|
|
 |
Home
>
LILIANTO APRIADI
Lilianto Apriadi BIBIT UNGGUL BANG IS Rabu, 16 Juli 2008 pukul 10:11:39 WIB
 | Dua kekalahan beruntun tim nasional di bawah usia 16 tahun dalam Piala AFF sehingga menjauhkan gelar juara, bagai melepas kepergian legenda sepakbola Iswadi Idris. Hingga akhir hayatnya, Bang Is masih mendambakan lahirnya bibit unggul sepakbola Indonesia.
Ada keinginan Iswadi Idris yang belum terwujud yaitu menengok pertandingan sepakbola di PON XVII Kalimantan Timur. Sebagai anggota pengurus Badan Tim Nasional sangat wajar ia mencari bibit-bibit unggul dalam arena itu. Apalagi ia mempunyai tugas pokok memonitoring tim nasional.
Niat itu tak kesampaian karena Bang Is terserang sakit stroke hingga menghembuskan nafas terakhir pada Jumat (11/7). Keesokan harinya jasad legenda berusia 60 tahun itu dimakamkan di Karet Bivak Jakarta.
Entah kebetulan atau tidak, sebelum Bang Is beristirahat selamanya di sana sudah berdiri rumah makan ” Ikan Bakar Bang Iz” di seberang pemakaman. Selama ini kalau lewat jalan di depan resto itu, ingatan selalu melayang kepada Iswadi Idris yang biasa dipanggil dengan Bang Is oleh rekan-rekan wartawan maupun teman-teman di bawah usianya.
Hanya satu dalam pikiran bahwa yang memiliki brand ”Bang Iz”. Ya, Iswadi Idris, mantan pemain nasional di era 1970 an yang pernah mengisi berbagai posisi itu. Ingat nama itu pastilah melayang ke sosok pemain gempal dan lincah.
***
Kenapa antara ”Bang Iz” yang ikan bakar dan ”Bang Is” yang mantan pemain nasional dihubungkan? Sekadar membuktikan betapa akrabnya panggilan itu di dalam diri pecinta sepakbola.
Sebenarnya bukan hanya Iswadi yang akrab, khususnya dengan wartawan, di era itu. Masih ada legenda-legenda lain, seperti Abdul Kadir (juga sudah almarhum), Sutjipto Soentoro (almarhum), dan pemain-pemain setelahnya hingga memasuki tahun 1990-an.
Hubungan pemain dengan wartawan sudah banyak yang bukan semata dilandasi pekerjaan, tapi juga persahabatan dan kekeluargaan. Kebetulan memang Iswadi berada di rumput hijau cukup lama yang kemudian dilanjutkan dengan menjadi pelatih dan pengurus PSSI. Nama Bang Is demikian lekat.
Sebagai pemain, ia menjadi salah satu anggota era emas kedua tim nasional 1970 an. Era emas pertama diukir oleh Ramang Cs dengan prestasi yang masih dikenang yaitu menahan imbang raksasa Uni Soviet 0-0 di Olimpiade Melbourne 1956.
Dengan mudah setiap pecinta sepakbola di era 1970 an menyebut anggota timnas lengkap dengan posisinya. Iswadi Idris pada waktu itu berposisi sebagai kanan luar dan mengenakan nomor punggung 7. Ketika itu nomor punggung masih berurutan dan sistem permainan tidak bervariatif seperti sekarang. Pemain-pemain seeranya dalam timnas di antaranya adalah Sutjipto Soentoro (penyerang tengah), Abdul Kadir (kiri luar), Jacob Sihasale (penyerang), M. Basri (kanan/kiri dalam), Sinyo Aliandoe (kiri/kanan dalam), Surya Lesmana (gelandang kiri), Mulyadi (gelandang kanan), Anwar Ujang (gelandang tengah), Yuswardi (bek kanan), Sunarto (bek kiri), dan kiper Yudo Hadianto atau Ronny Pasla.
Lamanya merumput membuat Iswadi juga pernah setim dengan pemain-pemain seangkatan setelah era itu, di antaranya Junaedi Abdillah, Andi Lala (almarhum), Anjas Asmara, Ronny Patinasarani, dan banyak lagi.
Akibat lamanya juga ia menjadi pelopor pemain yang berganti-ganti posisi sebelum diteruskan oleh Ronny Pattinasarani. Dalam bermain bahkan ia pernah menjadi libero andal, posisi yang juga pernah dilakukan oleh Ronny. Dari berbagai posisi inilah, ia diidentikkan pula dengan nomor punggung yang oleh kebanyakan orang dianggap sial, yaitu 13. Kebanggaan lain tentu tugasnya sebagai kapten timnas dalam waktu yang cukup lama.
Meski lahir di Aceh, Iswadi benar-benar produk sepakbola Jakarta. Ia lulusan anak gawang yang terkenal di ibukota dan bermarkas di Lapangan Banteng, yaitu MBFA, sebelum ke klub sohor Indonesia Muda. Lalu bersama pemain-pemain terbaik Indonesia ia digabungkan oleh pengusaha asal Medan yang gemar sepakbola dan akhirnya juga menjadi pengurus PSSI, yaitu TD Pardede ke dalam klub Pardedetex Medan.
Dari Medan kemudian ia ke Australia menjadi pemain asing di klub Western Suburbs. Ia menjadi pelopor pemain Indonesia yang bermain di luar negeri.
Sayang, karir pelatihnya tidak secemerlang ketika menjadi pemain. Ia pernah menangani klub Perkesa 78 dan tim nasional bersama dua rekannya Basri dan Abdul Kadir dan dikenal dengan trio Basiska. Mungkin karena pengalaman di berbagai posisi ketika melatih ia dikenal sebagai pelatih yang memprioritaskan pertahanan ketimbang serangan cantik.
***
Kepahlawanannya, seperti juga kepahlawanan legendaris lainnya, belum dijadikan bahan pembelajaran berharga bagi kemajuan sepakbola Indonesia. Seperti ditunjukkan bukti soal itu, di saat kepergian Bang Is, tim di bawah usia 16 tahun gagal total di ajang Piala AFF. Tim Merah Putih sebagai tuan rumah tidak bisa meladeni Australia dan Bahrain. Mereka digebuk 0-6 dan 0-2 serta tipis peluang maju ke grand final.
Juga di tengah gemuruhnya Liga Super Indonesia dengan pemain-pemain lokal berbakat yang tetap saja langka. Kepergiannya pula di tengah usaha ”crash program” PSSI dengan mengirim pemain-pemain muda ke Uruguay, yang hampir dipastikan nasibnya akan seperti tim Baretti maupun Primavera dulu. Tidak melahirkan tim yang memiliki kesinambungan pembinaan. Yang ada tim semusim, setelah itu nol lagi.
Bang Is telah memberikan contoh bahwa pembinaan usia dini sangat vital dalam sepakbola. Untuk menjadi legenda ia harus mulai dulu dari anak gawang.
Selamat jalan, Bang Is!
Email: lili@bolanews.com atau ramtodi@yahoo.com
Blog: http://liliantoapriadi.blogspot.com Lilianto Apriadi |
|
 |

|