
Usain Bolt (kanan), banyak mendapat tantangan. (Stu Forster/Getty Images)
Pada Minggu, 5 Agustus, dunia akan menyaksikan kembali pertarungan manusia tercepat pada final lari 100 meter Olimpiade London 2012. Ajang ini selalu menjadi bagian penting dari Olimpiade, di mana penonton akan melihat bagaimana para atlet berlari di level tertinggi dan berharap menghasilkan catatan tercepat di tahun ini.
Saat uji coba Olimpic Stadium pada Mei lalu, mantan juara dunia junior 100 meter Harry Aikines-Aryeetey dan rekannya atlet putri, Sophie Papps, menyebut karakter trek di sana bisa membuat atlet berlari sangat cepat. "Seseorang seperti Bolt akan mampu berlari sangat cepat di atas trek tersebut."
Hal yang begitu mengejutkan adalah ketika rekor 100 meter dunia dapat terpecahkan dengan mudah. Pencapaian tersebut telah diciptakan oleh pelari asal Jamaika, Usain Bolt dengan catatan waktu 9.58 detik.
Bolt telah membuat rekor yang sepertinya sulit untuk disamai. Hingga saat ini, saya masih kagum dengan kekuatan atletik yang dimiliki Bolt empat tahun lalu. Kedua kakinya telah memukau Beijing, seolah kompetisi ini dan para penonton di dunia disuguhkan dengan sesuatu yang dapat mengubah dunia olah raga.
Saya ingat ketika Michael Johnson, pemegang rekor dunia 200 meter yang juga menjadi tamu di studio saat Bolt beraksi, melompat dari kursinya ketika menyadari rekor Olimpiade 19,32 detik miliknya telah dipecahkan oleh pelari asal Jamaika ini. Bahkan Johnson, seperti jutaan orang lainnya yang sedang menyaksikan perlombaan itu, bangkit dari bangkunya dan melompat girang dan bersorak ketika melihat Bolt teler di Beijing empat tahun lalu.
Namun, menuju Olimpiade London 2012, kita menyaksikan sang juara bertahan berada di bawah tekanan. Bolt akan menghadapi temannya, pelari asal Jamaika dan rekan berlatih, Yohan Blake. Bolt sempat dikalahkan oleh Blake pada Jamaican Olympic Trials beberapa pekan lalu di nomor 100 dan 200 meter.
Kita dapat melihat sekilas bakat Blake setelah Bolt salah melakukan start pada perlombaan di Daegu, 2011. Saat itu, Blake menjadi juara dunia dengan catatan waktu 9.92 detik. Blake memiliki ukuran tubuh yang tidak jauh berbeda dengan Bolt tetapi usianya lebih muda, yaitu 22 tahun. Apakah terlalu cepat menyebut Blake sabagai penerus Bolt?
Namun, siapa lagi yang kita harapkan untuk tampil di nomor 100 meter?
Pelari asal Amerika Serikat, Justin Gatlin, yang terlibat penyalahgunaan obat pada 2006, siap kembali setelah menjalani hukuman larangan bertanding selama empat tahun. Perlu dicatat, Gatlin adalah peraih medali emas di Olimpiade Athena 2004 dan ia telah mencatatkan waktu tercepat saat melakukan uji coba di Amerika bulan lalu. Waktu yang berhasil ia catatkan sekaligus merupakan sejarah baru bagi para pelari dengan usia di atas 30 tahun. Pelari asal New York ini tentunya akan menjadi rintangan besar bagi Bolt dan Blake. Selama ini, Gatlin telah mampu membuktikan prestasinya, paling tidak untuk dirinya sendiri. Apakah ia mampu kembali beraksi di Olimpiade London 2012?
Tyson Gay yang merupakan sesama pelari asal Amerika Serikat, menduduki peringkat tercepat kedua dalam jarak 100 meter dengan catatan waktu 9.69 detik. Kecuali cedera pada menit-menit akhir yang sepertinya telah mengancam kariernya, apakah Gay juga merupakan nama lain yang akan mengancam eksistensi kepercayaan diri Bolt? Ya, ia telah melakukannya sebelum tahun 2010.
Nama lain, Asafa Powell, yang merupakan pemenang Shanghai Golden Grand Prix juga akan memberikan tekanan tersendiri bagi Bolt. Powell menjadi atlet lari yang paling banyak sepanjang sejarah meraih catatan waktu di bawah 10 detik di ajang resmi yakni 79 kali.
Pelari tim tuan rumah, Dwain Chambers, yang juga pernah tersandung kasus obat-obatan seperti Gatlin, telah kembali dari masa larangan bertanding. Kecepatan lari Dwain memang dapat dikatakan tidak begitu mengamcam, tetapi karena adanya faktor tuan rumah dan dukungan penonton di belakangnya, bisa saja itu menjadikan ia sebagai pelari kuda hitam yang patut diperhitungkan.
Tempat terakhir yang menurut saya akan memberikan ancaman besar bagi Bolt adalah pelari asal Prancis, Christophe Lemaitre. Ia adalah pelari tercepat di Eropa dan baru berusia 20 tahun. Di usia muda, ia telah memenangi nomor 100, 200, dan 4x100 meter estafet di European Championships 2010, yang membuatnya menjadi pelari pertama yang menyabet tiga gelar tersebut sekaligus. Ia juga merupakan pelari dari ras kulit putih pertama yang mampu mencapai garis finis 100 meter dengan catatan waktu di bawah 10 detik.
Itulah nama-nama pelari yang akan berjibaku untuk mencapai garis finis tercepat di jarak 100 meter.
*) Jason de la Pena adalah presenter di ESPN SportsCenter yang ditayangkan setiap pagi hari. Saksikan Olimpiade London 2012 di ESPN STAR Sports.