|
|
 |
Home
> EDISI CETAK
Parma vs Inter
Ennio Tardini (18/5)
------------------------------
Menanti Keajaiban
Presiden Inter, Massimo Moratti, tidak akan bertemu Hector Cuper pada Minggu (18/5) di kandang Parma, Ennio Tardini. Nama pelatih itu akan langsung membuat Moratti teringat pada memori yang tidak menyenangkan.
Memori itu berasal dari kejadian pada 5 Mei 2002. Scudetto ada di depan mata Inter. I Nerazzurri, yang saat itu dilatih Cuper, harus menang di pekan terakhir untuk memastikan gelar juara. Faktanya Inter menyerah 2-4 kepada Lazio meski sempat unggul 1-0 dan 2-1 sehingga scudetto diraih Juventus.
Sekarang Inter mengalami kondisi yang sama seperti enam tahun lalu. Satu pekan sebelum kompetisi selesai, La Beneamata memimpin klasemen. Untuk menjadi kampiun, Javier Zanetti dkk. wajib menang.
Untung buat Moratti dan Interisti yang percaya bahwa Cuper membawa kesialan buat I Nerazzurri. Senin lalu Parma memecat Cuper. Pelatih asal Argentina itu dipecat karena sejak menangani I Gialloblu pada Maret lalu hanya menghadirkan dua kemenangan dalam 10 laga. Akibatnya Parma terancam degradasi.
“Saya memilih melakukan ini untuk kebaikan tim,” kata Presiden Parma, Tommaso Ghirardi pada Corriere dello Sport tentang keputusan mengganti pelatih menjelang pertandingan terpenting musim ini.
“Tahun lalu kami memperoleh keajaiban. Kami dapat mengalami hal itu lagi tahun ini,” ujar Ghirardi.
Musim lalu, Parma baru mendapat kepastian bertahan di Serie A pada pekan terakhir. Namun, saat itu posisi I Ducali tak sesulit sekarang. Pada giornata 37 musim lalu, Gialloblu di luar zona merah. Sekarang Parma di zona degradasi.
Manzo Eks Milan
Pelatih tim primavera, Andrea Manzo, ditunjuk menjadi pengganti Cuper. Allenatore berusia 46 tahun itu belum pernah melatih di Serie A.
Dalam situasi seperti sekarang peran pelatih bukan yang utama. Motivasi dan perjuangan pemain lebih penting.
“Saya akan melakukan yang terbaik karena saya ingin tetap berada di Serie A,” kata penyerang Parma, Igor Budan. Ia ingin mempertahankan sejarah bagus klub yang tak pernah turun ke Serie B sejak promosi ke Serie A pada 1990.
Manzo tentu ingin menjalani debut indah. Ia punya sesuatu yang bisa membuat Budan dkk. tampil luar biasa, seperti yang dilakukan Siena ketika menahan Inter 2-2 di Giuseppe Meazza Minggu lalu.
Seperti pelatih Siena, Mario Beretta, Manzo memiliki sentuhan Milan dalam dirinya. Milan adalah musuh sekota Inter. Eks gelandang itu 47 kali membela Milan pada 1983-1987. Beretta sendiri dikenal sebagai tifosi Milan.
Manzo beruntung karena memiliki pemain berkualitas, yang selama era Cuper gagal menyatu menjadi tim yang solid. Gelandang Luca Cigarini, penyerang Reginaldo, Budan, dan Cristiano Lucarelli adalah pemain-pemain hebat.
Sayangnya, bek Marco Rossi, gelandang Daniele Dessena, dan McDonald Mariga terkena skorsing.
Ibra Kembali
Inter juga tanpa tim terbaik setelah gelandang Esteban Cambiasso cedera engkel pada Ahad lalu. Namun, sangat mungkin La Beneamata dapat memainkan Zlatan Ibrahimovic.
Awal pekan ini Ibra kembali berlatih bersama tim. Penyerang asal Swedia itu absen bermain sejak Maret lalu karena cedera lutut. Ibra menjadi bintang kemenangan 3-2 atas Parma di Giuseppe Meazza pada Januari lalu. Saat Inter tertinggal 1-2, ia mencetak dua gol pada lima menit terakhir laga.
Menjelang partai pamungkas, Inter melakukan silenzio stampa atau puasa bicara pada pers. Hal ini dilakukan untuk menenangkan diri. Selasa lalu, Moratti bersama semua pengurus klub ikut hadir di markas latihan Inter guna memberi dukungan pada Zanetti dkk.
Suasana seperti demikian akan sangat membantu Inter tampil maksimal dan meraih kemenangan di Tardini. Namun, rekor pertemuan di sana memihak Parma. Dalam 17 duel Inter hanya menang dua kali dan kalah 10 kali.
(Riemantono)
PRAKIRAAN FORMASI
---------------------------------------
PARMA (4-4-2) 99-Pavarini; 33-Coly, 24-Couto, 28-Paci, 7-Castellini; 83-Reginaldo, 4-Morrone, 21-Cigarini, 18-Gasbarroni; 20-Budan, 9-Lucarelli
Cadangan 5-Bucci, 22-Moretti, 2-Zenoni, 6-Antonelli, 31-Crisci, 15-Martinez, 55-Parravicini. Absen: Pisanu, Corradi, Morfeo (cedera), Rossi, Dessena, Mariga (skorsing). Pelatih: Manzo.
INTER (4-3-1-2) 12-Julio Cesar; 13-Maicon, 18-Burdisso, 23-Materazzi, 6-Maxwell; 14-Vieira, 4-Zanetti, 5-Stankovic; 11-Jimenez; 45-Balotelli, 9-Cruz
Cadangan 1-Toldo, 24-Rivas, 26-Chivu, 28-Maniche, 8-Ibrahimovic, 9-Suazo, 18-Crespo. Absen: Dacourt, Samuel, Cordoba, Figo, Cambiasso (cedera). Pelatih: Mancini.
>> Kembali ke Atas
Matrix Bangkit
Jika Inter gagal meraih scudetto, Marco “Matrix” Materazzi akan dianggap sebagai penyebab kegagalan. Bek tengah tersebut membuang kesempatan Inter untuk menang di pekan ke-37.
Saat skor 2-2 melawan Siena, Inter mendapat penalti. Berdasarkan penilaian pelatih Roberto Mancini, penyerang Julio Cruz ada di urutan pertama daftar penembak. Mario Balotelli di posisi kedua dan Matrix ketiga. Namun, apa yang terjadi? Materazzi memutuskan untuk mengambil penalti.
Cerita selanjutnya sudah diketahui. Tembakan Materazzi dihalau kiper Alex Manninger.
Corrierre dello Sport menulis setelah pertandingan para pemain Inter melampiaskan kekecewaan pada Matrix. Bek berusia 33 tahun itu disebut terlibat perang mulut dengan Mancini di kamar ganti.
Setelah pertandingan, Materazzi meminta maaf kepada Cruz. Dua hari kemudian eks bek Perugia dan Everton ini kembali meminta maaf, kali ini melalui situs pribadi. Selain meminta maaf, ia menyatakan akan mencoba mengangkat kepala dan melihat ke depan.
Akan tetapi, Matrix tak bersedia berdialog dengan tifosi seperti yang biasa ia lakukan. “Saya hanya mengikuti arahan klub, yang memilih untuk tidak memberi komentar jenis apa pun pekan ini. Itulah cara untuk berkonsentrasi seratus persen dan fokus ke pertandingan hari Minggu,” sebutnya. (man)
>> Kembali ke Atas
| |
 |

|