PRINT EDITION | FORUM | AGENDA | PHOTOFOLIO
HALAMAN MUKA
Catatan Ringan
Halaman Tiga
Balap
Bola Basket
Bulutangkis
Galeri
Olimpik
Tenis
Tinju
OLE! INTERNASIONAL
Italia
Inggris
Spanyol
Jerman
Prancis
Profil
Wawancara
Piala UEFA
Euro 2008
OLE! NASIONAL
Divisi I
PSSI
KLASEMEN
Home  >  EDISI CETAK



Wawancara Simon Santoso
Ingin Lebih Tenang

Tunggal ketiga tim Thomas Indonesia, Simon Santoso, menjadi penentu saat bertemu Thailand, Minggu (11/5). Penampilan Simon yang tenang jadi kunci kemenangan tim. Berikut petikan wawancara Simon dengan BOLA.

Simon Santoso, ingin lebih bisa mengendalikan emosi.(Foto: Peksi Cahyo/BOLA)

Apa komentar Anda setelah menjadi penentu kemenangan?

Saya sangat bersyukur karena Indonesia bisa menang. Tapi, satu hal, saya bukan penentu. Semua pemain sudah berjuang keras untuk memberikan yang terbaik.

Penampilan Anda bisa mengusir kekecewaan akibat penampilan Sony Dwi Kuncoro dan Taufik Hidayat.

Saya hanya berusaha untuk bermain sebaik mungkin dan menyumbang poin bagi Indonesia.

Ada tekanan karena bermain di partai penentuan?

Kalau tekanan selalu ada dalam setiap pertandingan. Tapi, saya cukup yakin bisa menang. Pengalaman saya di pertandingan beregu lebih baik di banding lawan. Jam terbang saya juga lebih tinggi. Dukungan penonton yang luar biasa menjadi motivasi tambahan buat saya.

Bagaimana kondisi mental menghadapi Piala Thomas?

Saya lebih percaya diri. Saya beberapa kali tidak turun ke kejuaraan internasional agar fokus dalam latihan. Mental bertanding juga meningkat berkat bantuan motivator PBSI.

Tidak merasa di bawah bayang-bayang Sony dan Taufik?

Tidak. Memang peringkat saya di bawah mereka. Tapi, bukan berarti saya tidak punya kemampuan. Setiap kali dipercaya, saya akan selalu memberikan yang terbaik untuk Indonesia.

Ada yang mengatakan Anda hanya pelengkap dalam tim.

Tidak masalah orang mau bilang apa. Saya justru ingin membuktikan bahwa saya juga punya peran yang sama dengan pemain lain. Keraguan mereka justru menjadi motivasi buat saya.

Mungkin keraguan itu muncul karena penampilan Anda.

Karakter saya memang seperti itu. Tapi, penampilan saya sama sekali tidak memengaruhi permainan di lapangan. Saya tetap ngotot, baik dalam latihan maupun pertandingan.

Apa yang ingin dibuktikan?

Saya ingin selalu bisa menyumbang poin setiap kali diturunkan. Saya bertekad membantu tim menjadi juara. Saya minta masyarakat mendukung kami.

Anda terlihat sudah bisa bermain lebih dewasa.

Saya justru belum puas dengan penampilan sejauh ini. Permainan saya masih bisa lebih baik lagi. Saya masih belum sampai pada batas kemampuan dan butuh bertanding melawan pemain yang jauh lebih kuat agar bisa mengeluarkan kemampuan maksimal.

Ada evaluasi untuk pertandingan selanjutnya?

Saya ingin lebih tenang lagi dalam bermain. Terkadang saya masih terbawa emosi sehingga tidak bisa mengendalikan permainan. Selain itu, saya juga ingin meningkatkan penguasaan lapangan. (cw-1)

DATA DIRI
-------------------------
Nama: Simon Santoso
Panggilan: Simon
Lahir: Tegal, 29 Juli 1985
Postur: 175 cm/64 kg
Klub: Tangkas
Orangtua: Hosea Lim & Rahel Yanti
Hobi: Renang, baca komik
Nomor: Tunggal 3
Masuk Tim: 2004, 2006, 2008
Prestasi Tertinggi: Emas SEA Games 2003, 2007


>> Kembali ke Atas



Keajaiban Tunggal Ketiga

Banyak kejadian yang membuktikan pemain tunggal ketiga Indonesia justru kerap menjadi aktor penentu kemenangan tim. Tanpa mengecilkan pemain lain, tunggal ketiga sering memegang peran penting.

Pada final Piala Thomas 1984 di Kuala Lumpur, posisi tunggal ketiga ditempati Hastomo Arbi. Ketika itu Indonesia tertinggal 0-2 dari Cina. Tunggal pertama dan kedua, Liem Swie King dan Icuk Sugiarto, takluk dari Luan Jin dan Yang Yang.

Harapan hampir habis karena Hastomo, yang menghadapi Han Jian, sebelumnya tak pernah menang. Namun, di lapangan yang terjadi justru sebaliknya.

Hastomo membalikkan keadaan dan menyumbang satu poin kemenangan. Semangat luar biasa yang ditunjukkan Hastomo melecut ganda Christian Hadinata/Hadibowo dan King/Kartono untuk merebut kemenangan dan menjadikan Indonesia akhirnya unggul 3-2.

Di final Piala Uber 1994 melawan Cina di Jakarta, keajaiban tunggal ketiga kembali terulang. Ketika skor imbang 2-2, Indonesia menyisakan tunggal ketiga Mia Audina, bocah yang baru berusia 14 tahun dan minim pengalaman.

Tapi, dengan perjuangan luar biasa, Mia membuat kejutan besar. Melalui pertandingan yang menegangkan Mia menekuk bintang Cina, Zhang Ning, dan Indonesia merebut Piala Uber yang baru sekali dikuasai pada 1975.

Saat terakhir kali merebut Piala Thomas 2002 di Guangzhou, tunggal ketiga yang diisi Hendrawan jadi aktor penentu. Tampil menghadapi Roslin Hasim saat skor 2-2, Hendrawan yang kini menjadi pelatih tim Thomas Indonesia tampil dingin dan unggul tiga gim langsung. (win)

>> Kembali ke Atas

BERITA LAINNYA
LANGKAH BERIRINGAN

Semifinal Piala Thomas: Indonesia vs Korea
SAATNYA BERTEMPUR

Semifinal Uber: Indonesia vs Jerman
AYO, LEWATI TARGET!

Wawancara Simon Santoso
INGIN LEBIH TENANG

DATA-FAKTA

 

© BolaNews.com - Logo and web content are trademarks of PT.Tunas Bola. All rights reserved.
Developed by WEBPACIFIC