|
|
 |
Home
> EDISI CETAK
 |
Analisis
Rob Maul
dari London |
Kampanye Penuh Drama
Tanpa konsentrasi bagi media dan publik pada musim panas ini, menyusul kegagalan Inggris lolos ke Euro 2008, gejala kebosanan akan mulai lebih awal dari normal. Penantian akan terasa panjang.
Alasan mengapa setiap orang akan merasa lebih tertekan daripada biasanya selama 11 minggu menunggu Premier Leagua bergulir lagi adalah karena musim 2007/08 --terlepas dari klimaks indahnya-- telah menjadi kampanye penuh drama, intrik, dan kontroversi.
Minggu lalu, di hari puncak musim mendebarkan, hanya selisih gol yang memisahkan Man. United dan Chelsea. Inilah perburuan titel paling ketat dalam 19 tahun. Dua atau tiga tim terdegradasi juga belum dipastikan saat kick-off ke-10 partai terakhir. Tak berlebihan mengatakan bahwa saat peluit akhir dibunyikan, setelah 380 partai dan 1.002 gol, kebanyakan suporter menginginkan lebih.
Setiap orang yang mengikuti musim dengan cermat akan mengatakan Man. United pantas juara dengan keseimbangan bagus antara gaya dan substansi. Tak ada tim yang menang lebih banyak. Mereka mempunyai serangan paling mematikan, cukup melihat kebrilianan Wayne Rooney, keuletan Carlos Tevez, dan ketajaman luar biasa Cristiano Ronaldo, yang di musim kelimanya di Inggris bisa menyamai rekor 31 gol milik eks Newcastle, Alan Shearer.
United juga mencatat pemilik pertahanan terbaik, kebobolan hanya 22 gol, termasuk torehan 21 clean sheet. Kombinasi Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic sangat penting dan akan menjadi legendaris, ditimpali performa yang dapat diandalkan dari Patrice Evra dan Wes Brown.
Bagaimanapun, ucapan selamat pantas dialamatkan kepada Chelsea karena bisa menekan United hingga akhir. Beberapa kali mereka tampil hebat meski tak terlalu kokoh. Walau tak populer, Avram Grant paling tidak telah mempertahankan gairah meraih titel sampai akhir musim, terutama dengan performa ajaib Michael Ballack.
Namun, banyak pemain inti yang bisa jadi akan hengkang. Musim ini mungkin akan dikenang sebagai yang terakhir di mana jimat macam Frank Lampard dan Didier Drogba mengangkat liga.
Arsenal Elegan
Hadir pula argumen alternatif bahwa permainan paling elegan musim ini adalah milik Arsenal, yang mendominasi pada 2007 hingga cedera mengerikan Eduardo di Birmingham. Sambil tetap menjaga prinsip kuatnya, manajer Arsene Wenger mempertahankan kepercayaan pada tim muda. Ia yakin bahwa kebesaran di masa depan berada di jalurnya dan akan berbuah secara alami.
Pada beberapa kesempatan, sepakbola Arsenal indah. Tak konsisten efektif, tapi menyenangkan untuk disaksikan. Entah apa jadinya Gunners jika ada kaliber kelas dunia seperti Fernando Torres. Pemain 24 tahun itu adalah pembelian terbaik musim ini. Ia membuktikan banderol 26,5 juta pound pada kesempatan pertama. Tak ada pemain asing yang memiliki pengaruh demikian besar di musim debut.
Rafael Benitez akan membeli dan menjual dengan hati-hati. Lebih penting lagi, jika masalah di jajaran pengurus dengan para pemilik asal AS cepat diselesaikan, Liverpool seharusnya menawarkan ancaman besar musim depan.
Manajer Muda
Di luar top four, Everton adalah the best of the rest. Poin mereka 65, tertinggi sejak konsepsi Premier League pada 1992, menggambarkan kerja fantastis David Moyes dengan dana terbatas dan skuad relatif kecil. Aston Villa, Blackburn, dan Portsmouth juga perlu dikagumi dengan banyak sinar tinggi.
Kembalinya The Messiah, Kevin Keegan, ke Newcastle pada Januari adalah cerita musim ini. Akhir tahun lalu, dalam sebuah wawancara televisi, Keegan mengatakan tidak ada yang akan menggodanya kembali. Luar biasa ia hadir kembali di Tyneside meski terlihat jauh lebih tua dengan rambut lebih abu-abu dibanding kiprah terakhir 10 tahun silam.
Sepakbola telah jauh berubah sejak masa terakhir Keegan di St. James’ Park. Manajer menjadi lebih muda. Dua rivalnya di timur laut, Gareth Southgate (37) dan Roy Keane (36), tampil di manajemen dengan relatif sukses. Posisi final, ke-13 dan 15, untuk Middlesbrough dan Sunderland menunjukkan kerja bagus dua eks pemain bintang ini dengan pengalaman minim.
Toh tak seorang pun kebal dari pemecatan. Mari pikirkan sejenak Sven-Goran Eriksson dengan perlakuan aneh dan memalukan yang diterimanya. Di bawah arahannya, Man. City memulai musim dengan dahsyat, dua kali memukul Man. United dan finis di paruh atas.
Kebanyakan pemilik akan gembira dengan pencapaian ini. Namun, Thaksin Shinawatra bukan pemilik biasa. Karena itu Eriksson dijadwalkan kehilangan jabatan. Rasanya pengganti tak akan jauh lebih baik dibanding eks bos Inggris itu di Eastlands.
Di samping ketegangan dan kegembiraan, ada juga air mata. Derby County secara statistik adalah tim terburuk dalam sejarah Premier League. Sementara itu, Reading dan Birmingham menjadi tim yang tak beruntung turun ke Championship. Air mata masih bercucuran di Berkshire dan sudut biru di Midlands.
>> Kembali ke Atas
| |
 |

|