|
|
 |
Home
> EDISI CETAK
Timnas U-17
Juru Kunci di Tashkent
Habis sudah perjuangan timnas U-17 di kancah Piala Asia 2008. Kekalahan 0-1 dari India di partai terakhir seakan menggenapkan catatan buruk Indonesia di turnamen yang digelar di Tashkent, Uzbekistan, tersebut. Timnas pulang ke Tanah Air tanpa mengantungi sebiji poin pun, menduduki juru kunci grup B!
Pada dua pertandingan sebelumnya, Fahreza Agamal cs. dipecundangi Suriah 1-2 dan Korea Selatan 0-9.
Saat menjajal India, timnas sebenarnya menguasai jalannya pertandingan dan menghadirkan beberapa peluang ke gawang lawan. Dua hal itu ternyata belumlah cukup untuk membawa kemenangan bagi Indonesia.
India yang tampil bertahan sepanjang pertandingan berhasil mencuri sebuah gol lewat kepala pemainnya, Manandeep, beberapa saat sebelum turun minum.
"Sebenarnya anak-anak tampil bagus malam ini. Mereka bisa mengontrol permainan dan membuat beberapa peluang. Sayang, gol lawan justru terjadi karena salah pengertian di antara pemain kita," ujar Mundari Karya, pelatih timnas.
Secara keseluruhan, hasil yang diraih tim nasional U-17 di Piala Asia Junior 2008 memang bisa dibilang jeblok. Target lolos ke babak kedua yang diapungkan sejak masa persiapan di Jakarta lagi-lagi menjadi angan-angan semata.
Mundari menyebut kekalahan dari Korea Selatan lebih karena faktor kualitas lawan yang sulit diimbangi timnas. Kekalahan itu membuat mental para pemain drop. “Tetapi anak-anak belajar banyak dari mereka yang secara kualitas dua tingkat di atas,” ujar Yeyen Tumena, asisten pelatih timnas.
Masalah lebih besarnya postur lawan yang sudah diperkirakan sejak masa persiapan ternyata tetap kurang bisa diantisipasi. Meski berani berduel dan meladeni permainan lawan, postur lawan yang lebih besar dan kuat memang menyulitkan anak-anak Indonesia.
Faktor Usia
Hal ini terbukti dari banyaknya gol yang tercipta dari hasil bola-bola mati ke gawang Indonesia.
"Gol Suriah dua-duanya sundulan. Begitu pula ketika melawan Korea. Lima dari sembilan gol mereka juga dari bola-bola mati. Terakhir gol India tadi. Ini membuktikan kita memang kalah dalam fisik. Tenaga lawan juga sangat kuat," lanjut Mundari.
Kalaupun ada nilai positif dari penampilan timnas secara keseluruhan, itu adalah usia rata-rata pemain kita yang masih berkisar di bawah 15 tahun.
Rata-rata umur pemain kita sedikit lebih muda dibanding pesaing. Tim yang dikirim ke Uzbekistan merupakan lapis kedua. Para pemain pilar yang menjadi kunci kesuksesan di ajang kualifikasi tengah berada di Uruguay mengikuti Quinta Division U-17.
“Meski faktor usia tidak bisa dijadikan alasan atas hasil buruk ini, kita harus tetap bangga atas perjuangan anak-anak yang tidak takut untuk meladeni permainan lawan yang kebanyakan lebih besar. Tinggal kita berharap anak-anak ini bisa lebih berkembang di masa mendatang,” ujar Yeyen.
Pelajaran lain yang bisa dipetik punggawa Merah-Putih adalah masa persiapan yang harus lebih terprogram. Contoh paling kentara adalah perbandingan dengan masa persiapan India, yang telah melakukan pelatnas di Amerika Serikat sejak satu tahun lalu.
Hal yang sama juga dilakukan Korea, yang kabarnya mempersiapkan tim sejak tahun lalu ke Eropa.
(cw-4)
>> Kembali ke Atas
Mundari Karya
Siap Diberhentikan
Kelangsungkan karier pelatih Mundari Karya hampir pasti berakhir setelah kegagalan timnas di ajang Piala Asia. Semenjak mengambil alih posisi yang ditempati Subangkit, prestasi timnas menurun drastis.
Selain prestasi jeblok di Uzbekistan, timnas menempati posisi paling buncit di Piala AFF U-16 yang digelar Juli di Jakarta. Di event yang dijadikan sebagai ajang pemanasan sebelum putaran final Piala Asia itu timnas harus takluk dari tiga tim peserta lainnya, yakni Australia, Bahrain, dan Malaysia, serta ditahan imbang oleh Singapura.
Bagaiman mantan pelatih PSPS dan Persikota tersebut menyikapi rentetan kegagalan itu? Berikut petikan wawancara BOLA via telepon dengan Mundari, Rabu (8/10) malam, setelah timnas dipecundangi India.
Apa sebenarnya yang menjadi penyebab buruknya hasil yang diraih Indonesia di Piala Asia ini?
Harus diakui bahwa sebenarnya lawan-lawan yang kita hadapi di Grup B ini lebih kuat. Mereka juga tampak telah mempersiapkan diri secara matang.
Selain itu, kita masih lemah dalam mengantisipasi lebih besarnya postur lawan. Meski para pemain sudah tidak segan lagi untuk meladeni permainan mereka, perbedaan tersebut tetap saja menyulitkan pemain kita.
Hal apa yang bisa dipetik pemain-pemain muda kita dari turnamen ini?
Ya, sudah tentu mereka mendapat banyak pelajaran dari tim-tim kuat seperti Korea Selatan, Jepang, dan Australia. Harus diakui mereka memiliki kemampuan di atas kita. Oleh karena itu, kita memang tidak perlu malu untuk belajar dari mereka.
Bagaimana sebaiknya kelanjutan tim ini?
Mereka masih sangat muda, butuh banyak pengalaman, terutama pengalaman internasional. Di sini mereka bisa mendapatkan itu. Tapi, akan lebih baik bila mereka bisa lebih sering lagi merasakan atmosfer pertandingan internasional. Selain itu, kita juga perlu memikirkan masa persiapan yang lebih serius dan terprogram.
Apa pertanggungjawaban Anda sebagai pelatih atas hasil buruk ini?
Sejak awal menerima tugas ini, saya sadar bahwa saya harus siap mengambil risikonya karena merupakan sebuah tantangan untuk menangani tim ini ke kejuaraan Asia. Saya akan buat laporannya untuk Badan Tim Nasional dan siap menerima konsekuensi yang diberikan, termasuk jika mereka memberhentikan saya. Namun, secara keseluruhan, saya tetap bangga atas usaha dan semangat anak-anak.
(cw-4)
>> Kembali ke Atas
| |
 |

|