Ignatius Sunito PIALA THOMAS, DOMINASI CINA SEPULUH TAHUN KE DEPAN Selasa, 9 Mei 2006 pukul 15:25:4 WIB
 | Cina kembali mengukuhkan diri sebagai yang terkuat dunia di cabang bulutangkis putra-putri. Mempertahankan lambang supremasi bulutangkis dunia, Piala Thomas dan Uber 2006 dengan menyikat lawan-lawannya secara meyakinkan. Di Sendai dan Tokyo, Jepang, pekan lalu (28/4-7/5/06) semua lawan Cina di final digasak tak diberi ampun sedikit pun. Denmark di bagian putra dan Belanda di nomor putri dilalap 3-0 langsung.
Indonesia, eks negara legenda Thomas Cup, terlebih dahulu sudah dipermalukan 3-0 di semifinal. Diawali dengan tidak berkutiknya pemegang medali emas Olimpiade Athena 2004/juara dunia 2005, Taufik Hidayat, atas Lin Dan. Disusul terpuruknya ganda Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto atas Fu Haifeng/Cai Yun. Kemudian Sony Dwi Kuncoro menjadi bulan-bulanan Bao Chunlai. Sungguh, kekalahan yang menyakitkan, kata Tim Manajer Rudy Hartono. Meski target Indonesia, ya, sampai semi final saja melawan Cina.
Prestasi Cina ini sekaligus mengokohkan “kesombongan” pelatih kepala sekaligus manajer tim, Li Yongbo, bekas pemain ganda tahun 1980-an bersama Tian Bingyi. Perilaku Yongbo sudah menjadi rahasia umum, terutama para wartawan peliput Thomas & Uber Cup. Bahkan wartawan-wartawan Cina sendiri juga mengakuinya sejak perebutan Thomas & Uber 2002 lalu di Guang Hsou, Cina.
Yong Bo sampai sesumbar bahwa dominasi Cina di Piala Thomas & Uber tak akan tergoyahkan oleh siapa pun hingga 10 tahun ke depan. Terlebih-lebih di bagian putri, seperti sudah tak tersentuh lagi, untouchable, regenerasi mengalir terus. Di bagian putra, tahun 2006 ini masih mengandalkan Lin Dan, Bao Chunlai, Chen Hong, para “veteran” 2004. Meski pemain pelapisnya sudah setara seperti Chen Jin dan Chen Yu, yang sudah mengorbit di Cina Masters 2006.
Ketika pengalaman Guang Hsou 2002, Yongbo selalu menghindar dari wartawan dan tak pernah hadir dalam konperensi pers seusai pertandingan. Hal itu sangat tidak mengenakkan para wartawan Cina sendiri terhadap para koleganya. Sampai para wartawan Cina itu minta pendapat kepada Indra Gunawan, yang waktu itu sebagai pelatih Tim Thomas Cup Malaysia, akan sikap Yongbo. Apa tanggapan Indra, eks pemain Thomas Cup Indonesia 1970 itu?
“Saya tidak berani menilai sikap rekan saya. Yang terang saya hadir di sini karena kami menghargai kerja keras Anda, bukan karena kami ingin menang. Kalian, wartawan sudah bekerja sebaik mungkin menghubungkan kami dengan masyarakat, dan kami sangat menghargai itu.” Jawaban Indra Gunawan ini mendapatkan applaus berupa tepuk tangan dari wartawan yang hadir. Tahun 2002 lalu Indonesia keluar sebagai juara.
Membaca laporan wartawan BOLA, Theresia Lahur, dari Tokyo, ketika meliput semifinal Indonesia-Cina 2006. Betapa gemasnya tulisan Esi, demikian panggilan akrabnya, ketika melihat ketegangan Yongbo melihat adegan pertarungan anak-anak asuhnya dengan Taufik Cs. Esi ingin Indonesia membuat kejutan dengan menekuk Cina, agar Yongbo pingsan. Sayang, Taufik cs tidak memenuhi harapan.
Terlepas dari arogansi Yongbo, tampaknya prediksinya bahwa Cina dalam masa 10 tahun mendatang tak akan tertandingi di cabang bulutangkis, memang benar adanya. Cina sudah 12 tahun berada di bawah bayangan Indonesia di percaturan Thomas Cup. Motivasi diri untuk bisa lepas keluar dari dalam bayang-bayang itu, kadang-kadang membuat tekanan atau beban yang amat berat menindih. Letupan-letupan itulah yang sekiranya membuat Yongbo harus ekstra kerja keras dan tidak peduli sekelilingnya.
Sementara bagaimana persiapan Indonesia menuju Thomas dan Uber 2008, yang menurut rencana di adakan di Jakarta? Tanpa meremehkan kekuatan di bagian putri, Indonesia tampaknya akan melepas lagi kesempatan ini. Ukurannya? Di bagian putri, tak ada satu pun pemain putri kita berada di ranking terhormat IBF, paling tidak 20 besar. Waktu hanya dua tahun saja.
Di bagian putra, pemain teras kita tinggal Taufik Hidayat, yang kini berada di ranking 12, disusul Sonny dan Simon. Sementara ganda ada Alvent/Luluk, Sigit Budiarto sudah ditinggalkan Chandra Wijaya. Semua pemain teras Indonesia masih berada jauh di bawah kaliber pemain-pemain teras Cina. Pemain pelapis kita apa sudah siap dalam waktu dua tahun, ditambah mereka tak pernah diberi kesempatan mencoba di turnamen-turnamen bintang. Karena alasan tiada biaya.
Semua serba krisis buat PBSI. Ya pemain, ya, pelatih. Buat Rudy Hartono yang kini menjabat sebagai kabid pembinaan & prestasi PBSI sulit untuk membuat program dua tahun. Mungkin, jalan keluar, PBSI jangan obral bonus dulu buat pemain, tetapi bonus alihkan kepada program pembinaan terutama pengiriman kembali pemain-pemain ke turnamen-turnamen bintang. Namun ada pertanyaan lagi, siapa, dong, pemain pelapis selain Markus Wijanu (tunggal ketiga cadangan Thomas Cup 2006).
Dilema buat Sutyoso sebagai ketua umum PBSI, karena jabatan yang diemban ini juga berkaitan dengan politis. Artinya sebagai gubernur DKI, ia butuh gengsi, agar makin mantab kedudukan maupun untuk meraih ambisinya. Maka, ia tak segan-segan menyediakan bonus untuk kemenangan atlet. Bahkan di sepakbola di Persija, dengan enteng ia menggelontorkan Rp 24 milyar setahun untuk mengikuti kompetisi LI.
Persija diperkuat oleh pemain-pemain yang dibeli dari luar, bukan oleh hasil binaan Persija sendiri. Atau PBSI, penyediaan uang bonus lebih gampang dicari katimbang menyediakan anggaran pembinaan.
Sepertinya kita sudah harus berpikir jangka panjang. Jangan kebakaran jenggot menjelang Thomas Cup 2008. Biarlah seperti Cina yang menunggu sampai 12 tahun di bawah bayangan Indonesia. Paling tidak 2010 Thomas Cup dulu yang kita raih kembali. Piala Uber memang harus diuber, dari sekarang! Ignatius Sunito |