 |
Lutfi Hamid |
Piala Thomas
Kali Ini Kita Lebih Siap
Piala Thomas, bagi Indonesia sudah lebih dari sekadar lambang supremasi bulutangkis beregu putra. Piala ini menjadi bagian tersendiri bagi dunia bulutangkis Indonesia. Rekor lima kali berturut-turut plus negara yang paling sering menjadi juara, membuat piala ini punya tempat khusus di hati semua pencinta bulutangkis.
Akhir pekan ini, putaran final Piala Thomas dan Uber kembali digelar dan yang kedua dalam empat tahun Indonesia kembali menjadi tuan rumah. Apakah keuntungan sebagai tuan rumah bisa mengembalikan Piala Thomas ke ibu pertiwi? Demikian penuturan Manajer Tim Piala Thomas Indonesia, Lutfi Hamid, kepada Andi Yanianto.
****
Secara umum memang Piala Thomas adalah citra pembinaan olahraga bulutangkis di bagian putra. Berhasil menjadi juara adalah sebuah prestise tersendiri bagi negara yang merebutnya. Apalagi bagi Indonesia. Kita sudah 13 kali menjadi juara dan piala tersebut sudah sejak 2004 dikuasai negara lain. Saya pikir inilah saatnya kita merebutnya kembali.
Momentumnya juga tepat karena tahun ini adalah 100 tahun kita merayakan Kebangkitan Nasional. Akan sangat indah jika perayaan 100 tahun Kebangkitan Nasional dilengkapi dengan kembalinya Piala Thomas ke bumi Indonesia.
Bagi para pemain, Piala Thomas tentu juga sebuah cita-cita. Di dalam tim sendiri, hanya dua pemain yang pernah merasakan menjadi juara, yaitu Taufik Hidayat dan Candra Wijaya. Pemain yang belum pernah menjadi juara Piala Thomas pasti punya motivasi lebih untuk merebutnya, apalagi kita akan main di depan publik sendiri.
Saya yakin, walaupun sudah pernah, Taufik dan Candra juga tak puas begitu saja. Dua kali sudah, yaitu pada 2004 dan 2006, kita gagal. Itu pasti membuat keduanya ingin merebut Thomas kembali.
Faktor Istora
Menjadi tuan rumah sendiri sebetulnya hanya persoalan bagaimana kita mengelolanya. Istora memang kerap dianggap angker oleh pemain asing. Namun, jangan lupa kita juga pernah dua kali gagal di Istora, yaitu pada 1986 dan 2004.
Sebagian besar anggota tim kali ini sama dengan tim Thomas 2004, yang tampil di Istora. Jadi mereka sudah punya pengalaman tampil di stadion kebanggaan kita itu. Situasinya berbeda dengan 2004, ketika semua pemain yang memperkuat tim tidak ada yang pernah tampil di Istora sebagai tim Piala Thomas karena kita terakhir kali menjadi tuan rumah pada 1994.
Atmosfer yang dirasakan tiap pemain juga berbeda meski main di tempat yang sama. Ada pemain yang jadi kesetanan ketika didukung penuh penonton, tapi juga ada pemain yang merasakan sebaliknya.
Pada masa lalu, saya ingat ada pemain yang justru tidak ingin diberi tepuk tangan oleh penonton karena membuat dirinya ingin terus bermain menyerang dan akhirnya cepat kelelahan. Nah, contoh-contoh seperti ini yang harus bisa kami kelola. Yang pasti pemain aset penting negara. Mereka sudah demikian banyak berkorban, jadi ketika bertanding, berikanlah dukungan yang positif bagi mereka.
Peran Senior
Pemain saya lihat sudah tidak ada masalah. Betul, pertandingan beregu adalah persoalan mental. Itulah sebabnya kami menyelipkan dua pemain ganda senior. Diharapkan pemain seperti Candra dan Nova Widiyanto bisa menjadi benteng. Kalau kita menengok ke belakang, peran pemain senior sangat besar. Pada 2002, ketika kita menurunkan Tri Kusharjanto dan Halim Haryanto sebagai ganda kedua, terbukti bisa membalikkan keadaan dan akhirnya kita menang. Hal seperti ini yang diharapkan dari Candra dan Nova. Namun, bukan berarti pemain baru hanya ditempatkan sebagai cadangan.
Setiap pemain punya tugas sendiri-sendiri yang pada saatnya akan diturunkan, mengacu pada strategi pertandingan. Setiap pemain juga sama. Setiap kali diturunkan, mereka harus meraih poin. Singkatnya, kali ini kita sudah jauh lebih siap dibanding dua kali putaran final terdahulu.
Strategi Tak Rumit
Bisa saya katakan strategi tim Piala Thomas kali ini tidak rumit: pada setiap pertandingan kita harus menang. Pada pertandingan grup, delapan besar, semifinal, hingga final, kita harus menang. Sebagai tuan rumah dan salah satu unggulan, kita memang tidak punya pilihan lain selain itu.
Apa iya kita harus mengalah kepada Thailand atau Jerman di babak grup untuk memilih lawan di babak berikut? Tentu tidak, apalagi kita main di depan publik sendiri. Posisi kita saat ini adalah yang dipilih lawan, bukan kita yang memilih. Biarkan mereka yang mengatur hasil untuk menentukan apakah ingin bertemu kita atau tidak.
Negara-negara tertentu memang kuat, tapi bukan berarti tidak punya kelemahan. Yang penting adalah bagaimana kita. Sebagai tim, kami sudah sangat siap, baik pemain maupun tim pendukung. Kepada rakyat Indonesia, kami memohon dukungan, doa, dan restu.
Semoga dengan semua yang kita punya itu, Piala Thomas, dan juga Piala Uber bisa kita rebut kembali.
>> Kembali ke Atas
|