|
|
 |
Home
> EDISI CETAK
 |
Catatan Sepakbola
Dwi Widijatmiko
|
Scudetto dengan Hati
Saya termasuk yang senang sekali melihat Inter gagal memastikan diri meraih scudetto pekan lalu. Di satu sisi, saya ingin melihat Serie A tetap seru sampai laga terakhir. Di sisi lain, saya merasa sudah waktunya Inter mendapatkan pelajaran.
I Nerazzurri memang hebat sepanjang musim ini, tapi mereka juga punya kekurangan. Mereka terlalu arogan, belum tahu cara mengemas gelar juara dengan elegan. Maaf untuk para Interisti, tapi saya punya alasan.
Berangkat dari prestasi musim lalu, barangkali Inter masih merasa tak terlawan musim ini. Mereka begitu yakin akan meraih scudetto dengan mudah dan terus mengklaim diri sebagai tim terbaik di Serie A.
Tidak ada masalah dengan hal itu kalau Inter melakukannya tanpa merendahkan pihak lain. Sayangnya itu justru yang kerap dilakukan oleh tim asuhan Roberto Mancini. Inter seolah tidak mau menerima jika ada tim mendapatkan sorotan lebih besar daripada mereka.
Masih segar dalam ingatan bagaimana Inter menyebut gelar juara Liga Champion dan Piala Dunia Klub yang diraih Milan tidak penting. Inter juga sering membuka perselisihan dengan Roma di saat I Lupi ternyata bisa mendekati mereka.
"Inter harus menyusun kata-kata yang tidak menyinggung orang," kritik gelandang Milan, Clarence Seedorf. "Bukan sekali ini saja Inter menunjukkan mereka tidak punya style," tuding bos Roma, Bruno Conti.
Orang netral pun diserang Inter. Mancini berulang kali menyebut media Italia selalu memojokkan timnya, padahal pers hanya menyajikan fakta. Memang betul, porsi tekanan bagi Inter lebih besar. Tapi, semua tim yang sedang mendominasi liga akan mendapatkan perlakuan serupa, entah itu Juventus, Milan, ataupun Roma.
Belajar dari Kesalahan
Jangan heran karakter seperti itu menular ke para punggawa Inter. Sebagian pemain I Nerazzurri adalah persona-persona egois yang tidak respek pada pelatihnya sendiri. Mancio pun "cari selamat sendiri" ketika Inter disingkirkan Liverpool dari Liga Champion.
Puncak dari egoisme dan arogansi Inter bisa dilihat dari kejadian pekan lalu. Marco Materazzi, yang hanya berada di urutan ketiga pengambil penalti di Inter, memaksa menjadi eksekutor di saat-saat menentukan. Dia ingin menjadi pahlawan. Orang ini mengedepankan kepentingan pribadi daripada klub.
Inter harus belajar bahwa menjadi juara juga perlu memakai hati. Tidak pernah ada yang salah dengan kerendahan hati. Itu justru akan membuat kemasan scudetto bakal terasa lebih manis dan terhormat. Yakinlah jika Inter melakukan itu, mereka akan mendapatkan respek yang sudah dicari sejak mereka juara karena calciopoli.
Saya berharap Inter belajar dari kejadian pekan lalu. Masih ada satu giornata tersisa di mana La Beneamata punya kesempatan menghapus semua cacat mereka musim ini dengan sebuah penutupan perebutan scudetto yang manis, scudetto yang menggunakan hati.
Jika ternyata sukses menjadi juara, semoga Inter menyikapinya dengan kerendahan hati. Fakta mereka harus berjuang hingga giornata terakhir membuktikan Inter mesti menghormati semua lawan mereka musim ini.
Jika ternyata Inter gagal meraih scudetto dan gelar juara diambil Roma, semoga mereka menerimanya dengan berbesar hati. Mengakui kekalahan adalah salah satu ciri juara sejati.
>> Kembali ke Atas
| |
 |

|