PRINT EDITION | FORUM DISKUSI | AGENDA | PHOTOFOLIO | EURO 2008
BALAP
BASKET
BULUTANGKIS
OLE! INTERNASIONAL
OLE! NASIONAL
TENIS
TINJU
CABANG LAIN
Home  >  LILIANTO APRIADI



Lilianto Apriadi
PAMOR PELATIH TUA
Selasa, 24 Juni 2008 pukul 18:14:30 WIB
   Setelah Belanda dan Italia tersingkir, pamor pelatih tua di Piala Eropa naik lagi. Tiga dari empat semifinalis dilatih oleh orang-orang tua. Mungkinkah mereka disodok oleh Jerman yang memiliki pelatih di bawah usia 50 tahun?

Menggadang-gadang pelatih berusia muda dalam lima tahun terakhir sering digemakan. Virus itu di Piala Eropa 2008 juga muncul. Apalagi mereka memang menjanjikan. Sebut misalnya Marco van Basten, mantan pemain nasional Tim Oranye era 1980-90 an yang berusia 43 tahun. Sejak ditanganinya, Belanda terus berkibar. Dia juga mengumpulkan pemain-pemain muda skill tinggi dalam skuadnya.

Seperti sudah diketahui, Belanda di Euro 2008 ini hanya berjaya di babak penyisihan. Di fase knock-out perempatfinal, mereka tumbang dari kuda hitam Rusia.

Seangkatan Van Basten di AC Milan, yaitu Roberto Donadoni juga dipuja-puji sebagai pelatih muda berbakat. Sebab itulah FIGC (Federasi Sepakbola Italia) langsung menunjuknya untuk menggantikan pelatih Marcello Lippi setelah sukses menjuarai Piala Dunia.

Donadoni juga seperti Basten, gagal membawa timnya ke semifinal. Italia dikalahkan oleh Spanyol di perempatfinal.

Masih dari deretan pelatih muda adalah Slaven Bilic, lebih muda dari Basten maupun Donadoni, yakni 39 tahun. Pujian selangit buat mantan pemain Everton dan Hajduk ini yang menukangi Kroasia. Apalagi di babak prakualifikasi timnya menyingkirkan Inggris sekaligus ”menghadiahi” Rusia ke Austria-Swiss.

Tapi, seperti diketahui pula. Justru Rusia yang dibawanya menjadi ”anak macan” berprestasi lebih tinggi ketimbang timnya. Tanpa diduga Kroasia tumbang di tangan Turki di babak perempatfinal. Bilic pun tenggelam.

Bukan karena kebetulan kalau pelatih-pelatih tim yang menumbangkan Belanda, Italia, dan Kroasia berusia di atas 50 tahun. Bahkan tim Matador Spanyol dilatih oleh Luis Aragones yang sebulan lagi genap berusia 70 tahun (kelahiran 28 Juli 1938). Dua pelatih yang lain, yaitu Guus Hiddink berusia 61 tahun (kelahiran 8 November 1946) dan Fatih Terim, 54 tahun (kelahiran 4 September 1953).

Fenomena ini sebenarnya tidak mengherankan. Sebelumnya dominasi pelatih tua juga terlihat dalam berbagai kejuaraan. Klub Manchseter United yang baru saja merenggut juara Liga Champion ditangani oleh Alex Fergusson yang sudah berusia 66 tahun. Rinus Michels ketika membawa Belanda juara Piala Eropa 1988 berusia 60 tahun. Sementara itu, Marcelo Lippi menghadiahi Italia juara dunia untuk keempatkalinya pada 2006 berusia 58 tahun. Sebelumnya di tahun 1982, Enzo Bearzot menjadikan Italia juara dunia pada usia 55 tahun.

Di Brasil, pelatih-pelatih tua juga sempat menorehkan prestasi. Sebut umpamanya Mario Zagalo saat berusia 63 tahun masih mendampingi tim Samba Brasil untuk merebut juara dunia keempatkali pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Itu merupakan ulangan prestasinya membawa Brasil juara pada 1970 (sebagai pelatih) dan pemain (1958 dan 1962).

***


Kunci keberhasilan pelatih-pelatih lanjut usia ini tak lain strateginyang berdasar pada pengalaman yang segudang. Hiddink selain punya tuah bertangan dingin juga pernah menjadi guru Van Basten ketika striker flamboyan itu memulai profesi sebagai pelatih. Bukan hanya di luar Belanda, seperti menangani Korea Selatan (hingga semifinal Piala Dunia 2002) dan Australia (masuk 16 Besar Piala Dunia 2006), Hiddink juga sempat menangani beberapa klub lokal, seperti PSV Eindhoven dan tentu timnas Belanda sendiri.

So, Belanda meskipun ditangani pelatih sekaliber Basten menjadi makanan empuk sang meneer. Ia sudah tahu persis isi perut Tim Oranye. Apalagi Rusia memiliki Beruang-Beruang Merah yang baru saja merebut Piala UEFA lewat klub Zenit. Tak heran kalau Hiddink sempat berucap akan melakukan ”penghianatan” kepada negerinya sebelum perang Rusia vs Belanda dimulai.

Nama yang lebih tua lagi adalah Luis Aragones. Tepatnya dia adalah seorang kakek. Dengan usia 70 tahun apalagi yang pantas dilakukan kalau bukan bersenang-senang dengan cucu. Tapi si kakek malah berpikir keras bagaimana menaklukkan Italia yang dilatih oleh seseorang yang lebih muda 20 tahun darinya. Italia akhirnya takluk sekaligus menghilangkan trauma kalah adu penalti yang diderita tim Spanyol sejak Piala Eropa 1996.

Aragones sepertinya memberi bukti kalau federasi sepakbola Spanyol tidak percuma menunjuknya sebagai pelatih. Setelah kegagalan tak kunjung henti diterima oleh Tim Matador, para pengurus sepakbola di sana seperti lelah mencari pelatih. Dipilihlah Aragones yang sudah kenyang menangani klub-klub Liga Spanyol. Tidak kurang dari delapan klub La Liga pernah ia besut.

Begitu pula dengan Fatih Terim, pelatih Turki. Memang usianya kalah tua dari Hiddink dan Aragones, tapi pengalamannya cukup banyak. Bolak-balik menjadi pelatih nasional Turki diselingi oleh melatih klub Galatasaray dan AC Milan.

Pelatih paling muda dari para semifinalis adalah Joachim Low, pelatih Jerman yang berusia 48 tahun. Ia memang tidak seperti Basten dan Donadoni yang mempunyai masa gemilang ketika merumput, tapi ia disebut-sebut sebagai kunci sukses Juergen Klinsman menangani Jerman pada Piala Dunia 2006.

Meski tidak juara, Klinsmann dianggap berhasil mencuatkan pemain-pemain muda di kubu Tim Panser. Tapi, banyak kalangan berpendapat kalau kesuksesan itu lebih disebabkan pemikiran Low ketimbang Klinsmann. Dialah sebenarnya yang ”menukangi” Jerman. Tapi karena kalah nama besar dibanding Klinsman, ia pun hanya bekerja di belakang sang pelatih.

Buah tangannya terlihat jelas di Euro 2008. Tidak ada penurunan kualitas selepas Klinsman pergi ke Amerika Serikat. Malah banyak yang menganggap Jerman kali ini lebih bertenaga. Bahan bakar dieselnya beroktan lebih tinggi!

Low mencoba menyodok untuk menyingkirkan pelatih-pelatih yang lebih berpengalaman darinya. Lawan Turki memang Jerman di atas angin. Tapi jika lolos ke final ditunggu oleh pasukan Hiddink atau Aragones, Jerman bakal kesulitan. Sebaliknya kalau kalah di semifinal, selesailah langkah pelatih di bawah usia 50 tahun dalam Euro 2008.

Berbeda dengan langkah pelatih tua, hingga final tetap akan diwakili oleh Hiddink atau Aragones. Pertarungan Rusia lawan Spanyol di semifinal memang ibarat perang pengalaman antarpelatih. Untuk variasi negara, Hiddink memang unggul. Tapi untuk lamanya menangani tim, Aragones yang menang.

Pesta di Austria-Swiss walau tanpa Inggris, dan gagalnya Prancis, Portugal, Belanda, dan Italia ke babak semifinal, tidak mengurangi pancarannya. Jerman memang masuk prediksi, tapi Turki, Rusia, dan Spanyol tetap menyinarinya lewat sentuhan sang arsitek gaek.

Mereka tempat belajar kita, mestinya.

Email: lili@bolanews.com atau ramtodi@yahoo.com
Blog: http://liliantoapriadi.blogspot.com

Lilianto Apriadi
SPORTS NEWS

Pertandingan Persahabatan
BRASIL 6, PORTUGAL 2

Kemenangan Argentina atas Skotlandia
MARADONA JAWAB KERAGUAN

Pertandingan Persahabatan
TONI CIPTAKAN SEJARAH LIPPI

Grand Royal Challenge
INDONESIA KE FINAL

Jelang Jerman vs Inggris
INGGRIS KEHILANGAN WALCOTT

Kasus Pelemparan Koin
HUKUMAN TIGA LAGA BAGI DROGBA

Seputar Serie A
PANTAI GADING, TARGET SELANJUTNYA CARLETTO

Jelang Yunani vs Italia
DE SANCTIS DAN ROSSI STARTER

Seputar Sepakbola Dunia
GULDBOLLEN UNTUK IBRA

Seputar Premiership
SHEARER BERSEDIA TANGANI NEWCASTLE

ARSIP

Lilianto Apriadi
OLIMPIADE FANTASTIS

Lilianto Apriadi
ABAL-ABAL

Lilianto Apriadi
PRAHARA DKI

Lilianto Apriadi
BIBIT UNGGUL BANG IS

Lilianto Apriadi
INI PON, BUKAN KLIWON

Berita Lainnya ...

 

© BolaNews.com - Logo and web content are trademarks of PT.Tunas Bola. All rights reserved.
Developed by WEBPACIFIC