|
|
 |
Home
>
LILIANTO APRIADI
Lilianto Apriadi OLIMPIADE FANTASTIS Kamis, 21 Agustus 2008 pukul 9:21:14 WIB
 | Olimpiade Beijing bukan hanya menimbulkan kehebohan di luar lapangan, tapi juga punya rekor fantastis di arena. Sang pemilik siapa lagi kalau bukan Michael Phelps dan Usain Bolt? Bagaimana dengan Maria Kristin dan Markis Kido/Hendra Setiawan?
Phelps, perenang Amerika Serikat itu mewujudkan impiannya menyabet delapan emas dalam satu Olimpiade. Prestasinya itu memecahkan rekor Mark Spitz yang meraih tujuh emas pada Olimpiade 1972 di Muenchen. Sedangkan secara keseluruhan, Phelps menembus sebagai legenda Olimpiade dengan mengumpulkan 14 emas dalam dua pesta olahraga terbesar dunia itu.
Sementara itu, Bolt secara fantastis merebut dua emas dalam dua nomor bergengsi atletik, lari 100 dan 200 m putra. Sejak Carl Lewis pada Olimpiade 1984, belum ada lagi pelari yang mengawinkan emas prestisius itu. Lebih fantastis lagi karena catatan waktu Bolt memecahkan rekor dunia.
Bahkan di nomor 100 m ia sukses menembus 9,69 detik. Sebelumnya orang memperkirakan waktu di bawah 9,70 detik (rekor dunia sebelumnya yang juga dipegangnya 9,72 detik ) sulit ditembus. Ternyata Bolt mampu memecahkannya dengan waktu yang cukup tajam.
Catatan waktu yang dibuat pada 200 m juga tajam, 19,30 detik atau 0,02 detik dibanding rekor sebelumnya atas nama pelari Amerika Serikat, Michael Johnson. Rekor 19,32 detik itu bertahan selama 12 tahun karena Johnson membuatnya pada Olimpiade Atlanta 1996.
***
Cerita apa yang menarik dari kebehasilan dua bintang itu? Kalau pembinaan secara dini sudah kuno, sebab atlet-atlet dunia itu dalam melahirkan prestasi puncak memang memiliki ciri khas seperti itu. Ada yang menarik dari sekedar pembinaan dini sekaligus dengan konsep berteknologi itu, yakni tekad yang dicanangkan sebelum berangkat ke Beijing.
Phelps bagaikan bersumpah serapah untuk berprestasi tinggi dengan merebut emas seluruh nomor yang diikuti. Pesaing-pesaingnya termasuk mantan perenang menjadi perangsang ambisi itu. Ia dianggap tidak akan berhasil mengukir rekor baru sekaligus melewati prestasi seniornya yang sudah melegenda, Mark Spitz.
Ambisi itu akhirnya menjadi kenyataan. Dari delapan nomor yang dikuasasinya, tujuh merupakan rekor dunia. Gile bener!
Di cabang atletik dan dalam nomor bergengsi juga digadang-gadang aksi Bolt. Ia diharapkan bersaing ketat dengan rekan senegaranya, Asafa Powell yang beberapa kali menguasai kejuaraan atletik terakhir sebelum ke Olimpiade.
Selain mencatat waktu yang cukup tajam, Bolt juga meninggalkan pesaingnya dengan rentang waktu yang lebar. Peringkat dua pada 100 m yang dicapai oleh Richard Thompson adalah 9,89 detik. Lebih besar lagi perbedaan waktu yang diraih oleh Shawn Crawford yang menjadi runner-up 200 m, yaitu 19,96 detik atau 0,66 detik lebih lambat dari Bolt.
Bolt seperti juga Phelps, menjadikan Olimpide sebagai arena pembuktian puncak prestasi. Ia mempersiapkan diri semaksimal mungkin dan tentu dengan tekad yang membara.
Sebenarnya ada pula tekad atau pun keinginan kuat untuk meraih medali emas Olimpiade sebagai target yang dicanangkan atlet lain. Misalnya yang dilakukan oleh petenis asal Swiss yang sudah turun peringkat, yaitu Roger Federer. Harapannya di Beijing begitu tinggi. Sepertinya ia membiarkan babak belur di beberapa turnamen termasuk Prancis Terbuka, tapi di Beijing tetap nomor satu. Eh ternyata gagal juga dan ia harus puas dengan tetap mendapat emas tapi dari nomor ganda putra bersama Stanislas Wawrinka.
Prestasi puncak di cabang tenis tentu milik petenis Spanyol, Rafael Nadal. Medali emas yang diraih sebagai kampiun di tunggal putra melengkapi tahta nomor satu dunia yang diambilnya dari Federer.
Rekor juga dibuat oleh Zhang Ning, pebulutangkis tunggal putri asal Cina. Ia menjadi satu-satunya pemain yang dua kali bertutur-turut memperoleh emas Olimpiade. Di Athena 2004 ia juga memperoleh emas seperti yang dilakukannya sekarang. Hebatnya, kini usianya sudah tidak muda lagi, 33 tahun.
Zhang Ning inilah yang mengalahkan pebulutangkis kita, Maria Kristin di babak semifinal. Meski kalah dan akhirnya memperoleh medali perunggu namun prestasi Maria juga terbilang rekor. Ia merupakan unggulan ke-21 dan tidak ditargetkan untuk merebut medali. Dalam perebutan tempat ketiga malah ia sampai membuat menangis atlet Cina, Lu Lan sehingga tuan rumah gagal memborong posisi podium.
Satu-satunya emas kita, ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan, tentu juga memiliki rekor. Paling tidak untuk diri mereka yang kurang diunggulkan dibandingkan ganda campuran Nova Widianto/Lilyana Natsir.
Masih banyak rekor-rekor terjadi di Olimpiade Beijing. Terakhir tentu keberhasilan Cina untuk pertama kalinya menjadi pengumpul medali terbanyak. Rekor fantastis ini melengkapi rekor sebelumnya yang menjadikan Olimpiade Beijing sebagai Olimpiade termahal penyelenggaraannya dengan 70 miliar dolar AS atau sekitar 637 triliun rupiah. Peningkatannya sangat tajam dibanding Olimpiade Athena 2004 yang hanya 11,7 miliar dolar.
Sayang memang kefantastisan ini kurang sempurna jika melihat di balik kekerasan pemerintah Cina terhadap negeri jajahannya, Tibet. Barangkali usai Olimpiade mereka sadar kalau One World One Dream bukan hanya dalam slogan, tapi juga merupakan kenyataan yang harus diwujudkan di seluruh dunia termasuk Tibet didalamnya.
Email: lili@bolanews.com atau ramtodi@yahoo.com
Blog: http://liliantoapriadi.blogspot.com Lilianto Apriadi |
|
 |

|