Round 8 – 11/06/2006 Great Britain, Silverstone PRE-SILVERSTONE: DEMAM Kamis, 8 Juni 2006 pukul 8:10:1 WIB Circuit length: 5,141 km
Race distance: 60 laps (308,355 km)
Qualifying: 18.30 WIB --- live Global/Star Sports
Start: 18.00 WIB --- live Global/Star Sports
Gara-gara Piala Dunia, semua jadwal mesti, kudu, wajib, mencocokkan diri, tak terkecuali F-1. Tapi soal yang kayak gini, Bernie Ecclestone jagonya. Dia tahu, gak mungkin melawan The Greatest Show on Earth ini. Jangankan World Cup (WC), di Euro saja jadwal F-1 menyesuaikan diri kok.
Ada tiga race yang ikut “demam” bersama WC. Race pertama ya weekend ini di Silverstone, terus Kanada dan AS pada 25/6 dan 2/7. Kita lihat sama-sama jadwalnya (sudah dalam WIB):
1. Silverstone
- Kualifikasi: 18.30 WIB (selesai sekitar 19.30 WIB)
- WC: Inggris vs Paraguay 20.00 WIB
- Race: 18.00 WIB (selesai maksimal 20.00 WIB)
- WC: Serbia & Montenegro vs Kompeni 20.00 WIB
2. Montreal
- WC: perdelapanfinal juara Grup A vs runner-up Grup B, 22.00 WIB, kelar normal 00.00 WIB
- Kualifikasi: 00.00 WIB 25/6 (selesai sekitar 01.00 WIB)
- WC: perdelapanfinal juara Grup C vs runner-up Grup D, 02.00 WIB, kelar normal 04.00 WIB
- WC: perdelapanfinal juara Grup B vs runner-up Grup A, 22.00 WIB, kelar normal 00.00 WIB
- Lomba: 00.00 WIB 26/6
- WC: perdelapanfinal juara Grup D vs runner-up Grup C, 02.00 WIB, kelar normal 04.00 WIB
3. Indianapolis
- WC: perempatfinal 3, 22.00 WIB, kelar normal 00.00 WIB
- Kualifikasi: 01.00 WIB (2/7)
- WC, perempatfinal 4, 02.00 WIB (2/7), kelar normal 04.00 WIB
- Sunday 2/7 is rest day for WC
- Lomba: 01.00 WIB (3/7)
Dari susunan ini jelas terlihat tak ada satu pun jadwal yang bentrok. Kalaupun ada, masuk kategori mepet, seperti selesai Race Silverstone yang langsung disambung Serbia vs Belanda. Karena orang Inggris punya darah balap dan sepakbola yang sama-sama kental, maka giant screen Silverstone bakal juga menayangkan langsung pertandingan dari Jerman, terutama selepas kualifikasi, di mana England ketemu Paraguay.
Ada memang kemungkinan bentrok, tapi itu kalau terjadi perpanjangan waktu. Kayak perdelapanfinal jelang kualifikasi/lomba GP Kanada yg mulai 22.00 dan kelar kalo normal 00.00 dan kalau mentok sampe adu penalti bisa satu jam kemudian baru selesai yang berarti nabrak kualifikasi/lomba.
Paddock F-1 pasti rame juga. Jumat ini, selesai free practice, Schumi, German yg paling gila bola, pasti gak betah udah pengen nonton langsung Jerman vs Kosta Rika. Kalau Ralf memang Jerman aneh, karena sampai sekarang belum ketahuan darah bolanya. Nick dan Nico sedikit di atas Ralf. Hari Sabtu lumayan heboh, karena satu sirkuit mau nonton semua, termasuk pelaku F-1 yang kebanyakan gila bola juga, kayak Jenson Button. Minggu, ada dua orang Midland berebut pengen nonton. Tiago Monteiro (Portugal) dan Christijan Albers (Kompeni).
Karena lagi ikut-ikutan demam Piala Dunia, saya juga nulis Pre-Silverstone gak panjang-panjang. Cukup seadanya. Team by team gak usah utuh, cukup
SILVERSTONE
Trek dengan lay-out terlihat sederhana, tapi paling sulit ditaklukkan. Mirip-mirip Catalunya dari sisi teknis, yakni butuh aerodinamika prima. Makanya, nyaris semua tim melakukan tes di Catalunya menjelang Silverstone ini, atau sebaliknya dulu menjelang Catalunya banyak yang tes di Silverstone.
Kedua sirkuit ini sama-sama keunikan, treknya tidak sempit dan twisty, tapi setelan mobil harus mengarah ke medium to high-downforce, layaknya trek sempit dan twisty. Itu karena ada beberapa tikungan yang fast and flowing, yang membuat mobil harus stabil sestabil-stabilnya ketika melibas di sana. Bahkan, pada tes di Silverstone menjelang lomba di Catalunya, para pembalap mengkhawatirkan kondisi mobil bisa tidak direm sampai lebih dari 50% bagian sirkuit! Alamak, menyeramkan sekali. Itu artinya malah bisa jadi jebakan buat para pembalap karena terlena dengan kecanggihan mobil sekarang yang walaupun sudah dipaksa berkurang powernya tapi tetap saja kencang.
Kalau pun harus ada beda, Silverstone punya slow section, di mana Catalunya tidak. Slow section ini terjadi di intermediate terakhir.
TYRE WAR
Michelin (Renault, McLaren, Honda, Red Bull, BMW, Toro Rosso)
Bridgestone (Ferrari, Toyota, Williams, Midland, Super Aguri)
Seperti Catalunya, Silverstone juga kejam terhadap ban. Makanya ban medium-to-hard bakal jadi pilihan utama. Kondisi ini memungkinkan taktik konvensional, 2-stop, digunakan oleh semua tim dan menjadi winning strategy. Soal ini, akan ada kekuatan berimbang antara Michelin dan Bridgestone. Yang mungkin bisa membedakan adalah kalau hujan, dan itu memiliki kans yang besar karena GP Inggris dimajukan sebulan dari jadwal normal di bulan Juli.
LAST TEST
Kalau melihat kondisi terakhir, Silverstone normalnya bakal jadi pertarungan Renault vs Ferrari lagi. GP Monako memang one-off. Hasil tes di Catalunya memperlihatkan Ferrari layak diprioritaskan untuk menang. Mereka yang ketika lomba di sana tiba-tiba hilang akal karena Fernando Alonso dan Renault begitu kencang, mengaku sudah menemukan solusi kenapa saat itu kedodoran. Kebetulan lagi, tes di Catalunya cocok buat dipakai ke Silverstone secara teori.
Mungkin untuk membuang malu kejadian kualifikasi di Monte Carlo, Schumi akan memaksakan diri bagaimana pun caranya untuk menempati pole position secara bersih.
McLaren, Williams, Honda, dan Toyota akan berebut second layer, dengan McLaren ada di urutan terdepan untuk menyabet podium bila di antara Renault dan Ferrari DNF. McLaren memang menang tahun lalu di sini, tapi kekuatan terakhir mereka tidak akan cukup menolong untuk mengulang prestasi itu kalau lomba berjalan normal sesuai kekuatan terkini. Paket aero di MP4-21 sudah tak punya greget. Williams, Honda, dan Toyota berharap dapat poin. Justru Red Bull yang bisa mengejutkan karena, lagi-lagi, faktor Newey yang pasti sudah lebih punya sentuhan walau belum terlalu signifikan.
F1 = WORLD CUP
Sekarang kita berandai-andai, balik lagi ke urusan World Cup.
Alonso bisa kita ibaratkan Ronaldinho. Jago, juara, dan masih jadi sorotan utama karena masih bisa juara dan juara dunia lagi.
Fisichella kayaknya cocok dipadankan dengan negerinya Alonso, Spanyol. Hebat digadang-gadang, tapi mentok pada kenyataan.
Kimi mirip tim Belanda. Jago, penuh bakat, tapi belum pernah dapat top prize: juara dunia.
Montoya kayak tim Inggris. Pernah jadi juara dunia, selalu jadi omongan, tapi gak pernah juara dunia lagi. Top prize Montoya adalah juara Indy Car dan Indy 500.
Schumi? Gak ada yang pas untuk satu icon. Kontroversi, skill, dan “team built around him” kongruen dengan Maradona. Tapi, koleksi titelnya seirama dengan Brasil.
Tak ada pembalap yang punya kemiripan kayak Jerman dan Italia, karena status tiga kali juara dunia mereka dan kondisi terkini yang masih bisa jadi juara lagi. Villeneuve pernah jadi juara dunia, tapi melempem. Gak cocok juga dia diibaratkan Inggris, karena Villeneuve tipis peluang jadi juara dunia sementara Inggris tahun ini punya kans.
Karena sudah kena demam, saya sudahi dulu. Mari berobat ke layar kaca…
from many sources, Arief Kurniawan |