|
|
 |
Home
>
LILIANTO APRIADI
Lilianto Apriadi FEDERER DAN SWISS Rabu, 11 Juni 2008 pukul 10:11:18 WIB
 | Adakah hubungan antara Roger Federer dengan Swiss? Jelas ada dong. Federer kan warga negara Swiss. Hubungan lain kalau mau dicari lagi: meski sebagai tuan rumah, Swiss tumbang di acara pembukaan Euro 2008 pada Sabtu (8/6) dari Ceska. Eh besoknya Federer juga kalah telak dari Rafael Nadal di final Prancis Terbuka.
Walau keduanya ada hubungan tapi sampai sekarang belum ada beritanya, apakah Federer punya perhatian dengan sepakbola, cabang populer yang kejuaraan Eropanya sekarang sedang berlangsung di negerinya? Juga apakah kekalahan mudahnya dari Nadal itu ada kaitannya dengan kekalahan Swiss dari Ceska?
Tapi yang jelas kekalahan-kekalahan itu punya banyak makna. Bagi Federer, semakin menunjukkan bahwa dia walau petenis nomor satu dunia tapi bukan ”Raja” di tanah liat. Predikat itu milik Nadal. Kekalahan terakhirnya dari Nadal itu terbilang tersingkat setelah Guillermo Villas menelan Brian Gottfried pada final 1977. Kekalahan di game terakhir dengan 0-6 bahkan tidak mencerminkan dia seorang juara dunia.
Keputusasaan, kekurangpercayaan diri, bahkan bisa jadi merupakan kebodohan seorang Federer dalam menghadapi Nadal terlihat jelas. Bahkan dalam beberapa kali perlawanan sebelumnya menjadi bukti lain kondisi seperti itu. Dia telah gagal mengambil pelajaran dari beberapa kali kekalahan di tanah liat dari Nadal bahkan dari petenis-petenis lain yang pernah mengalahkannya.
Berkali-kali pada kesempatan bertemu Nadal, Federer memiliki peluang untuk menang. Angka 5 sering menjadi titik paling tinggi langkahnya. Setelah itu terkunci, entah berakhir dengan kekalahan 5-7 atau tie break. Dalam final Hamburg Open lalu bahkan Federer sempat unggul 5-2, sebelum diputar balik oleh Nadal menjadi 5-7.
***
Lupakan Federer yang semakin jauh dengan rekor jumlah grand slam Pete Sampras dengan 14 gelar (Nadal masih bertahan dengan 12). Bahkan bisa jadi posisi nomor satu dunia walau masih dipegangnya akan direbut oleh Nadal. Kini tengoklah Swiss, bukan hanya kesebelasannya tapi juga negaranya.
Swiss bersama Austria sudah mengarungi pertandingan pertamanya dengan kekalahan. Kekalahan Swiss dan Austria menambah rekor panjang nasib tuan rumah Piala Eropa yang gagal berprestasi manis. Sejak 1984, tidak ada lagi tuan rumah yang menjadi juara.
Prancis adalah tuan rumah terakhir (1984) yang menjadi juara Eropa. Sebelumnya adalah Spanyol (1964) dan Italia (1968). Jadi sejak 1960 hingga 2004 atau sudah 12 kali kejuaraan antarnegara Eropa ini diadakan baru tiga kali tuan rumah menjadi juara. Jumlah ini diperkirakan tidak akan bertambah mengingat Swiss dan Austria tidak memiliki kekuatan mumpuni untuk unggul atas para favorit.
Untuk ukuran finalis, sepanjang kejuaraan, kecuali 1964, 1968, dan 1984, baru satu tuan rumah yang masuk final, yaitu Portugal pada 2004 yang dikalahkan Yunani. Swiss dan Austria pun diperkirakan tidak akan menembus final Euro 2008.
Berbicara tuan rumah, barangkali hanya dua negara yang benar-benar terpukul gagal hadir di partai pamungkas. Inggris pada 1996 dan Portugal pada 2004.
Inggris dengan promo yang fantastis: Football Coming Home, hanya sampai babak semifinal setelah dihentikan oleh Jerman yang akhirnya muncul sebagai juara.
Publik Inggris ketika itu benar-benar berharap negerinya menjadi juara. Hubungan 1996 dengan 1966 saat Inggris menjadi juara Piala Dunia di Stadion Wembley begitu dikumandangkan. Siklus 30 tahun bakal terjadi di tempat sama. Kenyataannya yang pulang ke rumah bukan sepakbola, tapi para pemain Inggris!
Tangisan dan kejadian yang sulit diterima menimpa tuan rumah Portugal pada 2004. Kekalahan pertama di penyisihan grup dari Yunani dianggap kecelakaan. Kendati kurang diunggulkan, pelan tapi pasti Portugal melaju ke final. Musuhnya secara mengejutkan adalah Yunani.
Hanya keledai yang jatuh di lubang sama. Portugal tidak mau seperti keledai. Banyak orang juga berpikiran begitu. Di lihat dari segala sudut tidak ada titik lemah jika Portugal dibandingkan dengan Yunani.
Pelajaran berharga sudah diterima, kekuatan pemain dimiliki. Selaku tuan rumah, suporter akan menjadi pemain ke-12. Pelatihnya, Luiz Felipe Scolari, baru saja membawa Brasil merebut Piala Dunia untuk kelima kalinya. Portugal punya segalanya.
Tapi, di lapangan yang terjadi adalah gawang Yunani tidak tembus dari bombardiran pemain-pemain Portugal. Hasil 1-0 untuk Yunani membuat banyak orang terkejut. Tuan rumah berduka. Sepakbola lagi-lagi penuh misteri.
***
Swiss dan juga Austria akan berbeda dengan Inggris maupun Portugal. Tuan rumah 2008 ini akan segera legowo jika sudah harus menjadi penonton sebelum pesta berakhir.
Mereka bukan seperti tuan rumah-tuan rumah lain yang memiliki pendukung fanatik. Jika timnya kalah, pendukung Swiss dan Austria pastilah tidak bikin ngaco. Begitu pula dengan panitia yang berasal dari tuan rumah, tidak akan patah semangat dalam melayani penonton, wartawan, dan tamu lain yang datang ke negerinya. Berbeda jika tuan rumah Inggris, Jerman, Italia, Prancis, dan Spanyol. Pelayanan tuan tuan rumah akan kentara perubahannya jika timnya sudah kalah sebelum hajatan berakhir.
Federer mencerminkan kebanyakan masyarakat Swiss maupun Austria. Mereka kurang tergebuk emosinya walau di negerinya sedang berlangsung pesta besar dengan mengusung tema : Expect Emotions.
Tadinya emosi penonton di negara lain diperkirakan juga hilang setelah tim pujaan Inggris gagal ke Swiss-Austria. Eh ternyata kegaduhan Piala Eropa sudah mulai terasa. Beberapa suporter banyak bikin ulah dan ditangkap polisi setempat. Soal hasil pertandingan baru Belanda yang bikin emosi meletup-letup setelah memukul juara dunia Italia dengan angka telak 3-0.
Kejutan dan misteri datang lagi donk!
Email: lili@bolanews.com atau ramtodi@yahoo.com
Blog: http://liliantoapriadi.blogspot.com Lilianto Apriadi |
|
 |

|