 |
Catatan Ringan
Ian Situmorang |
Ini Saat yang Tepat, Bung!
Taufik Hidayat membuat jantung jutaan pencinta bulutangkis berdegup lebih kencang. Pada penampilan pertama di pentas Piala Thomas, ia kalah melawan Tanongsak Saensomboonsuk dari Thailand. Nasib serupa dialami Sony Dwi Kuncoro.
Keesokan harinya, dalam acara on air di salah satu stasiun radio, sang penyiar menanyakan opini saya. Ia terkejut ketika saya sebut bahwa kubu Indonesia beruntung karena Taufik dan Sony kalah.
“Lho, kenapa?” tanya sang penyiar.
“Karena kekalahan adalah pelajaran mahal yang amat berharga untuk mencapai kemenangan,” tukas saya. Sejauh menang secara tim 3-2 atas Thailand, tidak ada masalah berarti. Tim Indonesia dan individu pemain perlu terapi kejut agar bangkit.
Dalam pemahaman saya, lebih baik kalah pada babak-babak awal, tapi kemudian menjadikannya siaga penuh. Taufik tampil ala kadarnya, namun lihatlah bagaimana ia mulai menemukan performa lebih matang saat melawan Jerman. Sama halnya dengan yang dialami Sony.
Kalah, ya, memang kalah. Dalam olahraga yang menjunjung sportivitas, seharusnya tidak ada istilah mengalah untuk menang. Namun, kekalahan bukan berarti menutup kesempatan untuk menjadi juara. Jika kekalahan itu datang, ia bisa berdampak ganda: menghancurkan atau membangkitkan.
Nah, kekalahan mengejutkan dari Sony dan Taufik sama sekali tidak terduga, namun justru ada hikmah di baliknya. Situasi ini membuat naluri setiap pemain menjadi lebih peka agar mereka konsentrasi dan fokus pada tugas masing-masing.
***
Cukup mengejutkan melihat animo masyarakat yang tinggi menyaksikan Piala Thomas dan Uber kali ini. Padahal, rating penonton olahraga di Indonesia sedang berada pada titik bawah.
Tren seperti ini menjadi modal dasar bagi tim Indonesia menjadi juara. Materi pemain yang matang dan dukungan penuh dari penonton di Istora Senayan. Ini saat yang paling tepat merebut Piala Thomas, bung! Sulit membayangkan bagaimana berat perjuangan dua tahun mendatang. Taufik, Nova Widiyanto, dan Candra Wijaya boleh dikatakan sudah akan melewati titik puncak kemampuan terbaik mereka.
Pengaturan strategi beregu memang sangat berbeda dibandingkan dengan turnamen perseorangan. Susunan pemain, penerapan taktik, hingga irama permainan banyak dipengaruhi ofisial atau tim teknis, walau performa pemain tetap menjadi ujung tombak.
Masalah egoisme pemain tidak boleh dilepaskan dari strategi secara tim. Menurut legenda bulutangkis Indonesia, Christian Hadinata, setiap pemain harus tunduk pada agenda tim, namun pemain harus memiliki ego.
Christian pun mengungkapkan pengalaman pribadinya sebagai pemain. ”Prioritas kami adalah memenangkan tim, tapi sebagai pribadi, pemain mesti punya target sendiri. Apa pun hasil akhir pertandingan beregu, pemain memegang prinsip menyumbangkan satu angka kemenangan. Jika semua berprinsip seperti itu, berarti tim memenangi semua partai.” Ini sikap dan prinsip seorang juara. Semoga semua pemain memegang komitmen seperti itu.
***
Sejarah Piala Thomas boleh dikatakan cukup kering. Dari 24 pelaksanaan, tercatat hanya tiga negara yang berhasil merebut supremasi bulutangkis beregu putra tersebut. Ketiga negara tersebut adalah Malaysia, Indonesia, dan Cina.
Kali pertama ajang ini dilaksanakan di Preston, Inggris, pada 1949. Dominasi ada di tangan Malaysia, yang merajainya sebelum Indonesia ambil bagian untuk pertama kali pada 1958. Cina pun melakukan langkah raksasa pada 1982, yang langsung menggeser dominasi Indonesia di London.
Belakangan distribusi gelar seperti arisan antara Indonesia dan Cina. Dari 24 kali pergelaran, Indonesia mengoleksi 13 gelar, Cina 6, disusul Malaysia, yang 5 kali jadi kampiun. Secara tidak langsung, dominasi ini sebenarnya membuktikan bahwa perebutan Piala Thomas kurang berkembang.
Namun, bagi Indonesia, merebut Piala Thomas merupakan gengsi yang menggugah emosi masyarakat. Ada kebanggaan yang terkandung di dalamnya, setidaknya menjadi pelipur lara kala bidang ekonomi dan sosial-budaya negeri ini tengah melemah.
Bagaimana peluang Indonesia di Istora? Sejatinya Taufik cs. dapat meraih Piala Thomas. Lawan terberat tentu masih Cina, yang belakangan ini memang semakin kokoh di tiga tunggal dan dua ganda.
Sebelum ke final, masih ada semifinal yang mesti dilalui. Berpikir main di final tidak salah. Hanya, pikiran tak boleh buyar. Biarlah semua jenjang ditapaki dengan benar. Setelah itu, baru pasang taktik jitu untuk partai puncak.
Strategi sederhananya adalah memenangi dua ganda dan satu tunggal. Sebagai juara dunia dan Olimpiade, wajar Taufik kita harapkan menggapai satu nomor tunggal.
Namun, siapa menutup pintu bagi peluang Sony dan Simon Santoso? Bukankah sebelum pertandingan skor tetap sama, 0-0? Kita berharap skor 3-0, 3-1 atau 3-2 untuk kejayaan Indonesia!
ian@bolanews.com
>> Kembali ke Atas
|