Lilianto Apriadi BOM NURDIN HALID Selasa, 19 Februari 2008 pukul 10:41:40 WIB
 | Sosok Nurdin Halid setelah sekian kali diultimatum FIFA bagai bom yang sewaktu-waktu bisa meledak. Karena bom, maka ledakannya akan meluas dan melukai banyak orang. Apalagi kalau dia berjenis bom bunuh diri dan dilakukan bersama para exco dan pengurus PSSI lainnya.
Ini hanya analisis ekstrim dan lahir sudah lama sebelum Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault berucap keras kepada Ketua Umum PSSI itu agar segera mengundurkan diri. Untuk mundur dan melaksanakan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) bukan pekerjaan mudah, khususnya adalah dalam soal mengumpulkan dana.
Kalau penyelenggaraan itu dibebankan kepada pengurus sekarang, akan berpikir ribuan kali. Karena adanya Munaslub berarti mereka menyelenggarakan pesta untuk kemunduran ketuanya, mereka sendiri, dan yang lebih memilukan mereka adalah akan memilih ketua baru yang belum tentu sejalan dengan mereka.
Maka, dari pada susah-susah mencari dana miliaran rupiah dan menguras tenaga yang belum ketahuan hasilnya buat mereka, lebih baik matikan saja organisasi ini, matikan saja sepakbola Indonesia, toh akan dirasakan bersama-sama.
Dari kaca mata ini, maka telah terjadi bom bunuh diri. Pelakunya adalah Nurdin Halid bersama jajarannya di kepengurusan PSSI. Bisa dibayangkan bagaimana dahsyatnya bom bunuh diri bersama-sama ini. Untuk bom bunuh diri perorangan saja banyak memakan korban. Apalagi dilakukan secara bersama-sama.
***
Analisis ini sangat rasional. Untuk menyelenggarakan Munaslub sama saja dengan Musyawarah Nasional. Munas terakhir yang diselenggarakan April tahun lalu dihadiri oleh 700 peserta dari seluruh Indonesia. Seluruh dana transportasi dan akomodasi peserta ditanggung oleh PSSI.
Memang dalam Pedoman Dasar PSSI yang berdasar Statuta FIFA, pengurus cabang tidak lagi terlibat dalam Munas. Hanya Pengda dan klub-klub yang bisa hadir di Munas dan menentukan arah pembinaan sepakbola nasional. Tapi, untuk mengesahkan Pedoman Dasar itu PSSI perlu mengundang peserta Munas gaya lama.
Persoalan lebih krusial adalah penyelenggaranya. Secara institusi, penyelenggara Munas adalah PSSI. Tapi, apakah mau pengurus PSSI menjadi penyelenggara? Sinyalemen keengganan di dalam diri mereka terlihat jelas. Sudah ketahuan peringatan dari FIFA muncul tahun lalu, mereka terus memperlambat seolah-olah tidak mengerti aturan organisasi. Mereka tidak lagi memiliki jiwa besar untuk menyelenggarakan Munaslub dengan hasil meruntuhkan ketua mereka yang telah mengangkat mereka ke dalam organisasi tak berwibawa itu.
Maka, untuk dapat terlesenggara Munaslub diperlukan jiwa besar. Untunglah Menpora dalam hal ini adalah Pemerintah yang ikut disurati oleh FIFA soal penyelenggaraan Munaslub dan pemeilihan ketua baru, turun tangan. Artinya, Menpora diuji bukan hanya bisa berucap tapi juga membantu terlaksananya Munaslub dengan memberikan bantuan dana. Dana dari mana? Moga-moga bukan dari APBN!
Persoalan pun belum selesai. Meski dana Munaslub sudah teratasi, tapi siapa yang mau menjadi Ketua Umum PSSI di tengah ingar-bingar sepakbola nasional sekarang ini?
Menjadi Ketua Umum PSSI bakal populer, bakal mampu mendongkrak populeritas seseorang. Bahkan nilainya bisa sama dengan seorang Presiden di negeri ini. Namun, kalau sukses populeritasnya menjadi positif. Kalau gagal prestasi, suporter tewas, pemain-wasit berantem, dana klub dianggap melanggar undang-undang, populer ya populer tapi ngetop negatif.
Hal itu bisa terlihat dari sosok seorang Arifin Panigoro. Sikapnya ketika dicalonkan menjadi ketua umum PSSI dalam Munas lalu, seperti penari poco-poco (meminjam istilah mantan Presiden Megawati Soekarnoputri). Maju selangkah, mundur selangkah. Bisa ditebak, keraguan yang ada dalam dirinya menyangkut soal dana dan tentu pembinaan yang amburadul. Ia masih kawatir kalau namanya menjadi bulan-bulanan pers maupun penggemar sepakbola di Tanah Air.
***
Maka, setelah Menegpora mengintervensi ke dalam persoalan PSSI, langkah berikutnya adalah melempar ke publik siapa yang mau menjadi Ketua Umum PSSI?
Kalau yang mau barangkali banyak orang. Namun, setelah diberikan paparan persoalan yang mengkungkung PSSI barangkali orang-orang itu akan mundur satu per satu.
Banyak orang berpendapat, hanya orang-orang yang tebal muka, sikut sana-sikut sini, bergaya ”mafioso” yang mampu masuk ke dalam lingkaran PSSI atau secara keseluruhan sepakbola nasional. Kita tidak boleh terjebak pada idiom seperti itu. Kita perlu tokoh tebal muka, dalam arti berani menghadapi serangan pihak-pihak yang merasa paling benar mengurus PSSI alias para status quo itu.
Dengan kata lain: kita perlu tokoh baru dengan wawasan modern, berorganisasi secara efisien dan efektif, transparansi, berjiwa enterpreuner. Syukur-syukur itu tokoh itu berusia muda.
Berwawasan modern, memiliki visi ke depan yang mampu ditangkap secara global. Berorganisasi secara efisien dan efektif menyangkut soal pekerjaan sehari, baik soal administrasi, dana, maupun waktu. Transparansi menyangkut pada keterbukaan dalam setiap pengambilan keputusan, jangan ada yang ditutupi. Berjiwa enterpreuner mampu memandirikan PSSI dengan menciptakan peluang-peluang pemasukan tanpa mengorbankan pembinaan sepakbola nasional.
Di atas kertas memang bisa. Tapi, kalau sudah di lapangan menghadapi ulah pemain, wasit, dan suporter, teori-teori itu menjadi buyar.
Atau kita serahkan saja kepemimpinan PSSI kepada Adhyaksa Dault? Nggak ada larangan kan seorang Menteri –sekalipun Menegpora—jadi ketua PB/PP?
Sekalian nyebur, pak!
Email: lili@bolanews.com atau ramtodi@yahoo.com
Blog: http://liliantoapriadi.blogspot.com Lilianto Apriadi |