PRINT EDITION | FORUM DISKUSI | AGENDA | PHOTOFOLIO | EURO 2008
BALAP
BASKET
BULUTANGKIS
OLE! INTERNASIONAL
OLE! NASIONAL
TENIS
TINJU
CABANG LAIN
Home  >  SUNITO



Ignatius Sunito
THOMAS CUP, ANTARA REALITAS DAN HARAPAN
Rabu, 26 April 2006 pukul 7:41:5 WIB
   Perebutan gelar supremasi bulutangkis dunia untuk putra, Thomas Cup, segera digelar kembali tanggal 28 April-7 Mei 2006 di Sendai dan Tokyo, Jepang. Bersama Piala Uber di bagian putri, di mana lambang tertinggi bulutangkis dunia itu kini keduanya berada di tangan putra-putri Cina. Indonesia putri kali ini tak lagi kekuatan yang diperhitungkan.

Sementara Taufik Hidayat cs, hanya diberi target realistis di Jepang nanti hanya sampai di semi final saja. Kalau bisa lolos semi final, kata Ketua Umum PBSI, Sutyoso. Tim Indonesia turun dengan kekuatan yang pemain intinya masih menderita atau pemulihan cedera. Terutama pemain-pemain yang “harus” memperoleh angka kemenangan. Seperti Taufik Hidayat di partai tunggal dan Sigit Budiarto/ Chandra Wijaya di nomor ganda. Baik Taufik (cedera pinggang) maupun Sigit (lutut kaki) masih dalam kondisi cedera.

Diikuti Luluk Hadiyanto, pasangan Alvent Yulianto, yang juga mengalami penurunan trombosit, malahan baru keluar dari rawatan rumah sakit. Maka, dalam sejarah perbulutangkisan Indonesia sejak 1970, ketika tim pergi menuju medan juang selalu dilepas oleh RI-1. Kini hanya upacara pelepasan sederhana saja di tempat kediaman Sutyoso yang kebetulan gubernur DKI Jaya.

Indonesia berada di grup B dengan Korsel dan Selandia Baru. Kemudian di grup lain, A: Cina, Jerman, India. Grup C: Denmark, Jepang, Afrika Selatan. Grup D: Malaysia, Inggeris, AS. Indonesia pertama kali menghadapi Selandia Baru (29/4) dan Korsel di pertandingan kedua (30/4).

Bagaimana strategi Indonesia? Jauh-jauh hari sudah bisa ditebak dengan materi pemain yang ada, di luar skenario cederanya para pemain inti. Angka kemenangan pasti dibebankan kepada tunggal pertama (Taufik Hidayat) dan dua ganda (Sigit/Chandra, Luluk/Alvent). Lalu, apakah pemain lainnya hanya hiasan belaka? Seperti Sonny Dwi Kuncoro, Simon Budisantoso, untuk tunggal kedua dan ketiga bersama pemain cadangan, Markus Wijanu. Kemudian ganda Markis Kido/Hendra Setiawan.

Coba lihat posisi Indonesia di penyisihan grup. Tampil habis-habisan dengan menundukkan Selandia Baru dan Korsel untuk menjadi juara grup. Agaknya langkah ini yang harus diambil, agar lawan di perempat final belum lawan yang “keras”, (Jepang atau AS) dan skenarionya Rudy Hartono, ketua bidang pembinaan prestasi PBSI, jika Indonesia menang, lolos ke semifinal dan dihadang Cina. Sesuai dengan target PBSI.

Nah, kalau di penyisihan grup kalah lawan Korsel, bisa perjuangan tim Indonesia selesai lebih awal. Mengapa begitu, lawannya di perempat final adalah Malaysia yang diunggulkan di tempat kedua Thomas Cup 2006. Di atas kertas dengan tim yang “cacad” sulit mengambil angka dari Malysia. Semuanya serba perhitungan di atas kertas dan kondisi realitas tim Thomas Cup Indonesia 2006.

Mengapa harus pesimis? Semua peluang tetap ada. Apalagi sistem angka sampai 21 membuat tim-tim Thomas Cup masih dalam tanda tanya. Indonesia memiliki keuntungan tanpa beban, selain tidak diunggulkan, banyak pemain cedera. Cina dan Malaysia dengan materi yang ada mempunyai kans sama kuat, disusul oleh Indonesia dan Denmark. Maka banyak pakar bulutangkis berkomentar, Indonesia main tanpa beban saja, dan jangan diberi beban kepada setiap pemain. Mengalirlah!

Ketua Umum Sutyoso mengantisipasi dengan janji bonus setiap kali menang. Bonusnya apa? rahasia! Katanya untuk merangsang pemain. Siapa tahu dengan jalan itu, semua bisa tampil “kesetanan”? Nanti dulu, strateginya harus tepat. Perkara strategi, banyak pemain-pemain senior bulutangkis yang urun rembug. Mudah-mudahan, kata orang, sebelum maju perang jangan menyerah dahulu.

Menelusuri sejarah bulutangkis Indonesia sejak direbut untuk pertama kali Piala Thomas 1958 dari tangan Malaysia. Pada perjuangan berikutnya, slogan yang mengemuka adalah “pertahankan atau rebut kembali”. Dan kini tahun 2006, targetnya adalah semi final, kalau bisa di semi final berhadapan dengan Cina, dan seandainya kalah, lawannya adalah juara. Rasanya di hati ini sangat pilu.

Cina, yang dalam sejarah Orde Baru selama 32 tahun, negara yang diharamkan oleh pemerintahan Soeharto. Mendadak kini menjadi negara yang amat kita takuti, terutama di cabang bulutangkis. Tahun 2006 ini ibarat Cina tak tersentuh. Memang benar, bulutangkis putri Indonesia sudah dalam keadaan jangan dibandingkan dengan mereka. Lagi-lagi seperti mimpi kalau kita mengingat era Susi Susanti.

Kini giliran di bagian putra. Bayangkan, pemain pelapis senior tim Thomas Cup 2006 Indonesia, Markus Wijanu, adalah ranking 117 dunia. Sejarah paling buruk di bagian tunggal ketiga yang pernah dimiliki tim Thomas Cup Indonesia sejak 1958. Sementara pemain-pemain seniornya sudah “cacad “semua, di samping di “makan” umur. Ditambah kalau main masih angin-anginan.

Nah, apakah bonus-bonus khusus bisa merangsang prestasi? Di konsep Sutyoso sepertinya masih menjadi prioritas utama, katimbang memikirkan pembibitan. Atau, apakah, manusia Indonesia atau kualitas SDM terutama atlet-atletnya terus menurun? Peminat baru masuk pelatnas bulutangkis PBSI semakin tahun semakin menurun, demikian juga kualitasnya.

Negara krisis tak kunjung habis. PBSI benar-benar krisis ! Namun, selamat berjuang tim Thomas Cup Indonesia!

Ignatius Sunito
SPORTS NEWS

Piala Kremlin
DOMINASI RATU TUAN RUMAH

Seputar Serie A
SPALLETTI BUTUH MALAIKAT TOTTI

Pra-musim NBA
CLIPPERS PECUNDANGI LAKERS

Jelang Inggris vs Kazakhstan
INGGRIS TANPA SANG JENDERAL

Jelang Kualifikasi PD 2010
AMBISI MONTOLIVO

Seputar Serie A
EMERSON DUKUNG KEPUTUSAN DINHO

Pasca Beristirahat 3 Pekan
FEDERER KEMBALI DI MADRID

Tingginya Gaji Pemain
CARRAGHER & PLATINI DUKUNG SALARY CAP

Jelang Kualifikasi PD 2010
ADRIANO JURU GEDOR BRASIL

Seputar Serie A
ZLATAN PUJI MOURINHO

ARSIP

Ignatius Sunito
UNITED WE PLAY, UNITED WE WIN!

Ignatius Sunito
DI LUAR GELANGGANG PD 2006
DAN BUDAYA MALU

Ignatius Sunito
SEPAKBOLA PD 2006 PEMERSATU, PANCASILA?

Ignatius Sunito
SCHUMACHER DIANTARA PENEGAK ATURAN

Ignatius Sunito
SEANDAINYA ADA 10 AA GYM

Berita Lainnya ...

 

© BolaNews.com - Logo and web content are trademarks of PT.Tunas Bola. All rights reserved.
Developed by WEBPACIFIC