Kasus WO Persipura
Diancam Hukuman Berlapis
Aksi mogok Persipura di final Copa Dji Sam Soe Indonesia (CDSSI) berbuntut panjang. Tim Mutiara Hitam bakal dijerat pasal berlapis oleh Komisi Disiplin PSSI.
Ketua Komdis, Hinca Panjaitan, berencana menyidangkan kasus ini pada 15 Juli. "Kami saat ini tengah mengumpulkan bukti-bukti. Kami akan memanggil pengurus Persipura untuk menjelaskan alasan mereka mundur," tutur Hinca.
Fokus utama Komdis adalah mencari aktor utama yang mendalangi aksi walk out (WO). Bidikan Komdis mengarah ke sosok Wali Kota Jayapura yang juga Ketua Umum Persipura, M.R. Kambu.
“Pasti ada orang-orang tertentu yang memberikan perintah dan kami akan melihat secara hati-hati dan saksama agar tidak ada yang dirugikan secara sepihak,” ujar Joko Driyono, Direktur Kompetisi BLI yang juga anggota Komdis.
Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, menyebut sosok Kambu yang paling berkeras melarang Eduard Ivakdalam dkk. menuntaskan pertandingan. "Tidak selayaknya Wali Kota Jayapura mengajak para pemain mogok. Tuduhan soal adanya permainan wasit hanya berdasarkan persepsi saja, tidak didukung bukti-bukti kuat," kata Nurdin, yang mengaku tak mau mengintervensi kerja Komdis.
Jika terbukti bersalah, Kambu bisa terjerat skorsing sekurang-kurangnya 24 bulan plus denda Rp 100 juta (Pasal 57 Kode Disiplin PSSI) karena mengajak tim melakukan aksi anti-fair-play.
Tim Persipura juga tak luput dari bidikan Komdis. Mereka diancam vonis diturunkan ke divisi yang lebih rendah, hak mengikuti kompetisi dicabut pada tahun berikut, serta denda minimal Rp 250 juta.
Sejumlah pemain Persipura juga terancam hukuman. Striker asal Nigeria, Ernest Jeremiah, yang menanduk wasit Purwanto, dinilai melanggar Pasal 60 Kode Disiplin mengenai "Tingkah laku buruk melakukan intimidasi, penghinaan, dan fitnah".
Dia bisa diganjar skorsing minimal satu pertandingan plus denda Rp 30 juta. Ancaman hukuman serupa juga mengintai pemain senior Jack Komboy dan beberapa rekannya yang melakukan aksi perusakan bench.
Siap Bertanggung Jawab
Kubu Persipura mengaku siap bertanggung jawab terhadap perbuatannya. Kambu pun menilai tudingan Komdis, yang menyebut para pemain Persipura menolak bermain, salah besar.
"Siapa bilang kami tidak mau melanjutkan pertandingan? Kami mau bertanding lagi asal wasit memberikan hadiah penalti dan menghapus kartu merah buat Ernest. Aksinya dipicu akses kejadian tidak tepatnya keputusan wasit," ungkapnya.
Dasar tudingan Persipura adalah rekaman stasiun televisi TV ONE jelas memperlihatkan bahwa tangan bek Sriwijaya, Joe Tsimi, menyentuh bola hasil sepakan Ernest. Itu pun diakui sang pemain kepada BOLA seusai pertandingan.
Bahkan dari rekaman tersebut jelas terlihat Persipura selayaknya sudah mendapat hadiah penalti sebelum kejadian handball saat kiper Tim Laskar Wong Kito, Ferry Rotinsulu, mengambil bola dari belakang Ian Kabes.
Persipura berjiwa besar mengakui bahwa tindakan mundur dari partai final salah, tetapi meminta agar Komdis melihat kasus ini dari berbagai sisi. Mereka berharap wasit juga disidik.
Pastinya sejumlah tokoh sepak bola nasional berharap Komdis bisa menyelesaikan kasus ini secara bijak. "Persipura adalah tim yang tampil bagus musim ini, tidak mungkin bertindak tanpa sebab. Saya melihat ini bentuk akumulasi kekecewaan, mulai dari pemilihan lokasi final di markas lawan hingga kepemimpinan wasit yang banyak melakukan kesalahan. Hukuman yang diberikan sifatnya mendidik, bukan mematikan potensi mereka," ujar Ovan Tobing, pengamat sepak bola asal Malang.
"Kejadian mundur dari pertandingan jelas tidak dapat dibenarkan, namun Komdis harus menyelesaikan kasus ini secara berimbang dan tegas agar kejadian seperti ini tidak kembali terjadi di masa depan," timpal Bambang Sucipto, Direktur PT Persija Jaya.
(Ario Yosia/Indra Ita)
KRONOLOGI MUNDURNYA PERSIPURA
---------------------------------------------------------------------
- Menit 59: Persipura melakukan serangan ke daerah kotak penalti Sriwijaya FC. Gelandang sayap Persipura, Ian Kabes, yang mendapat umpan dari Eduard Ivakdalam, ditabrak dari belakang oleh kiper lawan, Ferry Rotinsulu. Beberapa pemain Persipura secara spontan langsung mengangkat tangan meminta hadiah penalti. Namun, wasit Purwanto menggelengkan kepala dan menganggap itu bukan pelanggaran. Bola mental dari tabrakan langsung disepak ke arah gawang oleh Ernest Jeremiah tepat mengenai tangan bek Sriwijaya, Joel Tsimi. Para pemain Persipura kembali mengangkat tangan meminta hadiah penalti, namun kembali Purwanto menggelengkan kepala tanda menolak permohonan Boaz Solossa dkk.
- Menit 60: Merasa permintaannya tak digubris, para pemain Persipura ramai-ramai mengerubuti pengadil. Ernest pun menanduk Purwanto. Wasit asal Kediri langsung mengeluarkan kartu merah menghukum pemain asal Nigeria. Melihat rekannya dihukum, secara serempak para pemain Persipura meninggalkan lapangan. Selama lebih dari setengah jam mereka berada di ruang ganti menolak melanjutkan permainan.
- Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, didampingi Ketua BLI, Andi Darussalam, dan Direktur Kompetisi BLI, Joko Driyono, mendatangi ruang ganti Persipura. Mereka berniat membujuk agar Persipura mau melanjutkan pertandingan. Persipura lewat Ketua Umum, M.R. Kambu, menyatakan mau melanjutkan pertandingan apabila mendapat hadiah penalti dan pemutihan kartu merah buat Ernest. Nurdin cs. kemudian keluar meminta waktu kepada Persipura sebelum memutuskan keputusan final.
- Nurdin dkk. menuju ke tengah lapangan menghampiri wasit Purwanto untuk menanyakan secara langsung soal dasar keputusannya yang diprotes Persipura. Akhirnya Nurdin mengambil sikap agar PP dan wasit mengambil keputusan tegas menganggap WO Persipura jika mereka tetap mogok selama 60 menit seperti aturan yang ditetapkan FIFA. Nurdin meminta pengawas pertandingan memberikan tambahan waktu 10 menit sebelum mengambil keputusan WO karena Gubernur Papua, Barnabas Suebu, tengah membujuk Persipura.
- Setelah melewati waktu tambahan Persipura tidak juga muncul ke lapangan, asisten wasit Jajat Sudrajat ditugaskan mendatangi ruang ganti Persipura untuk menanyakan apakah klub tersebut mau kembali melanjutkan pertandingan. Namun, upayanya untuk menemui awak tim tak kesampaian karena dirinya diusir sejumlah pengurus, keluarga, dan kelompok suporter Persipura Mania, yang memadati pintu masuk kamar ganti.
- Jajat pun melaporkan ke PP dan Purwanto bahwa Persipura tetap tak mau bertanding. Purwanto pun meniupkan peluit panjang sebagai tanda pertandingan telah berakhir WO dengan skor 4-0.
>> Kembali ke Atas
Empati Kedaerahan Mencuat
Dukungan buat tim Persipura, yang terancam hukuman berat atas aksi boikot pada final Copa Dji Sam Soe Indonesia di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang, Minggu (28/6), mengalir deras dari berbagai kelompok masyarakat di Papua. Empati kedaerahan pun mencuat.
Mereka satu suara mendukung langkah Boaz Solossa dkk. walk out (WO). Saat tiba di Bandara Sentani, Selasa (30/6) pagi, ribuan simpatisan Tim Mutiara Hitam turun ke jalan. Mereka melakukan upacara penyambutan dan memperlakukan Eduard Ivakdalam cs. layaknya tim juara.
Spanduk memprotes kinerja wasit Purwanto, yang mereka nilai sebagai sosok paling bertanggung jawab merusak jalannya duel final, bertebaran di area bandara. Sikap reaktif juga ditunjukkan 43 pengacara yang tergabung dalam Tim Gabungan Advokasi Persipura. Mereka akan melakukan gugatan terhadap PSSI dan Purwanto.
Para pengacara yang dikomandoi Peter Ell ini membaca gelagat adanya skenario terselubung yang sengaja ingin memunculkan Sriwijaya FC sebagai kampiun.
"Faktanya jelas, mulai dari penunjukan Stadion Gelora Sriwijaya sebagai tempat final hingga kinerja wasit yang cenderung berat sebelah. Ini tidak bisa didiamkan," kata Peter, seperti dikutip Cendrawasih Pos.
Pengda PSSI Papua tak mau ketinggalan buka suara. Mereka berencana mengambil sikap tegas jika Persipura mendapat hukuman tidak adil. Pengda akan menarik keanggotaan dari PSSI, Persipura pun akan diikutkan di kompetisi negara tetangga Australia, yang dinilai lebih menjunjung sportivitas.
"Sejak awal saya sudah menyampaikan langsung kepada Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, agar meninjau ulang penunjukan Stadion Gelora Sriwijaya sebagai tempat final karena cenderung menguntungkan Sriwijaya sebagai tuan rumah dan berpotensi memicu kericuhan. Sayang, tidak digubris," ungkap Usman Fakaubun, Sekum Pengda PSSI Papua.
Manajemen Persipura berencana menyewa pengacara tenar, O.C. Kaligis, untuk mendampingi punggawa tim saat dipanggil Komdis PSSI sekaligus melakukan class action karena menilai partai final telah diatur. Kecenderungan itu menurut Persipura terlihat secara kasat mata saat MC pertandingan perwakilan sponsor berulangkali meneriakkan dukungan buat Tim Laskar Wong Kito padahal seharusnya netral. "Kami menjadi curiga dengan fakta-fakta ini," kata Agustinus Kambu, ofisial tim Persipura. (yos)
>> Kembali ke Atas
|