|
|
 |
Home
> EDISI CETAK
Musim Muram Pengadil
Wasit Inggris dikenal tegas. Namun, label itu menyusut cukup drastis dalam semusim. Keputusan kontroversial dan kritik yang mengikuti membanjir. Kinerja korps baju hitam Inggris dalam sorotan.
Kesalahan mengambil keputusan adalah manusiawi. Namun, Premier League 2007/08 akan diingat sebagai kompetisi di mana kekeliruan itu terjadi berkali-kali sehingga kewajaran human error ini digugat.
Banyak manajer melontarkan ketidakpuasan atas performa pengadil. Ada pelatih yang bahkan menuduh wasit sudah lebih dulu terganggu sebelum pertandingan oleh komentar yang dilepas pelatih tim lawan sehingga wasit menjadi berat sebelah.
FA tampak tak berniat menutup kelemahan penegak peraturan di lapangan hijau itu. Mike Riley diistirahatkan sepekan akibat tak merogoh kartu merah untuk Ashley Cole setelah tekel brutalnya terhadap bek sayap Tottenham, Alan Hutton, Maret lalu. Di awal musim, Rob Styles juga dilarang memimpin karena penalti kontroversial untuk Chelsea saat melawan Liverpool.
Sorotan lebih menghunjam karena korps baju hitam membiarkan sikap tak hormat para pemain terhadap diri mereka. Beberapa kali pengadil Inggris tak mengambil tindakan keras kepada pemain yang melepaskan intimidasi terhadap mereka.
Larangan Tiga Kali
“Ini bukan tentang wasit menjadi kuat atau FA mendukung mereka, melainkan soal pemain tak memperlihatkan sikap respek. Manajer hingga media menginginkan wasit yang kuat,” ucap Graham Poll, yang dikenal tegas kala menjadi wasit.
Poll juga mengajukan sebuah solusi sederhana. “Jika jelas ada pelecehan di lapangan, seseorang harus mendapat larangan tampil tiga kali, entah pemain yang melakukan atau wasit yang tidak menghukumnya. Itu adalah pilihan bagi para wasit,” ucap Poll di The Independent.
Well, bila respek pemain yang notabene berpenghasilan gede tak kunjung membaik, jangan-jangan FA perlu meninjau usulan Frank Malley, kepala editor Press Association, pada 2004 soal Premier League memakai wasit asing.
Pierluigi Collina adalah sosok yang disebut pantas “melawan” perilaku tak respek para pemain Inggris pada wasit. Entah apa kata dunia jika pengadil pun mesti diimpor dari Italia setelah pelatih timnas.
(Christian Gunawan)
>> Kembali ke Atas
Blues Portugal Lagi
Jose Mourinho tak ada lagi di Chelsea. Namun, aroma Portugal malah bertambah di tubuh The Blues. Jose Bosingwa da Silva dipastikan pindah ke Stamford Bridge dari Porto. Chelski setuju dengan transfer 16,2 juta pound (sekitar 291 miliar rupiah).
Bek 25 tahun itu dipercaya The Blues akan menjadi penambal kelemahan di kanan pertahanan. Si Biru beberapa kali memaksa Michael Essien tampil di titik itu, termasuk dalam beberapa minggu terakhir yang krusial.
Klub London Barat ini mengungguli Man. United dan Aston Villa, yang dikabarkan tertarik pada Bosingwa.
“Saya memiliki beberapa teman di Chelsea. Ini adalah klub yang saya yakini bisa menjadi tempat di mana saya bisa berkembang sebagai pemain,” ucap Bosingwa seperti dikutip Sky Sports.
Bek kelahiran Kinshasa, Rep. Demokratik Kongo, ini adalah rekrutan pertama, tapi kemungkinan besar bukan yang terakhir bagi Si Biru di akhir musim ini. Sejumlah dana gemuk diperkirakan sudah disiapkan Chelski untuk membentuk tim guna menantang Man. United dalam perburuan gelar musim depan.
Isu gerak edan Chelsea bahkan tercium pula sampai ke Spanyol. Chelski ditengarai mengajukan tawaran 40 juta pound (718 miliar rupiah) untuk pemain asal Spanyol, Fernando Torres. Liverpool, pemilik El Nino, disebut menolak proposal itu.
(chrs)
>> Kembali ke Atas
| |
 |

|