|
|
 |
Home
>
LILIANTO APRIADI
Lilianto Apriadi SELAMAT TAPI WASPADA Rabu, 19 Desember 2007 pukul 15:36:21 WIB
 | Meski meraih 56 emas, tapi kontingen Indonesia sudah cukup berada di peringkat empat klasemen. Para atlet telah berhasil meraih target minimal tersebut. Bagaimana pun mereka layak diberi selamat, akan tetapi olahraga nasional tetap pada posisi waspada.
Dari prediksi yang dicanangkan sebelum berangkat hanya prediksi dari Menteri Negara Pemuda dan Olahraga yang mendekati. Adhyaksa Dault bersama jajarannya memperkirakan Indonesia meraih 57 emas, sedangkan Satgas di bawah komandan Ahmad Sucipto 77 emas, sementara BOLA hanya 49.
Namun, perolehan itu masih kalah dari Vietnam, Malaysia, dan tuan rumah Thailand. Vietnam 64 emas, Malaysia 68 emas, dan Thailand 183. Faktor inilah yang perlu dicari sebab, selain tentu memompa terus cabang-cabang sukses.
Kekalahan dari Thailadn tidak mengejutkan, karena tuan rumah negeri Gajah Putih ini memang punya kemauan membangun olahraga nasional secara menyeluruh. Tapi tertinggal dari Malaysia dan Vietnam perlu mendapatkan perhatian serius. Persoalannya kita bersama mereka bertanding di negara netral. Artinya kita ebrsama-sama datang ke Thailand sebagai tamu.
Kita harus mengetahui sedetil mungkin pembinaan di negara-negara itu. Soal dana memang kita kalah, tapi faktor itu bukan satu-satunya kegagalan. Salah satu yang mencolok adalah pembibitan di lawan-lawan kita sudah jauh dilakukan, sementara kita masih banyak mengandalkan muka-muka lama.
Benar seperti apa yang diungkap oleh Ketua Umum KONI Pusat, Rita Subowo, bahwa prestasi kali dicapai lewat nomor-nomor bergengsi dan berkualitas. Tapi pencapaiannya kurang merata.
Prestasi luar biasa Suryo Agung Wibowo (24 tahun) di nomor lari jarak pendek patut kita syukuri. Tapi, kita mesti prihatin miskinnya pelari-pelari di bawah usianya. Begitu pula dengan balap sepeda yang masih mengandalkan muka-muka lama sementara jago baru nasional belum nongol juga.
Nomor-nomor banyak emas, yakni menembak dan renang, atlet-atlet kita benar-benar kering. Hanya satu emas dari loncat indah, itupun atas nama atlet senior, Shenny Ratna Amalia.
Di cabang judo lebih parah lagi, masih mengandalkan pejudo-pejudo senior macam Kresna Bayu dan Peter Taslim, namun tidak mampu lagi unjuk gigi. Hanya satu emas di cabang ini diraih oleh Indonesia atas nama Ira Purnamasari.
***
Malaysia dan Vietnam memang menjadi lawan terdekat untuk diwaspadai pada SEA Games mendatang. Selain tentu Singapura yang terus mengintip dengan sistem naturalisasi atletnya. Sementara itu, Thailand untuk SEA mendatang di Laos rasanya masih mampu merajai.
Malaysia pada SEA Games kali ini memang boleh. Peringkatnya naik dua tingkat, dari keempat di tahun 2005 menjadi kedua. Perlu dicatat pula, keberhasilan ini tanpa beberapa bintang dan tim kuat. Misalnya bintang bulutangkis dan senamnya. Untuk tim misalnya andalan emas sepaktakraw yang mundur dan juga tim skuas putri. Mereka memperkirakan bisa menambah 10 emas kalau atlet-atlet topnya ikut serta.
Vietnam adalah tetangga Laos yang bisa saja dianggap sebagai kandang kedua. Atlet-atlet mereka bakal lebih merajai dibandingkan saat beraksi di Nakhon Ratchasima. Mereka pun dalam dua SEA Games terakhir terbilang stabil prestasinya.
Bagaimana dengan Singapura? Sumpah serapah maupun mengurut dada pertanda miris boleh saja kita lakukan melihat sikap mereka yang menaturalisasi atlet-atlet asal Cina. Tapi, kebijakan itu adalah hak mereka. Hasilnya memang luar biasa.
Di cabang tenis meja mereka sapu bersih, di cabang renang menggondol emas. Begitu pula di atletik dan beberapa cabang lagi. Bahkan untuk judo, pada tahun mendatang mereka juga kedatangan pejudo-pejudo asal Cina.
Di era yang sudah global ini, perpindahan warga negara memang menjadi biasa. Namun, tuntutan nasionalisme rasanya masih menjadi pilihan utama untuk negeri ini. Kita tidak perlu naturalisasi, tapi belajarlah semua cabang ke Cina. Tinggal berbulan-bulan, melakukan uji coba, bertanding ke berbagai event, rasanya sudah cukup untuk menguasai SEA Games lagi.
Sebelum menuju SEA Games 2009 ada Olimpiade 2008. Sudah waktunya kalau Suryo Agung memikirkan target di Beijing itu. Begitu pula dengan Uyun Muzizah cs., para pemanah, para lifter, dan yang terakhir adalah langganan emas; pebulutangkis-pebulutangkis kita.
Siapa tahu bonus 200 juta rupiah mampu menggenjot hingga mengukir prestasi lebih hebat lagi. Siapa tahu pemerintah juga menyediakan bonus lebih gede lagi di Olimpiade ini.
Bonus memang bukan nomor satu di olahraga, tapi yakinlah bahwa fulus ini menjadi salah satu kunci keberhasilan atlet-atlet kita mencapai target di SEA Games kemarin. Apalagi bonus kali ini lumayan gede.
Gitu dong Pak Menteri!
Email: lili@bolanews.com atau ramtodi@yahoo.com
Blog: http://liliantoapriadi.blogspot.com Lilianto Apriadi |
|
 |

|