Lilianto Apriadi DULU ANGIE, SEKARANG DINARA Rabu, 4 Juni 2008 pukul 14:56:19 WIB
 | Ada fenomena menarik dari turnamen tenis akbar Prancis Terbuka tahun ini. Dominasi putri Rusia begitu menonjol dan terlebih Dinara Safina. Setelah menjuarai German Open, giliran unggulan pertama Maria Sharapova ditumbangkan hingga ia berpeluang menjuarai Prancis Terbuka.
Siapa Dinara? Yang lebih pantas menjawab sebenarnya Angelique Widjaja, petenis kita yang sekarang mulai terjun sebagai event organizer (EO). Kenapa harus Angie? Ya, karena dia yang pernah mengalahkan Dinara saat dua petenis ini bertarung di final Wimbledon Junior 2001.
Saat itu, Angie menjadi petenis Indonesia pertama yang menjuarai turnamen sekelas grand slam, meskipun kategori junior. Petenis Indonesia terkenal sebelumnya, Yayuk Basuki belum pernah punya prestasi sehebat Angie itu.
Tapi, seperti kita ketahui juga, prestasi terhebat Angie tidak pernah menembus babak perempatfinal grand slam, prestasi tertinggi yang pernah diraih oleh Yayuk Basuki di Wimbledon 1997. Angie pun tidak sampai ke peringkat 20 besar dunia sebagaimana yang pernah dicapai Yayuk. Selanjutnya, seiring dengan cedera demi cedera yang dialaminya, prestasinya menurun hingga akhirnya belum lama ini kita baca maupun dengar ia berlaku sebagai EO sebuah turnamen tenis.
Sebaliknya dengan Dinara. Adik Marat Safin, petenis yang pernah meraih gelar juara Australia Terbuka itu, terus meroket. Seluruh petenis terbaik yang berada di atasnya sekarang pernah ia kalahkan, termasuk Justin Henin, yang mundur walau masih berada di singgasana sebagai petenis nomor satu dunia.
***
Dulu Angie, sekarang Dinara. Dulu Angie menang atas Dinara, tapi sekarang Dinara unggul segalanya di lapangan tenis atas Angie. Kenapa bisa begini? Ada apa gerangan?
Lagi-lagi yang bisa diungkap adalah soal klasik. Masalah pembinaan, profesionalitas, dan barangkali soal talenta.
Pembinaan kita tidak bergerak, dari junior terus entah ke mana. Profesionalitas belum menjadi bagian utama dari pelaku olahraga kita. Gaya hidup yang masih menganut ”homesick” membuat atlet-atlet kita tidak berani hidup dari turnamen ke turnamen di manca negara.
Soal talenta, misalnya, benarkah sosok Angie yang memiliki tubuh tidak seimbang antara bagian atas dan bawah benar-benar cocok untuk bermain tenis? Menyangkut soal ini berurusan juga dengan pembinaan usia dini yang menyeluruh, bukan hanya keterampilan teknik tapi juga bentuk fisik.
Namun di balik itu, lagi-lagi kita melihat dengan gagalnya Angie mengikuti jejak lawannya dulu itu dan kini menjadi penata acara, sebenarnya orang-orang kita memang pantas menjadi penyelenggara. Lihatlah berbagai event maupun acara di luar olahraga, berlangsung sukses di negeri ini.
Kejuaraan sepakbola Piala Asia yang tahun lalu berlangsung di sini, apa nggak sukses? Sampai-sampai Presiden FIFA Sepp Blatter memuji pelaksanaan. Sebelumnya ada lomba balap mobil A-1. Lalu yang terakhir kejuaraan bulutangkis Piala Thomas-Uber. Penonton berjubel, dari Presiden sampai rakyat yang harus antre berjam-jam untuk membeli tiket. Para peserta juga senang dengan keramahan dan atraksi para suporter Indonesia.
Tetapi jangan bicara prestasi. Meski tim nasional sepakbola kita sempat mengalahkan Bahrain, tapi hanya sampai itu. Begitu pula dengan lomba A-1. Pembalap andalan kita, Ananda Mikola, lebih banyak melakukan promo ketimbang aksi di sirkuit. Untuk tim Thomas dan Uber, yang perlu disalami hanya tim Uber yang berhasil menembus final. Untuk tim Thomas kita, loyo! Semua juara dalam turnamen-turnamen itu adalah tetamu!
Seolah ingin menguatkan posisi sebagai penyelenggara, pada bulan Oktober mendatang di Bali akan diselenggarakan Asian Beach Game (ABG). Pesta olahraga pantai itu akan mempertandingkan 14 cabang dan diikuti oleh 45 negara.
Kalau penyelenggaraannya sederhana sih nggak apa-apa. Tapi secara mengejutkan, pemerintah lewat Menko Kesra Aburizal Bakrie menggelontorkan dana 80 miliar rupiah untuk membantu penyelenggaraanya yang sebelumnya kekurangan dana.
Kondisi itu sangat miris karena terjadi pada saat dana olahraga kita di sana-sini sedang problema. Penyelanggaraan PON masih butuh dana, klub-klub sepakbola malah dianjurkan jangan memakai dana APBD.
Ada harapan lain memang dari pesta ABG itu, yakni menarik pariwisata di Bali dalam rangka Visit Indonesia Year 2008. Kalau begini kenapa tidak disebar penyelenggaraan 14 cabang itu? Pulau-pulau lain di Bumi Pertiwi ini masih banyak yang memiliki pantai dan layak dipromosikan. Keindahan Bali tidak perlu lagi dipromosikan begini besar. Pulau Dewata itu sudah dikenal ke seantero dunia, bahkan lebih terkenal ketimbang Indonesia sendiri.
Dipastikan juga, pesta ABG itu bakal dikuasai negeri tamu. Cabang-cabang yang dipertandingkan, yaitu bola voli pantai, sepaktakraw pantai, renang maraton, sepakbola pantai, handball, perahu naga, selancar angin, layar, terbang layang, jet ski, triatlon, binaraga pantai, kabali (silat india), pencaksilat, bukan mayoritas milik Indonesia walau kita dikenal sebagai negara maritim.
***
Menjadi penyelenggara sah-sah saja. Jika tak memperoleh prestasi dari penyelenggaraan, bisa saja kita mengeruk keuntungan materi dari acara itu. Tapi itu juga belum terjadi di negeri kita. Kita belum tahu apakah lomba A-1, Piala Asia, dan Piala Thomas-Uber mendatangkan keuntungan materi atau tidak bagi penyelenggara. Urusan akuntabilitas di negeri ini miskin sekali.
Kita bisa ambil contoh bagaimana Amerika Serikat menjadi tuan rumah Piala Dunia 1994. Gema sepakbola membahana di negeri itu, sementara keuntungan materi juga diraih. Di lain hal, Swis dan Austria lebih memilih keuntungan materi ketimbang prestasi saat mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Eropa 2008. Walau bakal ikut, dua tuan rumah itu diperkirakan tidak mampu bersaing dengan negara-negara kuat sepakbola Eropa untuk merebut gelar juara.
Kita belum bisa mengambil keuntungan atau pelajaran lebih banyak dalam posisi sebagai penyelenggara. Paling-paling yang terlihat adalah kemeriahan penonton atau merupakan hiburan bagi masyarakat di tengah gonjang-ganjing perekonomian kita. Setelah itu, wassalam.
Dan dalam sebulan ini akan lebih miris lagi kita rasakan. Pesta sepakbola Eropa di negeri nun jauh sana akan menyihir masyarakat kita menyaksikan geliat para bintang di lapangan di layar kaca. Kejadian lebih besar lagi kalau berlangsung Piala Dunia. Hal ini sudah berlangsung puluhan tahun lalu, sejak Piala Dunia 1970 disiarkan langsung oleh TVRI.
Selama itu prestasi tim nasional sepakbola kita tak beranjak. Bahkan kini sudah disalip oleh Jepang, Cina, Arab Saudi, dan negara-negara Timur Tengah lain. Dinara mengingatkan kita lagi bahwa sebenarnya dengan kerja keras, kita mampu berprestasi dunia. Bukan hanya sebagai penyelanggara atau penonton.
Indonesia bisa!
Email: lili@bolanews.com atau ramtodi@yahoo.com
Blog: http://liliantoapriadi.blogspot.com Lilianto Apriadi |