|
|
 |
Home
>
ARIEF KURNIAWAN
Round 15 - 10/09/2006 - Italia, Monza POST-MONZA: JANGAN SEDIH Senin, 11 September 2006 pukul 8:15:34 WIB Maaf saya gak buat Pre-Monza, karena ada something more important to do.
Saya banyak menerima SMS, terutama dari penggila Schumi. Mereka menangis, sedih, atau paling sedikit terharu, mendengar kabar Michael Schumacher akan segera mengakhiri karier F1-nya yang spektakuler. Banyak yang sudah menduga dan mengira ini akan diumumkan di Monza, tapi tetap saja ketika pengumuman itu benar2 terlontar, emosi mereka, para jutaan tifosi Schumi itu, atau bahkan termasuk jutaan lain yang menjadi hater-nya, menjadi tak karuan. Mereka merasa Schumi masih mampu bertarung, masih kuat. Tapi, keputusan sudah diambil. The Great, if not The Greatest Champion, will retire. Sepakat atau tidak, F-1 tanpa Schumi akan berbeda, dan itu akan terjadi sejak tes pra-musim 2007 pada November tahun ini juga.
Bila menghitung mundur hingga seri pamungkas di Brasil, berarti hitungan hari Schumi di F-1 tinggal...42 hari! Bagi siapa pun, siapkan pesta atau syukuran atau apa pun namanya, menyambut hari spesial ini. Bagi sebagian besar orang Indonesia, itu bertepatan dengan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Bahkan mungkin GP Brasil tanggal 22 Oktober (23 Oktober WIB) berbarengan dengan sahur terakhir Ramadhan tahun ini, sekali lagi mungkin. Semoga kekhusyu'an menjelang Lebaran itu tak mengganggu "pesta pelepasan" Schumi.
Schumi sepertinya memang ditakdirkan jadi pembalap F-1 terkomplet, baik dari sisi prestasi maupun kontroversi. Dia punya segala rekor: juara dunia, jumlah kemenangan, pole position, fastest lap, podium, poin. Dia pernah menang dengan hanya 1 stop, pernah pula dengan 4 stop. Dia pernah menang dengan cara normal (di trek), tapi dia pernah pula menang di pit. Dia pernah menang dengan durasi lomba biasa, tapi dia juga pernah dinyatakan sebagai pemenang saat lomba sudah mentok di hitungan 2 jam. Saking kompletnya, dia pun pernah menang tapi kemudian dibatalkan, akibat mengabaikan bendera hitam. Di trek kering hebat, di basah juga jago. Pake mobil jelek pernah menang, mobil sedang juga pernah, mobil bagus apalagi. Dia sering menang spektakuler, tapi pernah pula jadi pecundang yang "spektakuler" (karena kontroversi tabrakan atau karena dia harus di-overlap sang pemenang).
Dia pernah melawan pembalap yang lebih tua, yang seumuran, sampai yang jauh lebih muda. Di era F-1 modern, dia terlihat lebih komplet. Dia pernah menggunakan mesin 3.500 cc, 3.000 cc, sampai kini 2.400 cc. Dia pernah melewati sesi kualifikasi 12 lap yang kondang itu, pernah pula dipaksa turut adu cepat dalam 3 lap dalam dua hari, lalu 3 lap dalam satu hari. Dia pernah melewati sesi kualifikasi dengan low fuel, juga kualifikasi dengan race fuel, atau bahkan kualifikasi dengan race fuel yang kemudian menyusut seiring dengan lap demi lap yang dilewati seperti pada kualifikasi musim ini. Dari ban, dia pernah menggunakan slick tyre, groove tyre yang berbeda antara ban depan dan belakang, sampai groove tyre dengan jumlah groove yang sama antara depan dan belakang. Atau, dia pernah pula melewati musim di mana ban hanya boleh ada satu pasang selama lomba.
Sepertinya tak ada seorang pun pembalap di dunia ini yang memiliki pengalaman sehebat itu di F-1. Sisihkan dulu bicara prestasi, tapi dari sisi regulasi saja kita sudah bisa melihat betapa seorang Schumi mesti berulang kali beradaptasi dengan pergantian demi pergantian regulasi yang dibuat oleh FIA.
Terakhir, lagi-lagi saking kompletnya, dia pun pernah balapan dengan hanya melawan 5 pembalap lain!!
Melihat semua rekor ini, wajar bila para penggila Schumi menangis dan akan lebih menangis lagi nanti bila di GP Brasil dia akan say goodbye to his beloved sport. Apalagi bila gelar ke-8 jadi dia raih.
Pengumuman retirement Schumi di Monza seperti sudah diatur Yang Di Atas. Monza adalah tempat spesial, di mana tifosi selalu membentangkan giant flag Ferrari di sana, di depan tribun untuk podium. Pengumuman keluar saat Schumi menang, calon penggantinya jadi runner-up, dan yang terpenting rival utama pulang dengan zero-point. Pengumuman itu dibuat justru ketika perbedaan poin Alonso dan Schumi tinggal 2, persis seperti ketika seri baru dimulai di Bahrain. Semua kondisi di atas membuat statement yang dibuat Schumi terasa spesial.
NORMAL RACE
Balapan berlangsung boleh dibilang datar. Kimi unggul di awal-awal lap, tapi kemudian tersusul Schumi selepas pit stop 1 dan setelah itu tak berubah. Satu2nya yang tak normal adalah kehebatan Robert Kubica. Selain karena start dari posisi 6 lalu sempat memimpin lomba, plus terdampar di urutan ketiga, juga karena dia menggunakan bahan bakar yang lebih banyak saat kualifikasi. Apalagi ini adalah baru balapan ketiganya di F-1. Nyaris tak ada insiden berarti kecuali mesin Alonso yang, jarang2, meledak. Indikasi paling jelas dari balapan di Monza lalu adalah perkembangan signifikan yang dilakukan oleh Michelin, lalu McLaren yang reliable, dan BMW yang bukan hanya cepat tapi juga terbukti reliable.
Ini adalah kemenangan ke-90 Schumi. Masih ada tiga race lagi dan ia bisa memenangi semuanya, bisa pula gagal. Tapi, bagi para pecinta rekor yang mau tak mau sudah identik dengan Schumi, alangkah indah bila ia "hanya" mengakhiri tahun ini dengan jumlah kemenangan 92. Kenapa? Itu berarti total jumlah kemenangan dua pembalap lain yang ada di bawah rekornya, Prost (51) dan Senna (41). Kalau terpaksa 93 ya gak apa-apa, atau kalau tetap mentok di angka 90 juga no problem. Time will tell...
ALL AGAINST ALONSO
Monza 2006 tak akrab dengan Alonso. Di saat tim-tim lain sedang nikmat-nikmatnya menikmati perkembangan signifikan Michelin, dia malah menghadapi masalah demi masalah. Yang paling besar tentu saja kasus "blocking" saat kualifikasi Sesi 3. Dari kacamata normal, Alonso menurut saya sama sekali tidak melakukan blocking. Jarak antara dia dan Massa cukup jauh, lebih dari 100-200 meter. Bagaimana bisa itu disebut blocking? Yang lebih tak masuk akal adalah saat itu Alonso juga sedang memburu waktu, agar bisa tepat melewati batas akhir 15 menit Sesi 3. Alonso sendiri akhirnya memang bisa melewati garis penghitungan waktu pada menit 14 detik 58, atau dua detik menjelang jatah melakukan flying lap ditutup! Logikanya, mana mungkin di saat ia sedang memburu waktu malah memperlambat mobilnya di trek. Mungkin mengatakan ini konspirasi juga terlalu kasar, tapi yang pasti keputusan steward yang menghukum Alonso dengan men-delete 3 best lap dia di Sesi 3 kualifikasi terlihat kasar. Alonso yang tadinya start dari posisi 5 menjadi terdampar di urutan 10. Sebuah jarak yang lebih dari cukup untuk membuat aman Schumi dan Kimi bertarung berdua di depan.
Belum cukup hukuman itu, Alonso yang dipaksa menggeber mobilnya habis-habisan, padahal ini mesin baru baginya, malah menghadapi kenyataan yang lebih pahit, engine failure. Kubu Renault mengakui ini akibat Alonso yang terpaksa over-reacting terhadap mesinnya akibat ia memburu poin yang sudah sempat "tak bersahabat". Sialnya, ketika sudah mendekati bersahabat lagi, dia malah kandas. Tak ada tempat seburuk Monza untuk menghadapi meratapi nasib ini. Poor Alonso...
TYRE WAR
Michelin (Renault, McLaren, Honda, Red Bull, BMW, Toro Rosso)
Bridgestone (Ferrari, Toyota, Williams, Midland, Super Aguri)
Hati-hati Bridgestone, Michelin perlahan sudah membaik performanya! Di trek panas, Michelin terbukti mampu tercepat di kualifikasi, tapi juga reliable di race. Lap time Kimi, juga Nick Heidfeld dan Robert Kubica, sungguh memperlihatkan di mana Michelin kini berada. Mereka sudah cepat untuk satu-dua lap dalam hitungan flying lap. Sedikit lagi itu dikembangkan menjadi sebuah konsistensi, maka mereka akan kembali berbahaya di sisa 3 seri ini. Apalagi ada tiga minggu jeda antara GP Italia dan Cina, di mana 2 minggu di antaranya bisa dilakukan untuk mengembangkan semua kemampuan paket yang ada. Dengan fakta Kimi mencatat fastest lap saat lomba, ini menjadi wanti-wanti terakhir bagi Bridgestone.
Bridgestone sendiri masih punya keuntungan tingkat durability yang hebat, terutama saat lomba. Yang menjadi tanda tanya adalah, apakah mereka bisa terus bertahan, mengingat hanya dua pembalap (baik di kualifikasi maupun lomba) yang bisa ada di 8 besar, melawan sisanya dari Michelin? Karena waktu sudah mepet, Bridgestone hanya berharap, Toyota dan Williams akan melakukan uji coba spartan untuk "menolong" Ferrari.
TEAM BY TEAM
RENAULT
1 Alonso
2 Fisichella
Alonso done.
Fisichella menjadi prajurit sejati Renault dalam dua seri berurutan. Kalau di Turki dia berkorban agar tidak bertabrakan dengan Alonso, di Monza dia menyumbangkan poin bagi timnya yang cukup baik untuk klasemen konstruktor. Benar akhirnya Ferrari mengambil alih posisi teratas konstruktor, tapi bila Fisichella tak tampil gemilang dengan 1-stop-nya dan finis keempat, bisa jadi gap antara Ferrari-Renault lebih dari 5 poin seperti sekarang. Hal menggembirakan bagi Renault adalah mereka terlihat amat kompetitif di trek yang secara tradisional tidak bagus buat mereka, Monza. Ini bekal menghadapi perang sesungguhnya dalam 42 hari ke depan.
McLAREN
3 Kimi
4 Pedro
Di mana hati Kimi? Secara profesional kita pasti yakin dan harus yakin dia masih akan membawa McLaren untuk meraih kemenangan pertama musim ini. Tapi, bisakah sebagai sesama pemakai Michelin dia membantu Alonso meraih titel dunia? Jangan berprasangka buruk karena kini sudah diikat oleh Ferrari lantas Kimi bakal ikut membantu Schumi meraih juara dunia. Kalaupun Kimi menang dan finis di depan Alonso, atau di antara Schumi dan Alonso di mana Schumi menang, ya itu berarti karena mobilnya sudah jauh lebih kompetitif. Paling tidak sampai GP Jerman kita masih mengira Kimi bisa meraih pole akibat bahan bakar relatif ringan, tapi pada kenyataannya di Monza itu tidak terlalu terbukti. Memang lebih sedikit, tapi tidak sedrastis seperti di Hockenheim. Namun, jangan disalahkan pula kalau Kimi akan mati-matian "mengalahkan" Alonso untuk "membantu" Schumi dan Ferrari. Itu hanya side-effect yang normal.
FERRARI
5 Schumi
6 Massa
Ternyata Schumi berbaik hati terhadap Massa. Saat dia mengambil keputusan bakal mundur di Indianapolis, dia sedikit banyak dipengaruhi pada fakta Massa butuh keputusan cepat dan tepat akan masa depannya. Schumi sudah tahu Kimi bakal dikontrak Ferrari, jadi tinggal ada dua keputusan: dia bertahan atau Massa terbuang. Akhirnya, melihat bakat dan loyalitas Massa serta masa depan yang masih terbentang, Schumi memilih mundur dan memberikan jalan buat Massa. Jean Todt bilang, hanya orang bodoh yang mengatakan Schumi takut bersaing dengan Kimi dalam tim yang sama. Tapi, seperti kata kebanyakan usul orang, mundur di saat on top jauh lebih dikenang ketimbang mundur saat sudah mundur prestasinya. Sayang memang, Massa banyak terlibat masalah pada balapan di Monza.
TOYOTA
7 Ralf
8 Trulli
Dengan 1-stop, Trulli bisa dapat poin. Sebuah perjuangan luar biasa mengingat dia start dari urutan 11 dan berjuang dengan sesama one-stopper, Rubens, yang akhirnya finis di depan dia. Ralf tak masuk highlite, dia lebih pada mengucapkan well done to Trulli dan tentu saja selamat jalan buat abangnya.
WILLIAMS
9 Webber
10 Rosberg
Rasanya ingin cepat-2 memakai mesin Toyota yang jauh lebih reliable. Di kualifikasi kedua pembalap benar2 nowhere. Di lomba, Rosberg sudah mengalami masalah di lap 9. Webber sebenarnya fantastis karena start dari urutan 19 dan finis di urutan 10. Tapi kalau speed mereka sudah ada sejak kualifikasi, sekaligus reliable di lomba, cerita akan lain. Sedih juga melihat tim yang pernah jadi juara dunia konstruktor 9 kali kini baru mengumpulkan 10 poin, atau hanya unggul atas tiga tim yang memang diprediksi susah dapat poin, Toro Rosso, Midland, dan Super Aguri.
HONDA
11 Rubens
12 Button
Tak terlalu menjanjikan, tapi sudah jauh lebih drastis perkembangannya dari sisi reliability. Button finis ke-5 dan Rubens ke-6. Keduanya harus berterima kasih kepada Anthony Davidson yang menjadi tumbal percobaan mesin mereka. Tadinya, Honda memang bakal menggunakan mesin spec 2007. Tapi mereka memutuskan untuk tetap di spec 2006. Tidak terlalu kencang, tapi mendapatkan 7 poin gabungan dari Button dan Rubens tentu bagus untuk klasemen konstruktor.
RED BULL
14 DC
15 Klien
Karena Schumi pensiun, DC bakal menjadi pembalap tertua tahun depan. Dari penampilan, sebenarnya tahun ini dia terlihat paling tua karena kerap pakai cambang. Klien, walau finis di depan DC, justru mengalami nasib tragis. Sejak GP Cina, tempatnya sebagai pembalap digantikan oleh Robert Doornbos. F-1 sekali lagi membuktikan kekejamannya.
BMW-SAUBER
16 Heidfeld
17 Kubica
Team of the weekend. Kubica tentu jadi man of the race. Kalau saja Nick tidak membuat kesalahan di pit lane selepas pit stop, di mana dia melakukan speeding, bukan mustahil BMW bakal menempatkan pembalapnya di posisi 3-4. Jacques Villeneuve yang memang doyan ngomong itu tak bisa lagi menganggap Kubica anak kemarin sore. Dengan Alonso-Kimi on top of their game, Rosberg, Kubica, dan mungkin nanti menyusul Lewis Hamilton akan membuat F-1 tetap seru.
MF1
18 Monteiro
19 Albers
Welcome back, Mike Gascoyne! Tim ini secara resmi berganti nama menjadi Spyker MF1 Racing. Gascoyne kembali masuk sebagai bos teknis, setelah dia didepak Toyota. Gascoyne memang gak langsung kerja, dia baru gabung 1 November nanti. Tapi berharap banyak dari tangan dinginnya tentu gak masalah. Asal dapat mesin oke, Spyker MF1 pasti bisa sering dapat poin tahun depan.
TORO ROSSO
20 Liuzzi
21 Speed
Start 15 (Speed) dan 17 (Liuzzi) lalu finis masing-masing 13 dan 14 nyaris hanya menjadi sedikit hiburan. Duel dengan pembalap papan tengah dan berpengalaman semacam Ralf dan DC jadi hiburan lain buat Speed.
SUPER AGURI
22 Takuma-san
23 Sakon-san
Gangguan hidrolis merusak irama lomba kedua pembalap. Takuma-san terpaksa pakai T-car lalu karena mobilnya ngadat saat formation lap, sedangkan Sakon-san terhenti di lap 18.
Sekali lagi buat all Schumi fans, jangan sedih dulu. Masih ada kans Schumi pergi dengan gelar di tangan. Jadi, simpan dulu sedihnya ya...
from many sources, Arief Kurniawan |
|
 |

|