Divisi I
Kelimpungan Kurang Dana
Berkiprah di kancah Liga Indonesia Divisi I ternyata bukan urusan mudah. Banyak persoalan yang melilit kontestan di kasta ketiga ini setelah divisi utama dan Liga Super. Terutama menyangkut pendanaan.
Pengurus Persida Sidoarjo benar-benar kelimpungan karena tak ada dana di kas klub. Bahkan, saat ini tim berjulukan Laskar Jenggolo itu hidup dari duit hasil patungan pengurus. Jumlahnya pun sangat minim. Karena itu, sejak tim terbentuk pada Maret lalu, pemain Persida belum dibayar.
Sebenarnya ada alokasi dana dari APBD Sidoarjo sebesar Rp 3 miliar. Namun, uang itu hingga kini masih tersangkut di Badan Pengelola Keuangan dan Kekayaan Daerah (BPKKD) Sidoarjo. Menurut sumber BOLA di lingkaran dalam DPRD Sidoarjo, BPKKD tak berani menggelontorkan dana tersebut karena terbitnya Permendagri No. 59 tahun 2007 yang melarang dana APBD digunakan untuk membiayai klub sepakbola. Bukan itu saja, BPKKD juga sangat berhati-hati karena penempatan pos anggaran untuk Persida itu masuk sektor bantuan sosial, bukan pos hibah seperti yang digunakan klub-klub daerah lain.
“Sepertinya ada kekhawatiran pada BPKKD. Maklum, Komisi Pemberantasan Korupsi saat ini sedang galak-galaknya,” ujar sumber tersebut.
Ketua Harian Persida, Biqin Thorin Musa, mempertanyakan mandeknya distribusi dana. “Kebijakan itu untuk klub profesional, bukan klub amatir seperti Persida. Seharusnya yang jadi acuan Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional No. 40, bukan Permendagri,” ujar Thorin.
Beruntung pemain Persida sangat militan. Kendati belum menerima hak, Sugianto dkk. tetap berkomitmen memperkuat Persida di kompetisi divisi satu.
“Saya salut pada pemain, hanya itu yang bisa saya katakan atas ketulusan hati mereka,” ujar Thorin dan diamini Parlin Siagian, pelatih.
Thorin rencananya akan mengajak anggota DPRD Sidoarjo menemui Mendagri dan Ketua Umum KONI Jatim, Imam Utomo, guna mempertanyakan masalah tersebut. Ia berharap langkah ini bisa menjadi solusi atas kesulitan klub.
Kesulitan Pro Duta
Kesulitan keuangan tak hanya mendera klub-klub perserikatan. Pro Duta Bandung, satu-satunya klub swasta di pentas Divisi I Liga Indonesia, pun menghadapi masalah serupa.
“Kami pusing mencari dana untuk biaya kompetisi. Belum lagi biaya operasional dan gaji pemain,” kata Denny Susanto, bos klub yang bermarkas di Stadion Siliwangi Bandung ini.
Selama ini semua pembiayaan Pro Duta berasal dari kocek pribadi pengusaha properti dan rekaman Kota Kembang ini. Namun, akibat kondisi dunia usaha yang kurang bagus belakangan ini, keuangan Pro Duta pun ikut goyah.
Ia mengaku maju kena mundur kena. Jika tidak ikut kompetisi akibatnya Pro Duta bisa terdegradasi ke divisi dua, sementara kalau memaksakan ikut dananya cekak.
“Tapi, akhirnya saya nekat ikut kompetisi. Soal biaya bagaimana nanti. Saya tak mau perjuangan sejak divisi tiga jadi sia-sia karena mundur dari kompetisi,” tambah Denny.
Dalam satu musim setidaknya Pro Duta membutuhkan dana Rp 2,5 miliar untuk seluruh pengeluaran, termasuk gaji pemain, pelatih, ofisial, akomodasi, dan biaya operasional. Jumlah sebesar itu termasuk kecil dibanding pengeluaran rata-rata klub divisi satu yang mencapai Rp 5 miliar per musim kompetisi.
Untuk meringankan beban, Pro Duta sudah mengajukan permintaan hibah dari Pemkot Bandung. Namun, sampai saat ini belum ada jawaban.
Kasus serupa juga menimpa Perserang. Karena kesulitan untuk mendapatkan kucuran dana segar dari APBD, klub asal Serang, Banten, itu memutuskan mundur dari kompetisi divisi satu. Bahkan, pengunduran itu terjadi menjelang mereka melakoni pertandingan perdana melawan PSB di Stadion Padjajaran, Bogor, Minggu (4/5).
(Fahrizal Arnas/Budi Kresnadi/Broto Happy W.)
HASIL PERTANDINGAN
---------------------------------------
Rabu (7/5) Persidi Idi vs PSBL Langsa 1-0; PSLS Lhokseumawe vs PSSA Asahan 2-0; Pro Duta Bandung vs Persipur Purwodadi 2-0; Persida Sidoarjo vs Persedikab Kab. Kediri 1-0
JADWAL PERTANDINGAN
-------------------------------------------
Jumat (9/5) Persidafon Dafonsoro vs Persigubin Pegunungan Bintang
Sabtu (10/5) PSBS Biak vs Yahokimo FC
Minggu (11/5) Persedikab Kab. Kediri vs Perseta Tulung Agung, Persipro Probolinggo vs Persikoba Kota Batu, PSKS Cilegon vs Persipon Pontianak, Perserang vs Persepar, Persik Kendal vs PSISra Sragen, Persipur vs PPSM, Pespessel vs PSBS Bangkinang, PS Bungo vs PSBL Bandar Lampung, PSBL Langsa vs PSKPS, PSSA Asahan vs Persires, Persiko Kotabaru vs Persid Jember, Perst Tabanan vs Persewangi
>> Kembali ke Atas
Pukulan Kedua Persedikab
Target satu poin yang dicanangkan manajer Persedikab Kab. Kediri, Sony Sandra, lepas. Tim polesan Nurdiyanto itu kalah tipis 0-1 dari tuan rumah Persida Sidoarjo, Rabu (7/5) di Stadion Gelora Delta Sidoarjo dalam lanjutan Liga Indonesia Divisi I Grup V. Kegagalan ini merupakan hasil buruk kedua Persedikab setelah sebelumnya dicukur 1-3 Persebi Boyolali.
“Kami masih lemah di sektor depan. Buktinya beberapa kali peluang yang mestinya jadi gol tak bisa dimanfaatkan. Kami harus bangkit pada partai selanjutnya jika tak ingin semakin terpuruk,” ujar Sony.
Gol kemenangan tuan rumah pada perhelatan yang disaksikan sekitar 1.000 penonton dan dipimpin wasit Rukye Intan itu dicetak Faris Firmansyah semenit sebelum waktu normal berakhir.
Sebaliknya Persida mulai berada di jalur yang benar setelah di laga sebelumnya takluk 0-3 dari Persipro Probolinggo. Hasil ini sekaligus menjadi obat penghibur atas krisis dana yang menimpanya.
“Kemenangan ini bukan hasil yang bagus, tapi cukup untuk memberi dorongan moral pada anggota tim,” kata Parlin Siagian, pelatih.
Ia berharap kesuksesan ini bisa berlanjut saat Persida melawat ke kandang Persebi Boyolali, Minggu (11/5). “Setidaknya kami ingin ambil satu poin di sana,” kata Biqin Thorin Musa, ketua harian.
Sementara itu, partai PSB Bogor lawan PSKS di Stadion Padjajaran ditunda dan digelar hari Kamis. Itu terjadi karena hujan lebat mengguyur Bogor, Rabu sore. (riz/bhw)
>> Kembali ke Atas
|