 |
Catatan Sepak Bola
Ario Yosia
|
Saatnya Introspeksi Diri
Beragam komentar mencuat menyaksikan ending pertandingan final Copa Dji Sam Soe Indonesia antara Sriwijaya FC vs Persipura yang berbuntut mundurnya Tim Mutiara Hitam. Ada yang mengutuk aksi walk out Persipura karena tak mengindahkan prinsip fair play.
Ada pula yang mendukung. Mereka menilai wasit Purwanto kebangetan bisa alpa melihat aksi handball bek Sriwijaya, Joel Tsimi. Jadi, buat apa melanjutkan pertandingan yang sudah diatur hasil akhirnya?
Tak usah berpolemik. Kalau kita berpegang pada aturan main FIFA, aksi WO Persipura jelas salah. Keputusan wasit adalah mutlak sepanjang pertandingan berlangsung. Ini tertera dalam penjelasan Laws of The Game FIFA aturan 5 soal otoritas wasit: “Keputusan wasit yang berkaitan dengan pertandingan, termasuk sah atau tidaknya sebuah gol atau hasil akhir pertandingan, adalah keputusan final.”
Jika merasa keberatan, mereka bisa melakukan protes tertulis ke inspektur pertandingan seusai pertandingan.
Beberapa kasus di turnamen sepak bola internasional menunjukkan wasit yang seorang manusia normal bisa juga khilaf. Tetapi, tim-tim yang dirugikan tetap memegang teguh aturan main demi sportivitas.
Tengok saja tim Inggris, yang dirugikan oleh gol tangan Tuhan Diego Maradona di Piala Dunia 1986. Rekaman pertandingan dan foto-foto yang termuat di media cetak menunjukkan Maradona mencetak gol pertama buat Argentina dengan tangan, bukan kepala. Walau merugikan, Peter Shilton dkk. akhirnya secara sportif bisa menerima kekalahan 1-2 di fase perempat final.
Yang paling kini di Piala Konfederasi 2009 saat Spanyol mengalami nasib serupa. Mereka menjadi korban ketidakcermatan wasit saat menjajal tuan rumah Afrika Selatan.
Saat skor 2-2, wasit Matthew Brezee luput melihat insiden handball pemain belakang Bafana Bafana di area kotak penalti. Dari rekaman pertandingan terlihat sundulan David Silva menyentuh tangan bek Afsel. Namun, wasit asal Austria itu tak menunjuk titik putih.
Carles Puyol dkk. mengerubuti sang pengadil mempertanyakan keputusannya. Namun, dengan jiwa besar mereka melanjutkan pertandingan dan akhirnya menang 3-2 lewat gol Xavi Alonso.
Kasus Chelsea
Meski begitu, memang tak selamanya pemain-pemain kelas dunia bisa bersikap sportif. Mereka juga manusia biasa yang punya perasaan. Terkadang emosi bisa lepas kontrol. Amarah para pemain klub elite Inggris, Chelsea, bisa terpatik saat mereka dirugikan wasit Tom Henning Ovrebo, yang luput melihat peristiwa tiga kali handball pemain Barcelona di semifinal kedua Liga Champion 2008/2009.
Bintang The Blues, Didier Drogba, seusai pertandingan melontarkan kata-kata tak senonoh kepada pengadil asal Norwegia tersebut. Tudingan sang wasit sengaja meloloskan Barca untuk menghindari final sesama klub Inggris menyeruak.
Belakangan sang pemain dan klub meminta maaf atas tindakannya. Mereka pun tengah berjuang untuk mengajukan banding atas hukuman yang diganjarkan UEFA. Nah, para pemain Persipura masuk golongan yang tak bisa mengontrol emosi seperti halnya punggawa The Blues.
Cuma, apa yang mereka lakukan lebih ekstrem lagi, menolak melanjutkan pertandingan. Jika Drogba cs. terkena sanksi UEFA, Persipura harus legowo menerima vonis Komdis PSSI. Saya sedikit lega mendengar ucapan Ketua Umum Persipura, M.R. Kambu. "Mau berbuat, kami siap bertanggung jawab," ucapnya.
Pertanyaannya adalah apakah kasus ini tutup buku sampai di sini saat Persipura menerima hukuman Komdis. PSSI maupun BLI, penyelenggara kompetisi, rasanya harus introspeksi diri kenapa Persipura bertindak nekat mbalelo di final Copa? Tak ada asap jika tidak ada api. Ingat, kejadian tim mundur bukan yang pertama kalinya.
Gagal Tes
Bukan bermaksud mendeskreditkan Purwanto (46), sosok dari sedikit wasit bersih di Indonesia. Tetapi, kalau mau objektif secara fisik sebenarnya dirinya sudah tak lagi layak memimpin laga tinggi sekelas final Copa. Beberapa tahun silam saat meliput acara penyegaran wasit PSSI di Bandung, saya menjadi saksi mata bahwa sang pengadil gagal melakoni tes fisik. Pada tahun-tahun selanjutnya, menurut beberapa rekan wasit, pun demikian.
Secara pribadi yang bersang-kutan sebenarnya sudah lelah menjadi wasit. "Jujur saja, Mas, saya ingin berhenti. Saya sudah tua," ungkapnya.
Tetapi, demi pencitraan wasit, pria yang sehari-hari berkerja sebagai tukang rumput di Stadion Brawijaya, Kediri, ini tetap dipaksa bertugas. Apakah SDM wasit berkualitas amat sedikit jumlahnya sehingga mereka memaksakan wasit yang bagus secara mental tetapi jelek secara fisik bertugas di pertandingan penting? Imbasnya fatal, sedikit saja sang wasit alpa, final Copa menjadi bubar jalan.
Kasihan Mas Pur. Dia menjadi korban ketidakmampuan PSSI mencetak wasit-wasit berkualitas yang integritasnya dipercaya klub-klub kontestan.
>> Kembali ke Atas
|