|
|
 |
Home
> EDISI CETAK
Persaingan Nomor Satu Putri
Ratu Baru, Rekor Baru
Peristiwa menarik terjadi di tenis putri tahun ini. Untuk pertama kali sejak sistem rangking diberlakukan 1975, ada lima pemain yang sempat menduduki tahta nomor satu sepanjang tahun. Rekor sebelumnya adalah empat pemain pada 2004, ketika Lindsay Davenport (AS), Kim Clijsters (Belgia), Amelie Mauresmo (Prancis), dan Justine Henin (Belgia) bergantian menduduki singgasana idaman itu.
Henin dianggap sebagai orang yang paling "bertanggung jawab" atas terjadinya rekor ini. Ia mundur saat masih berada di puncak, Mei silam, dan meminta agar namanya dihapus dari daftar peringkat. Otomatis pemain nomor dua saat itu, Maria Sharapova asal Rusia, naik ke posisi teratas.
Sharapova cedera dan prestasinya menurun. Ana Ivanovic dari Serbia mengambil alih predikat pemain terbaik, Juni lalu, setelah menjuarai Prancis Terbuka. Tapi, performanya juga labil. Predikat itu sempat diambil rekannya, Jelena Jankovic, Agustus, selama sepekan sebelum kembali ke tangan Ivanovic.
Gelar nomor satu itu berpindah ke tangan Serena Williams asal AS setelah ia menjuarai AS Terbuka, September.
Tanpa Dominasi
Minggu ini peringkat teratas itu kembali dirampas Jankovic, menjadikannya pemain nomor satu tanpa gelar juara grand slam. Sementara itu peringkat ketiga Dinara Safina dari Rusia terus mengintip celah untuk menjadi pemain keenam yang menjadi nomor wahid di tahun ini. Poin Jankovic 4.230, Williams 4.017, dan Safina 3.782.
"Saya bahagia karena hasil kerja keras selama ini terbayar," ujar Jankovic seperti dilansir Ticker.
Fenomena ini tentu jauh lebih menarik dibanding di putra yang selama empat tahun dikuasai Roger Federer dari Swiss. Baru Agustus lalu Federer digeser seteru abadinya selama tiga tahun, Rafael Nadal, dari Spanyol. Seperti ini juga yang pernah terjadi di putri dulu, saat nama-nama macam Steffi Graf (Jerman), Monica Seles (AS), atau Martina Hingis (Swiss) masih berjaya dan tak memberi kesempatan pemain lain untuk menjadi nomor satu. Tapi, kini dominasi macam itu di putri sudah runtuh walaupun mungkin akan tetap ada bila Henin tak memutuskan pensiun pada usia 26 tahun, saat para pemain lain masih sulit menaklukkannya.
(yuk)
>> Kembali ke Atas
| |
 |

|