Lilianto Apriadi ABAL-ABAL Senin, 4 Agustus 2008 pukul 12:38:17 WIB
 | Makna kata abal-abal masih asing di telinga. Namun, belakangan mulai banyak dipakai untuk menunjukkan kepalsuan. Bisa juga peristiwa batalnya pertarungan tinju antara Chris John dan Jackson Asiku belum lama ini disebut sebagai tinju abal-abal. Begitu pula dengan Liga Super Indonesia yang sedang berlangsung, pantas disebut liga abal-abal!
Di dalam kamus Melayu didapatkan arti ”abal-abal”, yaitu lancung, imitasi, palsu. Arti lain mengandung makna pecundang. Mau dipakai arti yang mana, rasanya pas untuk melihat makna dua peristiwa olahraga besar yang gagal dan sedang berlangsung itu.
Batalnya Chris John melawan Asiku terasa penuh sandiwara. Perhelatan adu jotos itu bagai penuh kepalsuan. Lihat saja bagaimana pihak petinju mau menerima bayaran, walau sebenarnya di dalam diri mereka terselip ”permainan” bahwa sebenarnya pertarungan sudah tidak bisa terjadi. Bayaran itu memang tidak sesuai aturan, tapi yang disesalkan masyarakat karena tidak diberikan gambaran jelas oleh kubu Chris bahwa sebenarnya pertarungan sudah batal enam hari sebelum jadwal duel.
Seharusnya kubu Chris transparan sehingga masyarakat tidak bertanya-tanya kenapa pada saat timbang badan Chris ogah ditimbang dan kabarnya kelebihan berat badan. Begitu pula dengan sang lawan, entah berada di mana pada saat timbang badan akan dilakukan. Penata pertarungan bilang sedang menuju tempat timbang badan, tapi tidak muncul-muncul.
Inilah akhirnya yang terjadi. Kedua petinju tidak melakukan timbang badan, sehingga pihak WBA membatalkan pertarungan. Nasib Chris John pun belum jelas hingga sekarang. Apakah masih juara dunia kelas bulu atau dicopot gelarnya oleh WBA?
Tidak ada yang mengungkap, apakah peristiwa ini terjadi untuk pertama kali dalam olahraga tinju dunia atau sudah ada sebelumnya? Namun yang jelas komentar sinis bermunculan. Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault menyebut peristiwa itu sebagai hal menjijikkan. Pers banyak menilai sebagai kejadian yang memalukan, mencoreng muka Indonesia.
Kok bisa begitu ya? Ya, bisa saja karena adanya nuansa abal-abal, imitasi, atau kepalsuan dalam lingkungan kejuaraan tinju dunia tersebut. Dimulai tentu dari regulasi. Kenapa sang promotor diperbolehkan membayar telat dan dengan jumlah uang yang tidak sesuai kesepakatan? Kepalsuan regulasi ini dilanjutkan oleh imitasi sikap pihak terkait.
Barang palsu, benda imitasi, ujungnya adalah menjadi pecundang karena pada akhirnya akan kalah dari yang asli. Kalah dari organisasi maupun individu yang memiliki kakarter prima.
***
Nah, untuk Liga Super Indonesia mau dibilang apa lagi kalau bukan disebut sebagai liga abal-abal, liga penuh kepalsuan yang akhirnya mencuatkan watak pecundang?
Ngakunya Liga Super, tapi kok masih banyak dana APBD yang dipakai klub? Ngakunya Liga Super, tapi kok kerusuhan masih saja terjadi? Ngakunya Liga Super, kok ngatur jadwal saja tidak memiliki manajemen yang baik? Sudah tahu pemakaian Stadion Utama Senayan riskan resiko, tapi kenapa Persija tidak diberikan alternatif tempat maupun jadwal pertandingan? Ngakunya Liga Super yang akan mendongkrak prestasi tim nasional, tapi mana bisa dengan dominasi legiun asing? Jadi, apanya yang super?
Keabal-abalan sepakbola Indonesia bukan hanya terjadi pada Liga Super Indonesia tapi jauh dimulai dari sikap para pengurus PSSI. Mereka penuh kepalsuan, dari Munas 2007 hingga masuknya sang ketua umum Nurdin Halid ke dalam penjara.
Para pengurus di luar penjara seolah-olah merasa tidak terjadi perubahan sedikitpun dalam mengurus PSSI meski ketuanya sedang pesakitan. Dalam ilmu apapun, organisasi seperti ini ya organisasi abal-abal, organisasi palsu. Apalagi hal ini didukung oleh sikap FIFA yang masih mengosongkan nama di posisi Ketua Umum PSSI dalam situsnya.
Untuk mengubah dari abal-abal menjadi yang benar diperlukan sikap jujur, obyektiv, dan jangan mudah menyerah dalam memberantas kepalsuan tersebut. Sayang, sikap ini terus menghilang dan kini dengan terbuka dapat dilihat dalam kubu tinju profesional dan Liga Super Indonesia.
Seharusnya dengan embel-embel profesional dalam kompetisi mereka, lebih mengedepankan nilai profesionalitas dalam sikap organisasi maupun keseharian. Bukan sebaliknya, menjadi abal-abal.
Kepalsuan juga jangan terjadi di dalam diri para atlet kita yang berjuang di Olimpiade 8-18 Agustus mendatang. Meski ada bonus tiga miliar rupiah bagi peraih emas, berjuang atas nama negara juga harus dijunjung tinggi. Jangan sampai berjuang di Beijing hanya ingin memburu bonus, sehingga saat mendengar lagu Indonesia Raya yang mengucur justru air mata buaya. Berilah kado terbaik untuk bangsa dan negara di hari jadi ke 63 tahun ini.
Email: lili@bolanews.com atau ramtodi@yahoo.com
Blog: http://liliantoapriadi.blogspot.com Lilianto Apriadi |