|
|
 |
Home
>
LILIANTO APRIADI
Lilianto Apriadi SEA GAMES, TARGET KOK MUNDUR? Kamis, 29 November 2007 pukul 16:45:58 WIB
 | Namanya target adalah ke depan, bukan ke belakang. Tapi, inilah yang dilakukan oleh kontingen Indonesia yang akan berlaga di SEA Games XXIV, Thailand 6-15 Desember. Pemerintah dan KONI Pusat melalui Satgas SEA Games, menargetkan posisi keempat perolehan medali. Menyedihkan, kok malah mundur?
Boleh saja pemerintah punya acuan bahwa target keempat adalah lebih baik dari perolehan pada SEA Games 2005 yang meraih posisi kelima. Tapi, namanya negeri kita tetap Indonesia, yang pernah menjadi nomor satu di Asia Tenggara. Kalau kita pakai batasan periode dimulai pada masa krisis, yaitu tahun 1998, boleh juga. Pada SEA Games 1999 hingga 2003, posisi Indonesia selalu nomor tiga.
Alangkah baiknya kalau prestasi ini menjadi dasar untuk menentukan target Indonesia di SEA Games 2007 ini. Misalnya dengan menargetkan posisi tiga besar. Itu berarti dunia olahraga kita kembali kepada posisi masa kritis. Tidak apa-apa kalau hal ini yang dijadikan dasar, karena memang kondisi olahraga kita belum berubah pola pembinaannya. Tapi, ada poin yang semestinya mampu mengubah posisi itu, yaitu kondisi negara sekarang yang sudah mulai berbeda dari krisis 1998.
Adanya nilai plus pada kondisi sekarang, menyebabkan target dasar pasca 1998 merupakan target yang diturunkan. Semestinya harus lebih baik. Namun, harus kita maklumi jika memasang target tiga besar itu adalah hal yang wajar.
Tapi, kalau yang dijadikan dasar adalah prestasi pada tahun 2005, itu mencerminkan kontingen kita tidak berani menerima tantangan. Prestasi itu adalah prestasi terendah. Hari giniiii ... masih memakai dasar target dari hasil terendah?
Pencapaian inilah yang kurang dimengerti. Kecuali memang kalau pada era pasca 1998 kita mengalami krisis lagi. Memang pada masa setelah itu, kantor kementerian olahraga tidak dihidupkan sebelum pada 2004 saat Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Presiden.
Walau tak ada kementerian olahraga, pembinaan kala itu tetap jalan. Semestinya, dengan adanya lagi kementerian olahraga, prestasi menjadi lebih baik. Kenapa target justru mundur?
Pemerintah lewat Mennegpora Adhyaksa Dault sendiri juga menyebut kalau di luar emas tidak ada bonus. Hanya medali emas yang dihargai bonus 200 juta perak. Tidak ada target yang minimal!
Lho kok berbeda? Kepada atlet dibebankan target maksimal sedangkan kepada kontingen target terendah?
***
Semakin memprihatinkan kalau pencanangan target itu tidak diiringi oleh target-target tahun selanjutnya bagi olahraga Indonesia. Mennegpora Adhyaksa Dault hanya mengira-ngira kalau gelar nomor satu di Asia Tenggara akan bisa direbut lagi barangkali pada tahun 2009 atau 2011. Tahapannya bagaimana tidak dijelaskan.
Melihat penjelasan itu malah timbul pertanyaan: apakah mungkin pada 2011 kita merebut juara lagi dengan sistem pembinaan seperti sekarang? Dari nomor 4 pada 2007, apakah mungkin empat tahun kemudian langsung meroket ke nomor satu? Adhyaksa sendiri di depan kantornya pasang baliho besar-besar bahwa pembinaan tidak bisa diperoleh lewat instan, tapi melalui tahapan proses.
Kalau ditarik lebih jauh lagi. Itu artinya, para pembina olahraga kita yang sudah mempertaruhkan uang rakyat tidak memiliki grand strategy atau kerangka besar dalam menjalan roda pembinaan.
Telah tiga tahun kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga ini dihidupkan lagi. Prestasi yang selalu digembar-gemborkan sang menteri hanyalah Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional (UU SKN). Itupun baru di atas kertas. Hasilnya tak jelas. Stadion Menteng Jakarta tergusur begitu saja tanpa ada tuntutan pengadilan seperti yang diamanatkan oleh undang-undang tersebut.
Di Makassar sekarang ini sedang ”ramai” peremajaan Lapangan Karebosi. Ruang publik yang lebih banyak dimanfaatkan untuk kagiatan olahraga dan reksreasi itu telah lama menjadi kebanggaan orang-orang Makassar dan Sulawesi Selatan pada umumnya.
Sang Menteri pun berasal dari sana. Tapi, yang berteriak protes soal peremajaan itu cuma rakyat kecil. Pade kemane para pembuat UU SKN yang diamanatkan untuk menjaga kelestarian ruang-ruang publik seperti itu dari para kapitalis yang berkedok pembawa keindahan kota?
Melihat kenyataan itu, UU SKN bukan lagi menjadi kebanggaan. Dalam dunia olahraga, yang namanya kebanggaan tetap saja prestasi di lapangan. Prestasi ini di tiga tahun kepemimpinan Adhyaksa menjadi nihil. Prestasi itu ditambah dengan pencanangan target keempat di SEA Games 2007. Syukur-syukurlah kalau dapat lebih.
Hal ini juga semakin memperjelas kalau Adhyaksa di kementeriannya tidak memiliki visi dan misi yang jelas. Ketika memasuki kantornya di bilangan Senayan pada 2004, mestinya ia memiliki target prestasi. Bukankah SEA Games 2007 ini merupakan SEA Games terakhir di masa kepemimpinannya di Mennegpora? Mestinya dia menancapkan kenangan yang manis buat pecinta olahraga dengan mengukir prestasi tinggi. Tapi, kenapa prestasi yang dicanangkan justru lebih buruk dibanding masa kritis?
Masih ada lagi memang Olimpiade 2008. Tapi, bisa-bisa justru di Beijing itu kita semakin terpuruk. Atau pada SEA Games 2009 dengan harapan ia akan terpilih lagi sebagai Mennegpora dan jika juga SBY terpilih lagi sebagai Presiden?
Pertanyaan-pertanyaan ini terus melingkar-lingkar, dan balik lagi ke pertanyaan mendasar: Mau ke mana sih olahraga kita? Kok nggak maju-maju? Atau kita memang berada dalam kondisi: tidak ahli?
Kalau sudah begitu, kita serahkan saja pembinaan olahraga kepada ahlinya, yakni pelatih-pengurus yang berasal dari Cina, Jepang, Korea, Amerika Serikat, Australia, Rusia, dan negara-negara maju olahraga lain.
Lepas dari semua itu, sangat pantas kalau kita ucapkan selamat bertanding kepada atlet-atlet Indonesia yang berlaga di SEA Games Thailand 6-15 Desember. Rebut emas!
Email: lili@bolanews.com atau ramtodi@yahoo.com
Blog: http://liliantoapriadi.blogspot.com Lilianto Apriadi |
|
 |

|