PRINT EDITION | FORUM DISKUSI | AGENDA | PHOTOFOLIO | EURO 2008
BALAP
BASKET
BULUTANGKIS
OLE! INTERNASIONAL
OLE! NASIONAL
TENIS
TINJU
CABANG LAIN
Home  >  LILIANTO APRIADI



Lilianto Apriadi
ANTARA BANG ALI DAN JOHN TERRY
Selasa, 27 Mei 2008 pukul 9:0:14 WIB
   Kata orang kebaikan dan keburukan beda-beda tipis. Nilai kebaikan buat kita bisa menjadi keburukan bagi orang lain. Rasa benci yang berlebihan bisa berubah menjadi rasa sayang. Tadi pahlawan, eh beberapa menit kemudian bisa menjadi pecundang.

Cerita-cerita itu menarik untuk dikedepankan dalam mengungkap dua peristiwa penting dalam dunia olahraga aktual. Memang masih banyak cerita penting yang belum lama inin terjadi, seperti kegagalan tim Piala Thomas menembus target ke final, dan banyak lagi. Tapi, dua peristiwa ini ada kemiripan. Tentunya menyangkut prestasi hebat dan buruk.

Mohon maaf, peristiwa pertama yang diungkap ini menyangkut tokoh yang belum lama meninggal dunia, yaitu Ali Sadikin. Sudah almarhum kok masih dibicarakan? Tak apa-apa ya karena ini mengungkap sejarah.

Ali Sadikin mantan Gubernur DKI Jaya yang akrab dipanggil Bang Ali terbilang sukses dalam menjalankan kepemimpinannya. Ibu kota kita ini ia sulap dengan kepemimpinan yang tegas walau kontroversial.

Ia pencetus proyek Muhammad Husni Thamrin (MHT), yakni pembangunan jalan hingga ke kampung-kampung. Proyek ini sangat berhasil, banyak jalan, gang dibuat, hingga pelosok kampung Jakarta bisa dilewati.

Ia juga menghidupkan perekonomian Jakarta lewat hiburan-hiburan. Salah satunya yang sampai sekarang kita nikmati adalah Taman Impian Jaya Ancol.

Pendek kata, Jakarta di bawah kepemimpinan Bang Ali maju pesat sehingga sebutan Kota Metropolitan diraih. Bang Ali menjadi panutan kesuksesan.

Prestasi inilah yang diusung oleh sekelompok pecinta sepakbola untuk membawanya menjadi Ketua Umum PSSI pada 1977. Pada saat itu prestasi PSSI di bawah ketua umum Bardosono dianggap gagal. Tidak menunggu masa Bardosono berakhir, Bang Ali berhasil diposisikan sebagai ketua umum PSSI lewat Sidang Luar Biasa.

Harapan masyarakat kepada salah satu pendiri KKO (Marinir) ini sangat besar. Memimpin Jakarta bisa, berarti menakhodai PSSI juga mampu. Apalagi lewat terobosan program, seperti pengiriman pemain ke Brasil (kiper Hariyanto, Suapri, dan banyak lagi).

Tapi apa lacur, prestasi tinggi tidak muncul. Bahkan pengiriman pemain ke Brasil dianggap gagal. Banyak yang mempertanyakan keberadaannya di PSSI. Apa perlu dipertahankan? Bahkan sebuah kolom di harian Kompas yang ditulis oleh Sumohadi Marsis (pendiri BOLA yang waktu itu masih menjadi wartawan Kompas) memberikan judul: ”Bendera Setengah Tiang Sepakbola Indonesia”.

Bang Ali tidak bisa menghabiskan masa kepengurusannya berbarengan dengan aktivitasnya di dalam Petisi 50 yang dikucilkan oleh Pemerintahan Soeharto waktu itu. Ia mundur pada 1980 atau setahun lebih awal dari waktu sebenarnya.

Memang di masa Bang Ali bergulir untuk pertama kali embrio dari kompetisi profesional, yakni Liga Sepakbola Utama (Galatama), tapi prestasinya dianggap gagal. Di eranya, timnas gagal di final SEA Games 1979 yang berlangsung di Jakarta. Untuk pertama kali juga timnas kalah dari Brunei Darussalam yakni pada Pra-Olimpiade 1980. Di ajang yang sama, tim kita dipukul juga oleh Malaysia dengan skor telak 1-6.

Dari cerita itu bisa dikesimpulkan: belum tentu di suatu bidang seseorang bisa berprestasi tinggi walau sebelumnya di bidang lain memiliki prestasi emas. Pahlawan di satu tempat, bisa menjadi pecundang di lain arena.

***


Cerita ini bisa pula digiring pada diri John Terry, kapten klub Chelsea yang kokoh dalam membela pertahanan. Ketika final Liga Champion melawan Manchester United, pekan lalu di Moskow, ia nyaris menjadi pahlawan.

Beberapa kali menjadi penyelamat dan yang paling heroik ketika sundulannya membuang tendangan keras Michal Carrick. Padahal kalau tidak dilakukannya, gol akan terjadi.

Sang Pahlawan itu bakal berlipat-lipat mendapat pujian kalau saja tendangan dari titik penalti tidak meleset. Ia jadi penentu saat itu. Jika masuk, maka gelar juara akan diterima Chelsea untuk pertama kali. Sejarah tercipta. Betapa bakal gembiranya bos Chelsea, Roman Abramovich.

Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Terry gagal, Manchester pun akhirnya menjadi juara lewat drama adu penalti itu. Kejadian beberapa menit sebelumnya yang membuatnya dipuja-puji, hilang seketika menjadi tangisan dan rasa sesal yang sulit dilupakan.

Tangisan dan rasa kecewa Terry dan para pendukung Chelsea mirip juga dengan rasa kecewa pecinta Bang Ali dulu. Kok gagal ya Bang Ali dalam memimpin PSSI? Apa kurangnya? Biaya ada, program juga matang? Ia juga punya pengalaman dalam membangun olahraga, khususnya di Jakarta dengan mendirikan Balai-balai Rakyat, sekolah untuk atlet di Ragunan, dan banyak kesuksesan lagi.

Begitu pula Terry. Apanya yang kurang dalam mengalgojo penalti? Kepercayaan diri tinggi, kemampuan juga tak kurang?

Itulah nasib. Hal-hal yang non teknis ini terjadi bukan hanya di olahraga tapi juga bidang lain. Bagaimana mengatasinya? Ilmunya sulit didapat. Paling-paling bejalar dari pengalaman itu.

Hanya kalau hal ini disamakan juga dengan kegagalan tim Piala Thomas di babak semifinal, sulit diterima. Pemain-pemain kita waktu itu memang kalah kualitas dari Korea Selatan. Ironisnya, itu terjadi dalam diri pemain-pemain kita yang punya prestasi lebih mentereng dari lawannya. Pemain-pemain kita kurang ngotot!

Selamat jalan, Bang Ali!

Email: lili@bolanews.com atau ramtodi@yahoo.com
Blog: http://liliantoapriadi.blogspot.com

Lilianto Apriadi
SPORTS NEWS

Piala Kremlin
DOMINASI RATU TUAN RUMAH

Seputar Serie A
SPALLETTI BUTUH MALAIKAT TOTTI

Pra-musim NBA
CLIPPERS PECUNDANGI LAKERS

Jelang Inggris vs Kazakhstan
INGGRIS TANPA SANG JENDERAL

Jelang Kualifikasi PD 2010
AMBISI MONTOLIVO

Seputar Serie A
EMERSON DUKUNG KEPUTUSAN DINHO

Pasca Beristirahat 3 Pekan
FEDERER KEMBALI DI MADRID

Tingginya Gaji Pemain
CARRAGHER & PLATINI DUKUNG SALARY CAP

Jelang Kualifikasi PD 2010
ADRIANO JURU GEDOR BRASIL

Seputar Serie A
ZLATAN PUJI MOURINHO

ARSIP

Lilianto Apriadi
PRAHARA DKI

Lilianto Apriadi
BIBIT UNGGUL BANG IS

Lilianto Apriadi
INI PON, BUKAN KLIWON

Lilianto Apriadi
DREAMS COME TRUE

Lilianto Apriadi
PAMOR PELATIH TUA

Berita Lainnya ...

 

© BolaNews.com - Logo and web content are trademarks of PT.Tunas Bola. All rights reserved.
Developed by WEBPACIFIC