|
|
 |
Home
>
LILIANTO APRIADI
Lilianto Apriadi BERGERAK ! BERGERAK ! Senin, 7 April 2008 pukul 14:46:48 WIB
 | Bagai lagu perjuangan “Maju Tak Gentar” yang dikumandangkan guna menggelorakan semangat untuk meraih kemenangan, beberapa pihak yang berkepentingan dengan sepakbola nasional sudah mulai bergerak mengusung pelaksanaan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) PSSI.
Beberapa daerah, seperti Solo, Surabaya, dan Bandung menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah Munaslub. Sementara itu kelompok-kelompok supporter sudah melakukan aksi demo ke kantor PSSI menuntut pelaksanan Munaslub.
Mereka itu adalah yang berurusan langsung dengan sepakbola di Tanah Air. Sementara itu, yang tidak langsung pun sudah buka mulut sekaligus mendesak agar deadline yang diberikan oleh FIFA pada bulan Juli 2008 untuk melaksanakan munaslub mengganti Ketua Umum dipenuhi. Tokoh yang paling kencang mendorong pelaksanaan di antaranya adalah Tondo Widodo, mantan pengurus PSSI yang kini lebih banyak mengurusi media.
Di luar itu adalah gerakan Indonesian Sports Watch (ISW) yang sudah lebih sistematis. Lembaga swadaya masyarakat yang bekerja sama dengan Lumbung Informasi Rakyat dan kedua lembaga itu diketuai oleh tokoh yang sama, Jusuf Rizal, sudah mengirim lembaran dukungan untuk melaksanakan Munaslub.
Adanya lembaran dukungan itu diharapkan untuk memperkuat gerakan penyelenggaraan Munaslub. “Kami bukan ingin mengambil alih, tapi mempercepat sekaligus membuat lancer pembinaan sepakboal di Tanah Air. Penyelenggara Munaslub tetaplah mereka-mereka yang berkepentingan,” ujar Jusuf Rizal.
Wajar saja, tokoh dan lembaga itu berkehendak melakukan gerakan mendukung Munaslub sekaligus mereformasi kepengurusan. Sebab, yang terlihat di lapangan, PSSI yang katanya mempunyai kewajiban membina sepakbola nasional, sepertinya adem ayem saja. Rapat Paripurna Nasional (Raparnas) yang belum lama diselenggarakan justru dipakai sebagai sarana tutup mulut bagi para peserta.
Sangat disayangkan memang, Raparnas yang dihadiri oleh para anggota PSSI itu tidak jelas arahnya. Padahal FIFA sudah jelas-jelas berharap kalau gerakan PSSI ke depan adalah menyelenggarakan Munaslub untuk memilih Ketua Umum dan Exco yang sebelumnya tentu mengesahkan Pedoman Dasar yang berafilisasi ke statuta FIFA.
***
Seperti yang sudah banyak diduga, pengurus PSSI sekarang memang enggan menyelenggarakan Munaslub yang berpedoman kepada statuta FIFA. Ultimatum dari berbagai pihak telah dilontarkan. Bahkan Menegpora Adhyaksa Dault mengancam akan memidanakan pengurus PSSI jika mereka berbohong. Di depan sang menteri, para pengurus memang menyebut kalau Indonesia tidak diskorsing (dibekukan) jika ketentuan FIFA tidak dipenuhi pada waktunya.
Aneh bin ajaib memang kalau seorang Menteri percaya begitu saja dengan omongan itu. Lepas dari adanya ancamannya, semestinya Adhyaksa melihat kepada kemandirian dan keutuhan organisasi sebesar FIFA. Kalau ketentuannya diindahkan, apakah FIFA akan diam saja? Jelaslah tidak mungkin. Mereka juga tentu akan bergerak lebih keras lagi.
Lalu, apakah gerakan sebagian Pengda, suporter, tokoh sepakbola, dan ISW akan ampuh meruntuhkan aroganisme Nurdin Halid dkk. untuk memenuhi ketentuan FIFA? Kita berharap gerakan ini paling ampuh. Kalau tidak bisa jadi ada sesuatu yang lebih besar lagi.
Menarik seperti yang ditulis oleh Ari Murdimanto dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, di rubrik ”Halo PSSI” tabloid BOLA edisi Jumat, 4 April. Melihat kondisi chaos sepakbola nasional, ia sepertinya mengajak kepada insan sepakbola yang peduli untuk melakukan aksi dengan membentuk organisasi sepakbola baru, lepas dari PSSI dan kroni-kroninya.
”Masalah apakah organisasi baru ini akan diakui FIFA atau tidak, itu butuh waktu. Jika FIFA tidak melihat itikad baik dari PSSI, mungkin saja organisasi baru itu akan diakui FIFA dengan catatan semua aturan main FIFA diikuti,” tulis Ari di akhir suratnya.
Kondisi itu dapat saja terwujud. Sekarang saja dengan perkembangan futsal yang kurang terespons dengan baik, sudah ada Asosiasi Futsala Seluruh Indonesia (Asofsi). Bukan tidak mungkin akan ada PSSI yang lain.
Salahkah mereka? Tentu tidak. Di tengah-tengah kepengurusan PSSI di bawah Ketua Umum Nurdin Halid tidak diakui FIFA, dan di tengah itikad tidak baik yang dimiliki oleh mereka, keberadaan organisasi baru sah-sah saja sepanjang seperti yang dituturkan Ari, semua aturan FIFA diikuti.
Malah bisa saja organisasi baru itu lebih baik dari yang sekarang ini. Apalagi para pencentus ide-ide brilian ini adalah orang-orang muda yang memiliki tenaga dan pemikiran yang lebih reformis.
Walau peluang kecil, harapan untuk mengajak pengurus PSSI yang sekarang legowo mundur dan melaksanakan Munaslub, masih pantas untuk dilayangkan.
Ayolah berjalan ke depan memajukan sepakbola Indonesia, Bung!
Email: lili@bolanews.com atau ramtodi@yahoo.com
Blog: http://liliantoapriadi.blogspot.com Lilianto Apriadi |
|
 |

|