Ignatius Sunito JALUR SENAYAN-DEPARLU MACET TOTAL? Selasa, 2 Mei 2006 pukul 14:39:23 WIB
 | Regu tenis putri Indonesia baru saja ditundukkan Cina 4-0, dalam pertandingan Piala Federasi Grup II Dunia di Senayan, Jakarta, pertengahan bulan April lalu (22-23/4/06). Angelique Wijaya yang sudah dua tahun absen karena cedera lutut, bersama Romana Tedjakusuma, tak berkutik melawan Li Na dan Peng Shuai, dua andalan utama Cina. Sementara pasangan Indonesia Septi Mende/Ayu Fani tidak sempat turun arena, karena cuaca hujan. Lagi pula Cina sudah memimpin 4-0 langsung.
Setelah itu, kemana lagi perjalanan Anglique, dkk? Ternyata Indonesia harus bermain di play off tanggal 15-16 Juli 2006 melawan salah satu dari para juara zona dan pecundang lain di Grup II Dunia. Calon lawan kita dari zona Eropa/Afrika ada dua regu yang lolos, Slovakia dan Israel. Ternyata dalam undian yang diadakan ITF pekan ini, anak-anak asuhan pelatih Suzana ini harus menghadapi Israel di negara mereka. Nah, lho!
PB Pelti, penguasa dunia tenis Indonesia langsung mengambil kesimpulan, mana bisa? Hal itu berdasarkan realitas bahwa Indonesia tak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel. Titik! Jika Indonesia tak mau bertemu dengan Israel, meski alasan diplomatik, namun peraturan ITF tidak ada itu mengucilkan Israel. Indonesia akan kena sangsi denda U$ 5000, sekitar Rp 45 juta, sekaligus larangan bermain di gelanggang Piala Fed selama satu tahun.
Israel sebenarnya statusnya sama dengan Taiwan, Indonesia sama-sama tidak mempunyai hubungan diplomatik. Namun kasus Israel ini sangat istimewa menyangkut kebijaksaanaan politik luar negeri Indonesia, yang mendukung perjuangan rakyat Palestina. Maka kasus Taiwan tidak sama dengan Israel. Meski RRC, negara yang selalu menekan negara lain jika negara itu menjalin hubungan diplomatik dengan Taiwan. Namun dalam dunia keolahragaan, RRC bersikap terbuka. Tak ada masalah bagi atlet-atlet di luar Cina untuk bertanding dengan Cina Taipehi, demikian sebutan RRC untuk negara tetangganya, yang diakui oleh RRC sebagai bagian provinsi dari daratan Cina.
Jalan lain pertemuan Israel-Indonesia masih ada, jika atlet kedua negara bertemu di tempat netral? Itu pun harus persetujuan ITF dengan Israel sendiri. Nah, di sinilah letak kuncinya, PB Pelti seharusnya menjalankan langkah lobby terlebih dahulu. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, tidak bisa! Perhitungkan skenario baik buruknya, jika Indonesia terkena skorsing setahun? Mana usaha untuk mempertahankan diri untuk tetap di Grup dunia?
Saya bisa membayangkan, seperti Angelique dan Wynne Prakusya, dua petenis putri utama kita, baru sembuh dari cedera. Kemudian tertatih-tatih kembali di babak awal (zona) Piala Fed alias melalui pertandingan tarkam, turnamen antar kampung terlebih dahulu jika sudah menjalani skorsing. Bisa diduga karena peringkat kita merosot. Mengapa PB Pelti harus menyerah terlalu cepat? Mungkin takut tekanan politis dari pihak tertentu?
Atau PB Pelti ada “agenda tersembunyi“? Artinya lawan Israel yang kini mempunyai pemain-pemain kaliber 100 besar dunia, persis petenis-petenis putri Cina yang baru saja dihadapi Angelique dkk. Di mana kita tak berkutik sama sekali. Maka, menghadapi Shahar Peer (36) dan Anna Smashnova (41) plus Tzipora Obziler (132), diperkirakan sulit dihadapi oleh petenis-petenis putri unggulan kita, yang belum bebas dari cedera.
Agaknya PB Pelti mau mengambil langkah aman dengan berlindung di balik “tidak adanya hubungan diplomatik”. Toh, suatu hal yang tidak bisa disalahkan kepada PB Pelti, jika pertemuan dengan Israel gagal.
Sebenarnya PB Pelti bisa mengambil momentum ini. Olahraga bisa dijadikan “roh” perdamaian. Kita memang tidak menutup mata, bahwa kasus Israel amat peka di sini. Namun semua itu menyangkut kebijakan politik negara. Sebuah pertandingan olahraga adalah arena yang amat cair. Urusan negara, urusan negara, urusan olahraga adalah olahraga.
Coba kita lihat momen yang populer seperti Piala Dunia di Jerman 2006 (19 Juni-19 Juli) nanti. Di tengah-tengah ketakutan ancaman teroris internasional, Jerman yang ditekan untuk tidak menerima tim Iran. Akibat policy Presiden Iran, Ahmadinejad, tentang program pembangunan nuklir Iran, Jerman tak bergeming. Bukankah, slogan PD 2006, Die Welt zu Gast Bei Freunden, atau, Friends Invite The World. Menggambarkan Jerman sebagai tempat yang selalu menyambut hangat tamunya, dan yang ingin membuat tamu merasa betah serasa di rumah sendiri. Iran, welcome!
Memang, persoalan Israel dipandang dari sudut mana? Tak usah mengenai hal yang menyangkut dengan negara Yahudi ini. Di sektor lain pun, Indonesia kini seolah terjebak seperti halnya negara-negara dunia ketiga. Rakyatnya jauh dari usaha untuk dicerdaskan, yang ada hanya hasutan untuk menjadi pendendam dan pembenci bangsa lain. Orde Baru sudah memelopori dengan Anti Cina. Akibatnya bangsa yang pendendam, akan tergilas oleh rasa dendamnya sendiri.
Kembali kepada Tim Piala Fed kita, apakah jalur PB Pelti dan Deparlu RI sudah macet total? Ignatius Sunito |