Republik Indonesia yang menghargai pluralis. Berbagai etnis dengan berbagai budaya, bahkan aliran maupun kepercayaan yang semua ikut andil Indonesia merdeka.
Dalam mengisi kemerdekaan, Bung Karno, presiden pertama RI, berkali-kali menekankan antara lain melalui olahraga bisa dijadikan sebagai sarana mental and character building. Sebab itu, sejarah menoreh dari prestasi olahraga, nama keharuman bangsa dan negara dilambungkan. Dan sampai detik ini pula, olahraga masih terbebas dari kontaminasi “penyeragaman”. Pelakunya tidak perlu diusik asal usulnya. Pluralisme dalam olahraga berjalan tanpa usikan. Orang tak pernah usil dengan asal usul Rudy Hartono, Liem Swie King, Chris John, Taufik Hidayat, M. Rachman, Angelique Wijaya, Wynne Prakusya, Elsa Manora, dst.
Aa Gym adalah satu di antara tokoh agama yang selalu menyuarakan pluralisme di jalur dakwah, di tengah iklim Indonesia yang selalu akan dibuat “seragam”. Sementara cendekiawan-cendekiawan agama yang lain, sudah jauh-jauh hari bersuara secara plural, seperti Gus Dur, almarhum Nurcholish Madjid, Prof. Syafiie Maarif, Dawam Rahardjo, Budayawan Goenawan Mohammad, Moh. Sobary, disamping sejumlah intelektual lainnya di jalur tatanan akademis maupun percaturan komunitas terpelajar.
Aa Gym menggunakan juga jalur olahraga disatukan dengan hari bersejarah Hari Kebangkitan Nasional, yang katanya, momentum mengajak masyarakat untuk membangun kembali negeri ini. Lho, apa selama 60 tahun merdeka kita tidak membangun? Susah, lho, menjawabnya? Kalau sehari-hari yang kita temui hanya masalah korupsi, ketidakadilan, kekerasan, Kelicikan, intimidasi, arogansi sektarian,pembodohan, tawuran dari sekala nasional sampai dengan lokal. Inilah budaya kita!
Di luar olahraga, sungguh susah menjadi seorang pluralis. Lebih tepatnya, saya kutibkan kata-kata Moh. Sobary. Pluralis adalah sifat dan watak terbentuk oleh sebuah proses belajar yang panjang, melelahkan, dan harus dirawat terus menerus. Menjadi pluralis adalah pengorbanan. Dibenci dan secara kultural tak dianggap lagi sebagai anggota kelompok. Darahnya halal alias bisa diancam hukuman mati oleh pusat kekuasaan, atau oleh orang yang merasa mendapat limpahan kuasa langsung dari Tuhan.Padahal Tuhan tak pernah membisikkan apapun kepada mereka.
Maka jangan heran, olahraga menjadi inspirasi pelarian dari sumpeknya hidup di negara yang namanya Indonesia ini. Tidak saja Lomba lari Gema Nusa 10 K, tetapi kini tinggal beberapa hari lagi kita nikmati panggung akbar dari dunia olahraga. Piala Dunia Sepakbola 2006 di Jerman mulai tanggal 9 Juni-9 Juli 2006.
Wow, biar saja mereka bicara haram dan halal menurut ukuran mereka sendiri. Lebih baik kita menonton pertandingan sepakbola melalui layar kaca. Kata filosof Umberto Eco, kalau perang dan terorisme adalah kekuatan destabilisasi, maka pertandingan sepakbola Piala Dunia adalah kekuatan stabilisasi. Sepakbola adalah kontra kesumpekan kita memikirkan iklim negara kita, itu kata saya, yang bisa mempersatukan kita yang plural maupun anti plural.
Kita nikmati bahasa sepakbola adalah bahasa persaudaraan meski hanya diwakili 22 orang pemain di dalam lapangan. Di luarnya, orang bisa menangis bersama, bersorak bersama, berteriak bersama, sesama penggemar sepakbola, baik yang plural maupun yang anti plural. Jika sang pemenang atau juara lahir, kita akan paham dan sekaligus merenung, bahwa kemenangan itu adalah puncak dari upaya habis-habisan yang telah dilakukan manusia.
Oh, seandainya ada 10 orang saja seperti Aa Gym di Indonesia? Ignatius Sunito |