PRINT EDITION | FORUM | AGENDA | PHOTOFOLIO
BALAP
BASKET
BULUTANGKIS
OLE! INTERNASIONAL
OLE! NASIONAL
TENIS
TINJU
CABANG LAIN
Home  >  ARIEF KURNIAWAN



ROUND 6 - 14/05/2006 SPAIN, CATALUNYA
POST-CATALUNYA: 2-2
Senin, 15 Mei 2006 pukul 8:55:22 WIB
   Skor kini imbang, 2-2. Tapi cara Alonso membuat angka sama itu yang luar biasa. Kalau mau ditarik lebih rinci lagi, Alonso vs Schumi memang benar-benar imbang dari banyak aspek.

KUALIFIKASI
Alonso menempati pole, gak salah, hiburan buat puluhan ribu penonton yang membirukan Catalunya. Tapi pembuat lap time sensasional sesungguhnya adalah Schumi. Lap time-nya, 1:14,970, terpaut 0,322 detik dari Alonso. Namun lap time itu tidak setara dengan fakta dia masuk pit 6 lap kemudian dari Alonso. Kalau pakai hitung2an setiap lap menghabiskan 3 kg bahan bakar, maka di mobil Schumi ada kelebihan 18 kg. Dan bila setiap 10 kg penaltinya adalah 0,35 detik, mestinya Schumi terpaut 0,63 detik dari Alonso. Pada kenyataannya hanya 0,3 detik, berarti Ferrari amat menakutkan sejak Sabtu sore dan itu diakui oleh duo Renault, Flavio Briatore dan Pat Symonds. Bahkan Symonds bilang, dengan ban aus saja kecepatan Schumi di free practice Sabtu masih bisa 1:16, di mana Alonso saat itu hanya mampu 1:17. Jadi, walaupun Sabtu sore ada pesta di kubu Renault, dalam hati mereka memendam rasa waswas yang luar biasa. Karena kalau itu bisa bertahan sepanjang lomba, itu membahayakan pesta Alonso.

RACE
Alonso pakai stint (dalam lap) 17-23-26. Schumi 23-23-20. Stint awal adalah cerminan penggunaan bahan bakar di kualifikasi seperti diterangkan di atas. Namun Alonso segera menjawab kekhawatiran timnya dengan melesat cepat dan membuktikan tak ada yang perlu ditakutkan dari pace Schumi di kualifikasi. Selain itu ada pula "bantuan" dari Fisichella, ketika dia gagal mendahului Alonso di tikungan pertama. Kalau saat itu Fisichella yang memiliki start bagus bisa ada di depan Alonso pada tikungan pertama, dan Catalunya bukan tempat gampang untuk menyusul, bisa dipastikan Alonso akan tersusul oleh Schumi selepas pit stop 1 seperti halnya yang dialami Fisichella.
Karena Alonso sukses di depan, gap antara dia dan Fisichella, juga Schumi, terus membengkak. Sampai puncaknya menjelang pit stop 1 itu, 12,813 di lap 16. Dengan gap seperti ini mustahil bagi Schumi untuk memperbaiki kondisi. Dia bisa, kalau gap itu tak sampai lebih dari 2 detik, seperti yang ia lakukan terhadap Fisichella, atau terhadap Alonso di Nurburgring. Setelah Schumi melakukan pit stop 1-nya dan keluar masih di belakang Alonso, walau di depan Fisichella, game over.
Skor 2-2 tercipta saat itu kecuali Alonso melakukan apa yang tidak dilakukannya, make mistake.
Yang membuat Alonso spesial hari itu adalah dia benar-benar seperti dapat dukungan dari lebih 100.000 penonton. Bila dia tampil layaknya Fisichella, yang tak bisa lebih dari 2,7 detik di depan Schumi, maka Alonso pun bakal ikut-ikutan tersusul selepas pit stop 1. Gap yang dibuat Alonso terhadap Schumi sangat fantastis.
Lap 1: 3,121 dtk (very very stunning!!!)
Lap 4: 5,146
Lap 7: 7,271
Lap 10: 8,888
Lap 13: 10,806
Lap 16: 12,813
Lap 17: Alonso pit
Inilah kunci kemenangan Alonso. Dia bisa sangat tenang, percaya diri, dan seolah tak peduli bahwa dibantu atau tidak dibantu oleh Fisichella, dia tetap bisa membuat gap sedemikian besar. Kenapa dia bisa begitu? Saya lihat mobil sudah selevel antara Ferrari dan Renault. Masalahnya ada pada penggunaan ban yang tepat dalam kondisi yang serba-tepat pula. Ban Michelin yang digunakan Alonso seolah bisa diajak kompromi, terutama dalam kondisi yang akhirnya membuat Schumi hopeless.
Apakah gara-gara Schumi lebih banyak bahan bakar? Menurut Schumi, itu tidak terlalu berpengaruh. Soalnya, kalau merujuk free practice dan kualifikasi, dengan bahan bakar segitu banyak pun dia bisa tetap memacu mobilnya dalam kisaran lap time 1:17.
Kalau melihat fastest lap yang dibuat Alonso urutannya sbb.:
Lap 2: 1:18,412
Lap 4: 1:18,084
Lap 5: 1:17,807
Lap 6: 1:17,794
Lap 10: 1:17,247
Lap 13: 1:17,070
Lap 16: 1:16,828
Sejak lap 5 dia sudah konsisten membuat 1:17 dan bahkan sempat menyentuh 1:16 persis sebelum pit stop 1-nya. Merujuk ke kualifikasi Sesi 3 (yang menyisakan 10 pembalap), 6-8 lap awal adalah gambaran start lomba. Bahan bakar yang digunakan kira-kira selevel. Saat itu, Schumi menjadi pembalap yang paling sering membuat 1:17, dan ini menambah kekhawatiran kubu Renault ditambah hasil free practice Sabtu pagi sebelum kualifikasi. Bahkan, 6-8 lap awal kualifikasi itu biasanya para pembalap menggunakan ban bekas, bukan baru. Bayangkan kalau dengan ban bekas saja bisa 1:17 konstan apalagi pakai ban baru. Jadi mudah terbayang memang kalau kecepatan Schumi di Sesi 3 kualifikasi itu tercermin sempurna saat lomba. Dan nyatanya tidak. Karena lap time Alonso dari lap 1-16 seperti di atas, juga kalau melihat gap yang ia buat terhadap Schumi, bisa diterka lap time Schumi seperti apa loyonya pada stint pertama itu. Sebetulnya Schumi pun sudah ditolong oleh “Safety Car” yang tidak muncul selepas Montoya melintir. Melihat kejadiannya, semestinya itu bukan cuma yellow flag. Kalau SC masuk ke trek, bisa dipastikan pikiran Schumi dan Ross Brawn sudah kacau saat itu juga karena gap dia terhadap Alonso menjadi kecil padahal dia lagi butuh waktu untuk menggeber mobilnya sebelum pit stop 1.
Ke mana hilangnya pace Schumi? Apakah dia tertahan Fisichella? Schumi bilang tidak, dan melihat kondisi di trek pun amat tidak masuk akal kalau dia bilang "ya saya tertahan". Kalau jarak Schumi terhadap Fisichella tak lebih dari 1 detik dan itu terjadi secara konstan sejak lap 1 hingga 16, baru itu namanya tertahan. Yang terjadi jaraknya masih cukup renggang, dalam kisaran 1,5-2 detik. Menurut Schumi, ia tak mau menyebut di mana letak kesalahannya sebelum melihat data secara detail.
Tadinya sempat disinggung masalah ada ban Bridgestone, tapi ternyata ban itu cukup konsisten. Dan mustahil Schumi-Ferrari menimpakan kesalahan pada Bridgestone karena merekalah yang memilih kompon tersebut setelah melakukan perbandingan pada free practice Jumat. Artinya, risiko sudah mereka tanggung sendiri dan tak bisa dilimpahkan ke Bridgestone. Bukti lain, sebenarnya ban itu mampu membuat lap time bagus, terbukti Massa mampu membuat fastest lap (1:16,648) dan Schumi sendiri akhirnya menembus 1:16,922 (fastest lap ketiga). Hanya, dengan "bantuan" sasis 248 F1 plus godaan angin di Catalunya, paket mereka gagal tampil konsisten. Dan ini yang menurut Schumi masih menjadi misteri, di mana letak ketidakkonsistenan ini berada.
Schumi bukannya tanpa nilai plus. "Menyusul" Fisichella selepas pit stop 1 tetaplah sebuah aksi luar biasa. Bayangkan kalau dia akhirnya finis di urutan 3. Susah-susah dia memangkas 4 poin Alonso, eh hilang dalam sekejap.

TYRE WAR
Michelin (Renault, McLaren, Honda, Red Bull, BMW, Toro Rosso)
Bridgestone (Ferrari, Toyota, Williams, Midland, Super Aguri)

Ban baru Michelin terbukti ampuh. Renault merasakannya, ban itu bagus di lap-lap awal, sekaligus konsisten di lebih dari 20 lap. Kalau melihat stint awal Alonso memang hanya 17 lap. Tapi lihat stint terakhirnya, 26 lap! Memang saat itu kondisinya berbeda, di mana dia tak perlu lagi ngotot karena jarak terhadap Schumi cukup jauh. Namun bila melihat dia sudah mampu membuat lap time 1:16 di stint awal, itu bukti lain Michelin memang lebih unggul kali ini. Kalau saja selepas pit stop 1 itu gap-nya terhadap Schumi dalam 1-3 detik, bisa dipastikan dia pun masih mampu membuat lebih banyak 1:16.
Bridgestone sendiri cukup puas mampu menempatkan Massa sebagai pembuat fastest lap. Bukan berarti itu tanpa PR. Schumi berkomentar ban yang sama, dan taktik yang sama, ia pakai antara Nurburgring dan Catalunya. Tapi di satu tempat berjalan mulus, di tempat lain gagal. Berarti ada kemungkinan kompon ban yang digunakan sama, yakni medium-to-soft, bukan medium-to-hard seperti dalam perkiraan. Karena tidak ada rilis resmi, baik dari Michelin maupun Bridgestone soal ini, kayaknya fakta ini memang hanya bisa digambarkan dalam hasil lomba. Tapi, bagaimanapun, Catalunya adalah sirkuit yang kerap dijadikan benchmark. Kalau bagus di sini, biasanya bagus juga di tempat lain. Apalagi Catalunya termasuk sirkuit kejam terhadap ban. Kondisi hasil lomba, Imola, Nurburgring, dan Catalunya kian mengkristalkan fakta, perang ban musim ini memang luar biasa dahsyat!

TEAM BY TEAM
RENAULT
1 Alonso
2 Fisichella

Alonso done.
Fisichella is one of the most disappointing driver di Catalunya, menurut saya. Levelnya kian terlihat jauh di hadapan Alonso. Dengan bahan bakar yang relatif seimbang, tapi speed-nya begitu jomplang. Renault bukan berharap Fisichella dia menghalang-halangi Schumi seperti di stint awal, tapi berharap dia menutup jalan Schumi meraih posisi runner-up. Bahkan konyolnya ketika dia off track di Turn 3 itu gara-gara dia dipanggil lewat radio oleh mekaniknya. Ya ampun, di mana konsentrasimu, Fisico? Bos Renault, Alain Dassas, bilang timnya sanggup membayar top class driver untuk menggantikan Alonso. Tentu itu tak jauh dari Kimi (Schumi almost impossible). Satu lagi? Daripada bertahan di Fisichella, lebih baik sekalian mencoba Heikki Kovalainen, bukan?

McLAREN
3 Kimi
4 JPM

Bye, McLaren!
Saya tak bicara takdir, tapi melihat fakta di atas trek dan kecenderungan saat ini, bolehlah Kimi atau JPM menyalami Alonso atau Schumi. Secara tim, mereka benar-benar tak ada speed dan mengecewakan. Tahun lalu, Kimi menang dan finis 27,652 detik (sorry, I said 17 at Global) di depan Alonso. Tahun ini, Alonso menang dan finis di depan Kimi (5th) berselisih 56,875 detik!!! Wow… Di mana letak “dosa” 84,527 detik itu? Saya masih yakin, sewaktu siaran di Global itu juga saya tekankan, faktor Newey berperan. Memang MP4-21 masih dibuat Newey, tapi ternyata development-nya sudah bukan tanggung jawab dia lagi. Dan development di F-1 bukan main cepatnya saat ini, terutama dari sisi aerodinamika. Mercedes juga punya andil di sini, karena top speed mereka yang selama ini masih bisa dibanggakan juga lenyap ditelan Ferrari. Cukup dua faktor ini, sasis dan mesin, yang mesti dibenahi. Michelin bisa ongkang-ongkang kaki. “Ban gua aman dan kencang kok dipake Renault…”
Melihat kondisi terkini, McLaren paling banter mencuri beberapa kemenangan, yang mungkin cukup sejumlah jari di satu tangan. Untuk juara dunia berat.
Satu PR McLaren lagi adalah…mencari pengganti Montoya! Sudah unforced error di kualifikasi, error pula di lomba. Okelah ada kesalahan dalam paket mereka, tapi bila pada dasarnya si pembalap juga kurang fokus, akan begitu jadinya. Lewis Hamilton masuk?

FERRARI
5 Schumi
6 Massa

Massa yang masih muda itu ternyata seperti kebanyakan pembalap Brasil, jadi “The Next Senna” yang selalu dalam tanda kutip. Di kualifikasi payah, di lomba apalagi. Di kualifikasi dia masuk pit 2 lap sebelum Schumi, yang berarti bahan bakar lebih ringan. Tapi lap time-nya kalah 0,5 detik. Dilihat dari sudut apa pun, lap time ini tak masuk akal. Dia pakai ban lebih lembut kok ya amburadul hasilnya. Fastest lap yang ia buat (pertama dalam kariernya) bukan jaminan besar dia bakal aman di Ferrari. Kian terlihat dia memang seperti jadi boneka sepanjang 2006 ini sebelum Ferrari mengumumkan Grand Design mereka untuk 2007. Seperti apa design itu? Tampaknya baru satu kemungkinan besar yang akan terjadi: Schumi bertahan!

TOYOTA
7 Ralf
8 Trulli

Hasil kualifikasi amat menjanjikan. Mereka bisa menempati posisi 6-7 dengan bahan bakar yang banyak. Sayang, kedua pembalap bersenggolan yang diakui mereka sebagai kejadian yang tak disengaja dan mudah untuk saling memaafkan. Dengan bahan bakar banyak, mereka mudah tersusul selepas start. Dan ketika lomba sudah berlangsung normal, pace mereka juga terlihat, maksudnya terlihat pelan sebagai tim yang musim lalu ada di peringkat 4 konstruktor.

9 Webber
10 Rosberg
Rosberg baru kali ini merasakan di-overlap! Pelajaran berharga bagi seorang rookie. Secara umum, Williams jauh dari yang diharapkan, selain memang performa Renault dan Ferrari yang kini jadi patokan utama terlewat hebat. Mungkin benar kata Webber, di Monte Carlo, yang tak butuh kemampuan mobil secara prima, mereka bisa memberikan perlawanan. Tapi, tim-tim papan tengah lain juga berharap sama lho… Satu-satunya hal positif yang bisa diambil dari tim yang di-overlap adalah dua mobil mereka selamat sampai finis walau gak dapat poin karena di urutan 9 (Webber) dan 11.

HONDA
11 Rubens
12 Button

Dengan kondisi bahan bakar yang ada, Honda sekali lagi membuktikan mobil mereka lumayan untuk kualifikasi. Jangan sekali lagi bicara lomba, karena itu akan selalu menyakitkan. Button sudah merasakan ini dan sebelum GP Spanyol dimulai dia sudah bilang, forget Catalunya! Bagaimana gak mau dilupakan wong Button finis hampir semenit di belakang Alonso dan Rubens, lebih parah, di-overlap! Button sebenarnya bisa finis lebih baik dari Kimi kalau sebelum pit stop 1 dia tak tertahan oleh Rubens. Finis 6-7 adalah bekal bagus bagi Honda untuk memantapkan arah development. Artinya, kalau speed di kualifikasi sudah ada, plus mesin bisa terus reliable, pengembangan akan jelas: mencari speed di lomba! Sayangnya, reliability mereka belum terbukti konsisten.

RED BULL
14 DC
15 Klien

GP ke-200 yang hampa bagi DC. Masalah di kualifikasi yang bukan dari dia, masalah juga di lomba yang juga bukan dari dia. Di lomba mobilnya sering nge-rem sendiri dan itu membuatnya tak nyaman. Klien, yang finis ke-13 atau satu titik di depan DC, paling tidak naik dua posisi dari grid-nya. Ini kali pertama dua mobil Red Bull finis setelah GP Bahrain lalu. Sentuhan-sentuhan kecil Adrian Newey sebenarnya sudah terlihat pada free practice Sabtu, di mana DC dan Klien menembus 5 Besar. Sayang, itu tak bertahan di kualifikasi dan lomba.

BMW-SAUBER
16 Heidfeld
17 Villeneuve

Good job! Heidfeld dapat poin lagi, walau cuma satu. Tapi dia kan start dari posisi 10. Yang lumayan sebenarnya Villeneuve, karena dia meloncat 10 posisi, dari 22 (akibat ganti mesin) ke-12. Bahkan, BMW bisa membawa bekal sebagai mesin dengan top speed terbaik kedua setelah Ferrari saat lomba. Massa membuat 317 km/jam, Schumi 314, dan Villeneuve 313, Heidfeld 309. Not bad.

MF1
18 Monteiro
19 Albers

Monteiro lagi-lagi bisa membawa pulang mobilnya dengan selamat sampai finis. Biarpun di urutan 16, tapi kan tetap finis juga namanya. Albers mengalami kerusakan sayap depan dan ia tak kuasa dengan kondisi mobil rusak parah itu untuk kemudian istirahat di garasi.

TORO ROSSO
20 Liuzzi
21 Speed

Double DNF, walau Liuzzi terklasifikasi. Masalahnya dia mengalami kerusakan hidrolis di lap 65 dari 66 lap lomba! Speed sekali lagi bilang “point is possible” kalau gak mengalami kerusakan mesin. Memang, koboi satu ini selalu nyaris dapat poin, katanya.

SUPER AGURI
22 Takuma-san
23 Montagny

Takuma melintir lagi, tapi dia kan bisa finis di mana rekan setimnya tidak. Montagny mengalami kerusakan as roda, sedangkan gara-gara melintir itu Takuma drop ke urutan paling buncit. Kalau tidak melintir? Mungkin, posisi terakhir…

Well, Spanyol memang mendominasi olahraga selama sepekan terakhir. Setelah Sevilla mempermalukan Middlesbrough 4-0 di final Piala UEFA, lalu Hector Barbera dan Daniel Pedrosa menang di 250 cc dan Motogp di GP Cina, Alonso di F-1, dan di tenis Roma Masters Rafael Nadal yang walau sudah two-match-point bagi Roger Federer tapi mampu membalikkan keadaan dan meneruskan kemenangannya atas jagoan Swiss itu, rasanya tinggal satu nama lagi yang akan melengkapi pesta mereka: FC Barcelona menang di Liga Champion Rabu ini. Kalau itu terjadi, kayaknya Raja Juan Carlos mesti mengundang makan semua jawara-jawara hebat ini.

from many sources,

Arief Kurniawan
SPORTS NEWS

Liga Media 2008
TV ONE TUNDUKAN KOMPAS

Liga Medco U-15
SUMBAR TERTAHAN

Semifinal Play-Off NBA
CELTICS DAN LAKERS BUKA PELUANG

Final Piala UEFA
ZENIT TUNTASKAN RANGERS

LIGA MEDCO U-15
JABAR LOLOS PERTAMA

PSMS
AYAM KINANTAN MASIH BERKOKOK

Liga Medco U-15
JATENG MEMBURU KALBAR

Piala Medco U-15
JATENG OPTIMISTIS

PSMS
MULAI MENATA DIRI

Persib
JAIRON MERAGUKAN

ARSIP

Round 14 - 27/08/2006 - Turki, Istanbul
PRE-ISTANBUL: HIDUP LAGI

Round 13 - 06/08/2006 - Hungary, Hungaroring
PRE-HUNGARORING: BERJUDI

Round 8 – 11/06/2006 Great Britain, Silverstone
PRE-SILVERSTONE: DEMAM

Round 7 – 28/05/2006 Monaco, Monte Carlo
POST-MONTE CARLO: KEJUJURAN

Round 7 – 28/05/2006 Monaco, Monte Carlo
PRE-MONTE CARLO: IMBANG

Berita Lainnya ...

 

© BolaNews.com - Logo and web content are trademarks of PT.Tunas Bola. All rights reserved.
Developed by WEBPACIFIC