|
|
 |
Home
>
ARIEF KURNIAWAN
Round 2 - 23/03/2008 - Sirkuit Sepang, Malaysia POST-SEPANG: BERITA BARU Jumat, 28 Maret 2008 pukul 10:38:36 WIB Salah satu tim yang paling menyita perhatian saya selama di Sepang adalah BMW. Robert Kubica benar naik podium, jadi runner-up, yang artinya meneruskan apa yang dicapai Nick Heidfeld di Aussie sepekan sebelumnya, tapi yang membuat saya kagum adalah konsistensi mereka. Tak ada lagi takut rontok di tengah jalan gara-gara terbentur reliability. Yang unik, dari dua seri yang sudah dipentaskan BMW punya ciri khas tersendiri. Mereka belum secepat mobil jawara (di Aussie McLaren, di Sepang Ferrari), tapi sekaligus mobil mereka lebih cepat dari mobil yang kalah (di Aussie Ferrari, di Sepang McLaren). Sasis F1.08 memang dikhawatirkan gagal memenuhi ambisi tim Jerman yang terpaksa juga punya markas di Hinwil, Swiss, ini. Dalam beberapa kesempatan mereka gagal memperlihatkan kelas sebagai konstruktor runner-up dunia 2007. Rupanya justru itu melecut pasukan Mario Theissen untuk menganalisis kesalahan. Sayap baru hasil pengembangan mereka, yang tidak dipakai oleh tim-tim lain, ternyata malah membuat mobil jadi stabil. Mesin BMW juga sudah tidak rewel lagi. Ketika menjelang finis Heidfeld akhirnya membuat fastest lap, lengkap sudah kebangkitan BMW yang membuat peta F1 2008 menjadi baru dan tak hanya didominasi Ferrari vs McLaren.
Kubica juga patut disorot. Posisi startnya, 4, juga menarik untuk dianalisa walau sebenarnya ia terdampar di posisi 6 karena kemudian Heikki Kovalainen (posisi 3) dan Lewis Hamilton (4) terbuang ke urutan 8-9 karena dianggap bersalah menghalang-halangi Heidfeld saat melakukan flying lap di sesi kualifikasi 3 (q3). Banyak yang mengira pembalap Kubica bisa ada di posisi 4 (atau 6) itu dengan membawa bahan bakar ringan saat kualifikasi, ternyata tidak. Bahan bakar di mobilnya lumayan banyak, ini terbukti dengan dia menjadi salah satu pembalap yang masuk pit (pit stop 1) belakangan, tepatnya di lap 21. Dengan bahan bakar sebanyak itu kecepatan yang dilakukan Kubica pun tetap konsisten, pertanda pula bahwa BMW memang berada di jalur yang benar menuju tim papan atas. Bahkan dengan duet McLaren yang punya lap time relatif sama di kualifikasi saja, Kubica tergolong cepat karena duet McLaren itu masuk pit lebih dulu yang berarti mereka membawa bahan bakar lebih sedikit. Dan kecepatan itu sama sekali tidak luntur ketika lomba. Biasanya, ini yang sering terjadi pada tim-tim menengah ke bawah, mereka bisa bagus di kualifikasi tetapi memasuki lomba tiba-tiba semua kekuatan itu hilang. Hasil lomba memang akhirnya jadi data sahih, bahwa McLaren kalah telak dari BMW.
Apakah BMW bisa konsisten seperti ini? Time will tell. Tapi dari determinasi mereka yang ingin menjadi juara di atas kekuatan sendiri, bukan sebagai penyuplai mesin seperti dulu, tanda-tanda itu kian jelas. Target sekali saja menang tahun ini tampaknya akan tercapai. Melihat karakter mobil mereka sekarang, bisa jadi kemenangan itu akan didapat di sirkuit-sirkuit yang secara tradisi tak membutuhkan kekuatan mesin, seperti Monte Carlo (Monako), Montreal (Kanada), atau Hungaroring (Hongaria). Saya tak bisa menentukan siapa yang akan menang lebih dulu. Kalau pengalaman, jelas Heidfeld mestinya dapat jatah. Tapi dari sisi skill, Heidfeld dan Kubica selevel.
Ferrari
Beginilah cara Kuda Jingkrak membuktikan janjinya. Mereka memang benar-benar sudah mengatasi masalah sepele yang membuat kedua mobil mereka rontok dengan mudah di Aussie. Begitu masalah diatasi, F2008 pun tak tertahan. Kimi mengaku tak perlu mem-push mobilnya lebih kencang karena dia sudah punya keunggulan cukup jauh atas Kubica sebelum menyentuh finis. Tak perlu diceritakan lagi secara panjang lebar tentang kehebatan Kimi di Sepang. Suhu panas tak berpengaruh terhadap penampilannya yang tetap cool. Tapi...ada apa dengan Massa? Katanya dia menabrak kerb terlalu keras di tikungan 6 sehingga mobilnya melaju terlalu cepat pada tikungan 7 dan 8, yang akhirnya mengakhiri perjuangannya merebut poin pertama musim ini. Sah-sah saja ada yang menganggap ini masalah traction control, karena memang terlihat mobil Massa melintir dahsyat, pun sama halnya di Melbourne tak lama setelah start. Apakah Massa belum terbiasa mengendarai mobil tanpa TC? Sebagai pembalap profesional jelas ini pertanyaan naif. Mungkin saja itu bukan karena TC, dan jelas Massa pun sudah terbiasa dengan mobil tanpa TC. Tapi yang pasti, bila ia terus berbuat kesalahan seperti ini sepanjang 2008, bisa jadi ia tak akan memenuhi kontraknya di Ferrari hingga 2010. Sebastian Vettel dan yang terbaru Fernando Alonso sudah diisukan akan berbaju merah tahun depan. Kalau Luca di Montezemolo suruh memilih antara Massa dan Alonso, maka siapa pun tahu mana yang akan ia pilih.
McLaren
Tak ada perlawanan. Sejak free practice terlihat mobil mereka tak bisa sekonsisten Ferrari dalam hal membuat lap time bagus yang merupakan modal untuk memenangi lomba. Ini bukan berarti kekuatan mereka menurun, tapi semata potensi Ferrari yang tak terlihat di Aussie. Kekuatan sudah 100% mereka keluarkan di Sepang, tapi maksimal hanya Kovalainen di podium, itu pun dengan catatan tertinggal hampir 40 detik dari Kimi yang sudah santai itu. Hamilton, walau juga berjuang amat keras tetap tak bisa menyusul Mark Webber (sebelum pit stop) dan terakhir Jarno Trulli. Tak heran jarak antara Kimi dan dia saat finis adalah 46 detik lebih. Ini jelas PR yang tak mudah dijawab dalam waktu singkat. Kenapa? Ketika McLaren menang di Aussie, perbandingan kekuatan di atas trek dengan Ferrari tak kentara jelas lantaran Ferrari tidak menyelesaikan lomba. Nah di Sepang justru Ferrari tetap terlihat superior walau 1 mobil mereka tidak finis. Itu karena dua mobil McLaren dengan selamat bisa mengakhiri lomba. Terlihatlah jarak yang signifikan. Ron Dennis bilang kekuatan utama mereka baru terlihat memasuki seri-seri di Eropa. Kita tunggu saja.
Renault
Tidak pasrah, tapi mengeluh. Alonso tak bisa berbuat apa-apa. Baru kali ini melihat dia terlihat agak hopeless dengan mobilnya. Amat beda ketika dia berada di mobil Minardi tahun 2001, lalu Renault sejak 2003 hingga jadi juara dunia 2005-06. Renault yang digeber Alonso benar-benar mobil yang "tak tahu harus berbuat apa". Mobil mereka kini selevel dengan Red Bull, yang uniknya juga mendapat suplai mesin dari Renault. Alonso amat diplomatis. Katanya, memang mobil Renault akan membaik sejalan dengan musim bergulir, tapi tim-tim lain kan juga begitu. Jadi, kata Alonso, akhir musim tak akan jauh beda dengan sekarang. Arief Kurniawan |
|
 |

|