|
|
 |
Home
> EDISI CETAK
 |
Laporan
Benhard Sitorus
dari Portsmouth |
Pompey Double Club Indonesia
Belajar Lewat Sepakbola
Sepakbola kembali menjadi bahasa dunia. Selain dimainkan oleh seluruh bangsa, kini bola menjadi alat komunikasi alternatif selain institusi sekolah dalam mendidik siswa.
|
|
Pertandingan persahabatan peserta dari Muhammadiyah dengan Warblington.
|
Inilah yang dilakukan dalam Pompey Double Club Indonesia. Program baru dan unik tersebut dikembangkan The British Council Jakarta dengan mengirim siswa SMP Muhammadiyah berkunjung ke Portsmouth, 13-21 Mei 2008. Idenya adalah membangun hubungan pendidikan Indonesia-Inggris melalui sentuhan yang berbeda.
Sesuai dengan namanya, daya tarik program ini adalah salah satu klub besar Inggris, Portsmouth, sebagai institusi yang mendukung penuh program pendidikan dengan menitikberatkan sentuhan sepakbola. Antusiasme peserta meninggi karena Pompey berhasil melangkah ke final Piala FA melawan Cardiff City di Wembley, 17 Mei.
Konsep double club adalah membangun institusi pendidikan dengan analogi klub yang mengajarkan ilmu tak hanya di dalam sekolah, tapi juga di lapangan olahraga. Muhammadiyah memang punya sekolah berjenjang dengan akreditasi baik di Indonesia dan sekolah bola, Asian Soccer Academy.
“Kami mencoba membangun hubungan dan mengikis perbedaan di antara siswa dari dua negara agar mereka berkesempatan mengembangkan diri. Anak-anak tak hanya bermain bola, tapi juga mampu meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris,” ujar Christopher Palmer, The British Council Director of Learning and Creativity, sang penggagas ide.
Program ini tidak hanya untuk siswa. Para guru juga dapat diajak bekerja sama untuk mengembangkan kemampuan.
Sembilan sekolah SMP Muhammadiyah dari tiga provinsi, Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jakarta, dilibatkan. Anak-anak dilatih 2-3 jam sekali seminggu selama 10 bulan. Pelajaran Bahasa Inggris dilakukan sambil berlatih futsal untuk laki-laki dan bola voli untuk perempuan.
Para peserta terlihat antusias meski baru saja menempuh perjalanan udara lebih dari 20 jam. Hari pertama dalam kegiatan selama sembilan hari ini, rombongan mengunjungi Warblington School. Mereka disambut pertandingan persahabatan, sepakbola untuk laki-laki dan voli untuk perempuan.
“Sangat mengejutkan. Meski terlihat lelah, mereka mampu menunjukkan kemampuan individual yang menonjol,” ujar Jerome Matthews, salah satu pengajar Warblington.
>> Kembali ke Atas
| |
 |

|